Revolusi industri 4.0 : Apa hakikatnya dan di mana kita harus berdiri.

Bagaimana kita harus menyikapi revolusi industri 4.0? Saya kira ini pertanyaan penting bagi kita sebagai bangsa. Karena suka atau tidak suka kemajuan itu akan datang dan sangat berpotensi memperlebar jurang ketidakadilan.

Tehnologi apapun harusnya berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia. Ongkosnya bisa banyak. Ada persoalan lingkungan, pergeseran pekerjaan yang dianggap bernilai, ketidakadilan bahkan sampai dengan penjajahan.

Apapun inovasi dalam tehnologi itu.

By definition, Indonesia masih jauh dari sana. Namun kita segera bersaing dengan negara-negara yang telah masuk ke industri itu. Secara teoritis, revolusi industri 4.0 ini akan memampukan mereka untuk menghasilkan produk yg lebih superior dengan harga yang lebih murah. Kenapa?

Penguasaan atas informasi melalui jaringan internet akan memberi mereka akses pada kebutuhan pasar. Saya gunakan kata pasar di sini untuk melingkup konsumen dan market place. Mereka bisa punya “complete” information tentang siapa, butuh apa, kapan dan di mana. Kemampuan ini ketika ongkosnya sudah murah akan menggerakkan pasar secara berlipat.

Penguasaan tehnologi robotic akan membawa pada konsistensi kualitas produk atau jasa. Berbeda dengan manusia yang memiliki mood atau tingkat energi yang bisa berubah dengan cepat, robot diprogram dengan tujuan-tujuan yang terdefinisi dengan baik. Outputnya tidak bergeser. Dengan artificial intelligent, robot-robot itu sekarang dilengkapi dengan kemampuan beradaptasi dan belajar. Mereka bisa menghasilkan output yang sama bahkan dalam kondisi-kondisi yang tidak pernah mereka hadapi.

Output yang dihasilkan robot-robot ini sekarang jangan cuma dibayangkan sebagai barang jadi. Artificial intelligent itu dengan cepat bisa menggantikan tugas manajer dalam mengambil keputusan. Dengan kapasitas memori dan kecepatan proses berfikir para robot itu, manusia bisa tidak lagi diperlukan dalam proses produksi. Berapa lama lagi? Kita tidak tahu. But soon.

Yang menjadi masalah, selalu, adalah ketamakan. Tehnologi ini dimiliki oleh para kapitalis. Berbeda dengan ilmuwan, tujuan mereka adalah menciptakan laba. Dan memastikan bahwa laba itu diputar untuk kepentingan mereka.

Mereka bisa bertarung dalam jangka waktu yang lama. Kita, di sisi lain, hidup dari hari ke hari. Mereka bisa mematikan usaha kita dengan menjual semurah-murahnya. Saat tidak ada lagi yang mampu bersaing dan mati, mereka mulai menaikkan harga setinggi mungkin. Ini bukan taktik baru.

Dunia yang bisa tercipta adalah dunia di mana kepemilikan tehnologi dan tentunya laba yang bisa diperoleh dari tehnologi itu terkonsentrasi pada suatu oligarki. Sebagai contoh, tidak akan ada ribuan perusahaan yg serupa dengan Go-Jek. Kita mungkin masih akan melihat 5-10 perusahaan applikasi transportasi dan itu akan cukup untuk membentuk kartel. Harga yang terbentuk adalah harga kartel bukan harga kompetisi sempurna.

Anda mungkin tidak berkeberatan dengan Go-Jek karena kita bicara tentang market place. Semua bisa ikut punya akses ke sana. Tapi coba anda bayangkan insulin. Di mana hanya ada sedikit produsen insulin di dunia ini. Harganya tidak pernah turun pada tingkat kompetisi sempurna. Selisih itulah yang kita bayar sebagai masyarakat.

Tanpa adanya peran pemerintah, sebenarnya kita sudah bisa mulai membayangkan apa yang terjadi. Para pioneer revolusi industri akan menyapu kompetitornya. Dan karena akses pada tehnologi ini terbatas maka hanya akan tersisa oligarki-oligarki kapitalis. Kita semua akan hidup dalam belas kasihan oligarki-oligarki ini. Kita dibiarkan hidup semata agar kita bisa jadi sekrup yang akhirnya mereka perah untuk menghasilkan laba. Baik sebagai pekerja atau konsumen. Mau?

