Meluruskan pikiran tentang model bisnis ojek online

Masalah ojek online atau transport online ini memang susah tidak mudah. Di satu sisi kita memiliki alternatif transportasi selain kendaraan pribadi dan umum. Di lain sisi ojek online ini menyisakan banyak persoalan dari mulai perlindungan tenaga kerja sampai dengan ketidakdisiplinan pengendara ojek online yang merusak tata kota.

Dalam membenahi ojek online ini diperlukan pendekatan yang konsisten tentang model bisnisnya. Baik pemerintah, penyelenggara applikasi ojek online dan mitra ojek online harus memiliki kesepemahaman. Dari situ merencanakan dan menentukan yang terbaik bagi seluruh stake holder. Ujungnya pasti ada kompromi. Tapi bukan pemaksaan pihak-pihak yang lebih kuasa

Kekeliruan pertama itu saat menganggap Gojek dkk itu sebagai perusahaan transportasi. Repot.

Mereka bukan perusahaan transportasi. Dalam istilah marketing mereka itu adalah market place. Tempat bertemunya penyedia jasa/produk dengan konsumen. Applikasi digital digunakan untuk mempermudah pertemuan itu. Dalam dunia off line, applikasi itu bertindak seperti supermarket, toko atau bahkan mall. Tergantung pada rentang kategori yang mereka perdagangkan.

Anda mudah menemukan analogi Tokopedia, Buka Lapak dan lainnya dengan market place yang tadi dijelaskan. Karena anda tahu tiap toko di situ bisa pasang harga sendiri. Tepat sama seperti mall. Yang punya toko bisa pasang harga sendiri.

Bagi supermarket atau grosir analoginya akan sedikit bergeser karena mereka membeli kepada principal dengan harga tertentu untuk kemudian menentukan harga sendiri. Tapi umumnya berada dalam rentang harga yang ditentukan principal.

Pilihan Gojek dkk adalah menggunakan model bisnis mall terhadap toko dimana mereka mengambil harga sewa yg tetap. Atau menggunakan model bisnis supermarket di mana mereka beli jasa dari ojek online secara gelondongan lalu menjualnya secara retail. Tetap saja Gojek dkk itu bukan perusahaan transportasi.

Masalahnya, cara Gojek dkk hari ini menjalankan bisnisnya tidak konsisten dengan model bisnis sebagai market place. Dia melakukan penyeragaman harga baik terhadap harga beli maupun harga jual. Meletakkan mitranya seperti karyawan namun tanpa perlindungan ketenagakerjaan yang disyaratkan undang-undang. Matik.

Kalau ingin bebas dari kewajiban ketenagakerjaan ya harus benar-benar memperlakukan pengemudi online sebagai mitra. Apa itu? Kebebasan bagi mitra untuk menawarkan harga. Baik untuk model bisnis seperti mall (harga ke konsumen) atau supermarket (harga ke pemilik supermarket/toko).

Hubungan mall dan supermarket ke vendornya itu bisnis to bisnis. Bukan seperti Gojek dkk ke mitra yang mirip dengan hubungan karyawan. Bisnis kepada individual. Kalau ingin konsisten ya Gojek dkk itu harus diatur agar bisnis to bisnis.

Jika pilihan analoginya adalah supermarket maka mitra-mitra Gojek dkk perlu untuk membangun koperasi-koperasi. Saat anggotanya besar mereka bisa memiliki posisi tawar yang cukup untuk menegosiasikan harga beli.

Jika pilihan analoginya adalah mall maka berikan kebebasan bagi setiap pengemudi ojek online untuk menawarkan harga. Saat ada permintaan, drivernya nge-bid harga. Yg paling murah yg disambungkan ke konsumen. Let’s say bidding 1-2 menit. Fair.

Pembentukan koperasi-koperasi bagi ojek online ini bisa juga jadi vehicle untuk melindungi para pengemudi online. Mereka bisa mengatur pungutan untuk menjamin kesejahteraan dan perlindungan anggotanya. Di sisi lain mereka juga bisa melakukan pembatasan jumlah anggota untuk memastikan tidak terjadi over supply. Kalau ada, misalnya, 100 koperasi yang terdaftar di satu kota, tidak akan terjadi juga kartel supplier. Win-win.

Dalam konteks UU ketenagakerjaan, bebannya akan berpindah ke koperasi-koperasi para mitra. Namun pemerintah bisa saja memberi insentif pada Gojek dkk untuk turut menanggung. Bisa dengan keringanan pajak dan lain-lain. Bagaimanapun Gojek telah membantu pemerintah menyerap tenaga kerja.

Pada akhirnya kita menginginkan suatu model bisnis yang mampu untuk menjadi kompromi terbaik bagi semua stake holder. Saya kira mulainya dengan meluruskan pikiran. Akur?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s