Tentang Kawan

By : Tuan Wahai

Tidaklah mudah menuliskan semua ini tanpa dituding sebagai buzzer. Dan tak mudah juga mengeritik kawan sendiri tanpa dipelototi pas ngopi cantik. Seperti mendayung di antara dua karang.

Tapi baiklah kita ambil risiko itu, supaya dengan begitu kita menjadi tahu apakah tiap-tiap narasi punya arti, atau gerundelan saja.

Saya cukup lama mengenal Dita Indah Sari. Pertemanan kami diwarnai banyak diskusi, tentang apa saja. Satu kali tentang buruh, atau tenaga kerja. Kali lain tentang hidup, atau tentang Tuhan. Kami sesekali berdebat.

Satu yang saya camkan dengan baik adalah kisahnya dipenjara 12 kali, di LP Medaeng. Ditendang, dipukul, dihardik, dijambak, oleh serdadu. Lara hatinya ketika ibunya tak sempat menjenguknya karena lebih dulu dipanggil Tuhan, dalam perjalanan menuju penjara. Saya tahu dia luka. Sekeras apa pun dia berusaha menyembunyikannya.

Dita menerima Ramon Magsaysay Awards pada tahun 2001. Di tahun yang sama, Reebook juga memberikannya penghargaan serupa, tapi ditolaknya karena terbukti raksasa sepatu itu mempekerjakan anak di bawah umur, dus upah yg minim.

Dita Indah Sari maju menjadi caleg dari PKB Dapil Sumut 1, dengan nomor urut 1. Wilayah dapilnya meliputi Medan, Serdang Bedagai, Deliserdang, dan Tebing-Tinggi Deli. Saya sempat ikut dalam diskusi merumuskan apa-apa yang dibutuhkan konstituennya kelak dia berkantor di Senayan. Fokusnya petani, nelayan, dan pekerja sektor informal lainnya. Ini triumvirat yang dia sangat memahami. Seperti pulang kampung, katanya kala itu. Dita memang lahir di Medan.

Dita harus ke Senayan. Bukan supaya dia menjadi anggota dewan lalu bolos hadir karena kebanyakan main twitter. Tapi supaya triumvirat itu punya kans untuk keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Supaya mereka punya harapan, supaya suara mereka didengar. Supaya mereka punya harga diri dan menampik dibayar 100 ribu rupiah oleh caleg lain yang bahkan Sungai Titi Padang yang menjadi jantung kota Tebing-Tinggi Deli pun mereka tak tahu.

Ya, saya ingin Dita ke Senayan. Supaya ada warna lain di 560 orang itu. Supaya caleg lain yang wangi dan mbois tapi tak pernah turba itu, tak punya kesempatan lagi menggerogoti negeri ini. Kita harus sudahi caleg kaleng-kaleng yang rekam jejaknya pun kita tak pernah tahu.

Kita harus kirim Dita ke Senayan.

Saya kenal Reiza Patters dari timeline, sering diskusi malam-malam. Lalu janji bersua, melanjutkan diskusi tentang Jakarta. Reiza lawan debat yang tangguh, mau mendengar. Dia berkeringat.

Reiza maju menuju kursi DPRD DKI Jakarta dari Partai Demokrat. Dapilnya Jakarta 8, dengan nomor urut 9. Dia anak muda yang tangguh, dan tak punya utang politik ke siapa pun. Kelak dia akan menjadi wakil saya di DPRD DKI, sambil berharap ada hal-hal konkret yang bisa didorongnya. Kapasitasnya otentik, dan staminanya menyala. Memenangkan Pak Anies dan Pak Sandi Uno adalah salah-satu kontribusinya.

Ya, saya ingin Reiza ke DPRD DKI. Kota ini membutuhkannya.

Kawan saya ini orang yang paling mudah dijumpai saban pagi. Suka becanda dan berkelakar. Dia menampik yang ndakik-ndakik, yang tak membumi. Namanya Kokok H. Dirgantoro. Caleg DPR RI dari PSI dapil Banten 3 dengan nomor urut 2. Wilayah kerjanya Tangsel, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang.

Kokok mengambil perhatian publik ketika dia datang dengan gagasan cuti melahirkan selama 6 bulan. Sontak gagasan ini mendapat sambutan luas. Timeline pernah riuh membahas gagasan ini, tuntas dan trengginas. Sampai kemudian sebagai CEO dia memberlakukan gagasan itu di kantornya.

Sejak mencari caleg, saya kehilangan Kokok. Tentu saja saya ingin Kokok yang dulu, yang tumakninah.

Dan ya, saya ingin Kokok ke Senayan. Bukan supaya dia menjadi lebih sibuk, tapi supaya keterwakilan perempuan bukan hanya pada angka 30 persen, tapi mengkonkretkan apa-apa yang dibutuhkan wanita pekerja. Cuti melahirkan selama 6 bulan itu gagasan konkret.

Tentu saja mereka tak sempurna. Karena itulah mereka tetap menjadi manusia, dan bisa dijangkau. Kelemahan dari mereka bertiga adalah sama-sama tak punya banyak uang. Dan saya pun ragu tulisan ini akan diganjar dengan segelas kopi, atau makan siang, dari mereka. Agak jauh itu.

Tapi mereka harus jadi. Bukan karena kami berteman, tapi supaya anak mami gombal yang necis dan wangi itu, yang seolah-olah paham tentang kita, tak lagi merasa pantas duduk di situ. Kita harus menyapih emas dari loyang, sekarang.

Tentu saja mereka bertiga tak cukup tenaga. Masih ada kawan-kawan caleg lain yang bagus mutunya. Yang gagasannya masuk akal dan bisa dipraktikkan. Pilih mereka. Kalau terbukti kaleng-kaleng juga seperti yang sekarang, kita tampar sama-sama.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s