Tentang Kita

By : Tuan Wahai

Seorang kawan, seorang perempuan, yang memilih berpisah supaya dia tak disiksa lagi, memutuskan mengakhiri hidupnya: mengiris nadi. Darahnya menganak sungai, kental sungguh. Anaknya masuk kamar, bermaksud pinjam handphone untuk tetering, kemudian menjerit.

Hampir dua bulan lalu, belum jauh itu. Salah seorang dari netijen tahu persis kisah ini.

Cepat-cepat dia dibawa ke rumah sakit, di pinggiran Jakarta. Dua jam kemudian saya tiba. Langit mendung, dan murung.

Perawat dan dokter bergegas, adu cepat dengan bagian admission. Harus ada penjamin, harus ada jaminan. Tuhan bukan kolateral.

Malam itu sisa uang 35 ribu rupiah. Bersama dua anaknya yang sudah kuliah, kami makan besar. Titip KTP dan STNK. Sambil menyeruput kopi, di parkiran rumah sakit yang dingin, saya gamang berkata begini: biaya UAS nanti Om yang bayarin.

Mereka tahu saya omong-kosong. Kiwari, anak zaman now semakin susah dibohongi. Harusnya mudah.

Seorang kawan, seorang yang merasa terasing dan asing, memilih jalan pintas. Dia tidak miskin, baidewe. Dia pebisnis, terpelajar, wangi dan masyhur. Kesalahan satu-satunya adalah dia berharap didengar. Dia berharap tiap-tiap keluarga seperti Khong Guan.

Alih-alih dibantu untuk dua minggu saja bridging, dia justru diceramahi. Disuruh sholat, disuruh istiqomah, disuruh bersabar dalam kesempitan, disuruh memeriksa dosa-dosa besar apa saja yang pernah dilakukannya di masa lalu, disuruh tawakal, disuruh tobat, disuruh menutup aurat, disuruh menambah ibadah. Dia disuruh menjadi tabi’ut tabi’in.

Ahsiap, tentu saja dia melakukan semua itu. Dia pun berharap bisa sedikit menyerupai Khadijah. Sepertiga malam dihabiskannya dengan air mata, dan khatam Quran. Dia tidak kafir. Tapi juga bukan tabi’in.

Yang dia terima kemudian nasihat, pelipur lara, lalu jadi objek gibah. Di lingkungan keluarganya. Teman-temannya? Sebelas duabelas: mendengar kisahnya penuh takjim, bersimpati sebentar, lalu hilang entah kemana. Kemudian dia tahu dijadikan bahan gibah dengan bungkus yang sangat lembut: belas kasihan.

Begitulah, Tuhan itu baik ketika kita sedang baik-baik. Dia ada nun di sana, sesekali dekat dengan kerongkongan. Tapi yang sedang dialami kawan saya bukan tentang semua itu. Bukan sisik-melik hadist, khilaf di antara empat mazhab dan berlapang dada atasnya. Bukan pula tentang jhar atau sir, qunut tak qunut, cingkrang atau jenggot, salafi, dan fakta bahwa apa-apa yang tak dilakukan Nabi tak otomatis bid’ah.

Semua ini tidak tentang itu.

Dia tak didengar, dia tak dikasih waktu untuk didengar. Dia diceramahi, dengan serentetan peringatan untuk sholat seolah-olah Tuhan adalah kasir. Kita telah membunuhnya. Dengan meminjam tangan Tuhan.

Kabar buruknya dia tak sendiri. Ada dua orang lagi yang mulai yakin Tuhan terlalu jauh untuk bisa dijangkau. Maka kepada kalian yang saya sering mengirimkan WA, sebagian uang itu untuk kami makan sama-sama. Lezat rasanya.

Hatta, kepada kalian yang sedang kesulitan sendirian di luar sana, yang tersingkir atau disingkirkan, jangan pilih jalan gelap itu. Kita harus bicara. Karena saya tahu rasanya. Nanti saya mintai lagi uang ke mereka, untuk kita makan-makan.

Allahuma yassir walaa tu’assir

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s