Menapak Jalan ke Kebon Sirih

Dari lahir sampai hari ini tak putus doa orang tua agar saya menjadi orang yang berguna. Saat kecil disekolahkan sampai sarjana. Setelah bisa cari uang, sekolah sendiri sampai bergelar doktor. Semua dengan niat bisa menebar kebaikan pada sesama.

Saya beruntung. Diberikan jalan nasib yang baik. Bisa tamat dari universitas ternama di Indonesia. IPB untuk S1 dan UI untuk S2 dan S3. Bahkan punya juga kesempatan juga untuk kuliah di MIT, Cambridge dalam suatu program tanpa gelar.

Yang saya bisa kembalikan ke masyarakat baru berupa pembukaan lapangan kerja yang tidak seberapa di perusahaan saya. Berdiri sejak tahun 1999.

Atau mahasiswa-mahasiswa yang bertambah wawasan dan pengetahuannya saat saya mengajar. Sejak tahun 2009. Tidak banyak.

Sungguh, saya masih banyak berutang pada nasib baik yang saya miliki. Privilege sebagai orang yang lahir di keluarga kelas menengah.

Begitulah sejak sekitar 6 tahun yang lalu saya terlibat dalam usaha mencerahkan pikiran publik dalam persoalan sosial politik. Beradu pemikiran bukan untuk menepuk dada saya benar dan anda salah. Tapi untuk mencari jalan agar masyarakat bisa bertambah baik.

Menjadi anggota partai politik adalah langkah pertama untuk membayar utang privilege saya pada masyarakat. Saya resmi menjadi anggota Partai Demokrat pada tanggal 4 September 2017.
Waktunya untuk bertindak di lapangan dan bukan hanya dari balik pena

Saya masuk dalam struktur Kogasma dibawah pimpinan AHY. Berjuang untuk memenangkan Partai Demokrat dalam pemilu legislatif. Tentu saja saya ada di sana sebagai kroco. Namun, masa itu adalah pengalaman yang menakjubkan. Ada energi besar yang sedang terakumulasi di sana. Jiwa-jiwa muda yang percaya bahwa bangsa ini bisa bangkit melalui kepemimpinan yang cerdas dan kuat. AHY.

Namun jangan keliru. Partai Demokrat bukan kendaraan AHY. Kalaupun jadi kendaraan, yang akan diantarkan oleh Partai Demokrat adalah seluruh rakyat Indonesia. Menuju cita-cita kemerdekaannya.

Demikianlah maka sebagai kader saya harus tegak lurus pada pimpinan. Ikut berupaya untuk melindungi warga, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Semampunya. Dalam batas daerah pengabdian.

Sejak saya punya KTP Jakarta di pertengah tahun 80 an, saya punya hubungan cinta dan benci pada kota ini. Begitu banyak harapan yang tumbuh. Begitu banyak mimpi yang karam. Di kota ini saya ditempa banyak hal. Keras dan kadang tidak punya maaf.

Lima atau enam tahun lalu saya mulai berfikir. Kalau kota ini bisa seganas ini terhadap orang dengan privilege seperti saya, apa kabarnya mereka yang ada di bawah? Mereka benar-benar dilindas deru pembangunan.

Jakarta saat itu hanya mengagungkan pemenang. Kaum bermobil pribadi yang bisa melenggang di jalur cepat. Sementara bus, metromini dan sepeda motor berhimpitan di jalur lambat. Begitulah Jakarta menciptakan kasta bagi warganya.

Tahun 2017 angin perubahan berhembus kencang. Maju kotanya. Bahagia warganya. Jalur cepat dan lambat di Sudirman Thamrin dilebur jadi satu. Trotoar dibuat selebar-lebarnya untuk pejalan kaki. Jakarta tanpa kasta.

Sejak itu saya mendapati Jakarta yang berbeda. Jakarta yang lebih ramah terhadap masyarakat kelas bawah. Jakarta yang mengintegrasikan angkutannya agar warga nyaman berpindah. Jakarta yang membuka ruang untuk berinteraksi dengan taman-taman publiknya. Jakarta yang lebih manusiawi.

Namun keserakahan oligarki tidak akan mungkin bisa hilang. Hari ini mereka sedang kalah di Jakarta tapi bukan tidak mungkin akan bangkit kembali. Upaya-upaya pembusukan karakter terus dilakukan pada Gubernur saat ini. Tentu saja dengan tujuan mereka kembali berjaya. Mengkotak-kotakkan Jakarta. Karena mereka merasa tidak perlu menenggang yang miskin.

Saya tidak ingin hal itu terjadi. Saya ingin menjaga legacy ini. Sekaligus memenuhi amanat Ketua Umum kami, AHY. Kami kader demokrat harus berkoalisi dengan rakyat. Derita mereka adalah tangisan kami. Kebahagiaan mereka menerbitkan senyum bagi kami.

Tahun 2024 akan segera datang. Saatnya saya sebagai kader untuk berjuang memenangkan kembali Partai Demokrat di DKI Jaya. Saya belum tahu penugasannya. Namun semangat telah dinyalakan.

Kebon Sirih, kami akan datang.

Jakarta 1, Januari 2022.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

1 Response to Menapak Jalan ke Kebon Sirih

  1. Tama says:

    Selamat dan semoga sukses untuk Om Awe.. nanti di Jakbar ya Om.. nanti saya pilih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s