Saat orang membahas tentang revolusi industri sering orang hanya terpukau pada tehnologinya. Ada akun di TL yang begitu bersemangat untuk bercerita detail tentang kemajuan-kemajuan yang sedang terjadi. Pakai bahasa yang rumit-rumit supaya keliatan jago. Padahal yang harusnya dibahas itu adalah soal industrinya. Karena dampak ekonomi, sosial dan politis itu terletak pada pemanfaatan semua tehnologi itu bagi industri.

Kebijakan pemerintah selalu tentang mengarahkan dampak ini menjadi positip bagi bangsa. Melindungi mereka yang akan dimakan oleh industrialisasi berbasis tehnologi robotic, artificial intelligent, internet of things dan internet system. Di sinilah keberpihakan itu diperlukan.

Unicorn yang dibahas dalam debat pilpres kemarin adalah market place. Hanya sebagian kecil dari mata rantai industri 4.0. Saat Jokowi bertanya tentang infrastruktur apa yg ingin dibangun Prabowo untuk mendukung unicorn-unicorn ini, secara tidak langsung Jokowi bertanya bagaimana kita akan menyediakan diri sebagai pasar dunia. Faktanya produk yang dijual atau terlibat dalam pasar itu bukan produksi kita. Saya baca 60% nya masih produk import. Bahkan mitra Go-Jek pun punya kendaraan-kendaraan yang boleh dikatakan merk asing. Jadi keberadaan unicorn ini ya masih untuk kepentingan asing.

Prabowo terlihat tidak terlalu menguasai persoalan unicorn ini. Namun secara intuitif, beliau benar. Ini persoalan orang lain mengeruk keuntungan dari pasar Indonesia. Apa iya kita harus mendukung itu tanpa sebelumnya menyediakan rambu-rambu perlindungan?

Kalau saya bicara perlindungan, saya tahu bahwa orang segera berfikir saya bagian dari rezim proteksionis. Tidak. Pemikiran saya selalu dilandasi dengan fair trade. Bentuk perlindungannya ada pada fairness tersebut. Dalam terminologi fairness atau adil itu kita tidak bisa semata-mata berpegang pada kaidah effisiensi. Nanti yang menang cuma yang kaya dan pintar.

Jadi, saya tentu tidak tertarik untuk mendukung infrastruktur bagi unicorn. Mereka sudah kaya dan pintar. Infrastruktur yang saya ingin persiapkan adalah akses UMKM kedalam market place itu. Kalau perlu bukan cuma infrastrukturnya tapi suprastrukturnya. Agar tumbuh bersama, saya akan beri insentif fiscal saat unicorn tersebut mampu memperlihatkan sumbangannya pada UMKM. Bahasa sederhananya jika omset UMKM melebihi suatu persentase tertentu dalam platform unicorn itu, saya kasih keringanan pajak. Kira-kira begitu.

Dalam konteks industri 4.0, kita akan bicara tentang strategi yang sama. Saya tidak akan mendukung pelaku industri untuk bergeser ke 4.0. Kalau mereka mampu artinya mereka sudah kaya dan pintar.

Persoalannya adalah menyiapkan pekerja dan pengusaha kecil agar mereka tidak tersingkir dengan industri 4.0 tersebut. Tugas yang berat karena sudah di depan mata sedangkan sumberdaya kita masih jauh tertinggal.

Bottom line, menghadapi industri 4.0 ini kita harus tahu di mana harus berdiri. Di sisi para Unicorn atau pada usaha UMKM? Di sisi pelaku industri 4.0 atau di sisi pekerja dan pengusaha kecil. Anda di mana?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

1 Response to Revolusi industri 4.0 : Apa hakikatnya dan di mana kita harus berdiri.

  1. Tya says:

    Salam kenal,
    Pandangan yg menarik & obyektif om awe, unicorn adlh bagian kecil dr kmpleksnya persoalan negara ini . Sy jg bingung knp org2 segitunya bangga2in para unicorn, pdhl yg bikin mreka bs menguasai hmpr semua pasar adlh investor asing. Bhkn sy prnh belanja lgs dr slh satu MP, tnpa sadar trnyta tuh brg lgs dikirim dr China *lol

    Kl utk ukm yg gabung di MP, mngkn hrs disisir dlu sbrapa efektif peningkatan omset mreka, scra persaingan di dlmny udh mkin gila. Tentu, ini bkn krn anti MP, tp ukm jg hrs pinter2 mghadapi era smcm ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s