Paska Pilpres. Arang atau abu. Masak pilihannya itu?

Paska pilpres ketegangan dan polarisasi sosial tidak juga menurun. Perseteruan beralih pada debat tentang kualitas penyelenggaraan pemilu dan keraguan akan legitimasinya. Sampai tanggal 22 Mei nanti, media kita akan terus disibukkan dengan bahasan tentang kecurangan pemilu oleh kubu 01 vs tuduhan bahwa kubu 02 tidak bisa menerima kekalahan. Rungsing.

Saya kira ada baiknya kita berfikir sejenak. Melihat kembali apa yang kita inginkan dari semua keributan ini. Kalau anda adalah orang seperti saya, yang kita inginkan selalu Indonesia yg lebih baik. Kita pertahankan atau ganti presiden dan pemerintahannya itu ya dengan itikad sesederhana itu. Perselisihan dan perseteruan ini jelas tidak menuju ke sana.

Berulang saya katakan bahwa setiap kontestasi itu pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Karenanya, jangan sampai menang jadi arang dan kalah jadi abu. Kita pastikan bahwa selalu ada jalan yang bisa membawa pada proses rekonsiliasi. Melupakan perselisihan dan kembali pada tujuan awal.

Tentang polarisasi masyarakat itu sendiri, saya khawatir ada yang lebih dalam daripada sekedar pilpres. Sungguhpun agitasi selama pilkada DKI dan pilpres ini bagai membuka kotak pandora, namun isi dalam kotak pandora itu memang sudah terbentuk. Merasa orang yang berbeda pandang sebagai ancaman atau sumber derita. Fakta yang dari dulu kita ingin tutup mata.

Modernisasi dan globalisasi ini memang menimbulkan anxiety pada kaum konservatif relijius di manapun tak terkecuali di Indonesia. Bukan karena mereka tidak ingin maju, tapi tujuan hidup mereka memang berbeda dengan mereka yang mendefinisikan dirinya sebagai liberal. Hidup di dunia tidak sepenting kehidupan di akhirat. Dan kalau kita tidak mau memahami ini ya runyam perkara.

Di lain sisi, struktur masyarakat yang terbentuk sejak jaman penjajahan tidak banyak berubah. Kaum elite di Indonesia kira-kira terbagi atas 4 komponen yang masih itu-itu juga. Golongan terdidik dengan orientasi barat, patron dari kekuatan feodal adat dan agama, pedagang atau pengusaha china/arab/timur jauh dan tentara. Sementara mobilitas sosial masyarakat menengah ke bawah untuk menjadi kekuatan baru tidak terjadi juga. Ini menyisakan sentimen yang besar. Merdeka buat apa?

Dalam konteks kekecewaan atas janji-janji kemerdekaan inilah konservatisme relijius mengeras. Ketidakadilan sosial, kemakmuran hanya untuk sebagian golongan dan moralitas yg bertumpu pada materialisme adalah bara api dalam setiap persinggungan dengan golongan-golongan elit ini. Hanya kepada Tuhan, mereka memohon pertolongan.

Para liberal ngehek ini tidak mau melihat itu. Mereka sibuk meminta haknya tanpa sadar bahwa mereka sudah hidup dengan privilege. Dan pada saat haknya ditahan, dengan kekuatan media mereka menuding orang fanatik dan radikal. Di mana mau ketemu?

Yang menjadikan suasana panas memang sosial media. Kita tidak bisa membatasi orang-oang bodoh untuk mengekspresikan kegeraman. Di kedua orbit polarisasi. Yang satu dengan ringan mulut menyebut kafir dan seterusnya, yang lain terus menyinggung identitas dan menertawakan. Apa yang dicari dengan membuat lelocon seperti Take beer? Atau sepatu Adisomad?

Pada akhirnya, kedua belah pihak harus paham bahwa mereka hidup pada masyarakat yang sama. Perbedaan kepentingan itu dijembatani oleh perangkat negara. Ada eksekutif, legislatif dan yudikatif. Hukum memang harus jadi panglima. Pemerintahan yang terpilih nantinya harus menyadari ini. Jangan hanya tajam ke lawan tapi tumpul ke kawan.

Sementara kita terus menunggu rekonsiliasi di tingkat elit, kita yang di bawah juga harus memulai hal yang sama. Kita cukupkan pertengkaran pada masa pilkada dan pilpres lalu kita buka agenda lama. Merdeka ini buat apa?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s