Betapa anunya nalar ke-Jokowi-an kalian.

Saya melihat kontestasi politik kita sudah dalam tahap yang mencemaskan. Ini bukan cuma soal benturan horisontal. Ini juga soal rusaknya akal sehat yang tidak akan pulih dengan berakhirnya pilpres 2019. Suram.

Mari kita letakkan kembali masalah dalam tempatnya. Jokowi itu presiden. Bukan simbol perlawanan terhadap hantu-hantu. Bukan juga hantu itu sendiri. Jangan mendekati persoalan pilpres dengan sentimen-sentimen yang memang memiliki akar dalam masyarakat.

Sebagai Presiden, KPI nya itu ada empat. Apakah beliau berhasil melindungi segenap bangsa Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan ikut melaksanakan ketertiban dunia? Basis kontes politiknya ya harus ini.

Masyarakat itu ya punya agenda masing-masing. Menguatkan pengaruh dan kekuasaan melalui proses politik. Wajar. Namun dalam konteks pilkada atau pilpres polarisasinya itu harusnya cair. Toh ideologi tidak memiliki akar pada partai dan figure. Kelakuan politisi apalagi.

Anda pikir Jokowi pro kesetaraan? Coba minta Jokowi nyatakan dukungannya pada LBGT. Ngga akan berani. Paling jauh akan bilang sesuatu yang normatif. Tegakkan hukum. Jangan main hakim sendiri. Semacam itu.

Anda pikir Jokowi pro orang miskin? Dari awal sudah memotong banyak program SBY yg pro miskin. Subsidi-subsidi dicabut/dikurangi, BLT dihentikan, TKA dipermudah. Blio bangun bandara-bandara dan jalan tol mahal buat yang punya duit.

Anda pikir Jokowi progresif? Lihat aja kemampuan mentri-mentrinya dalam hal yang terkait ekonomi digital. Urusan online transportation saja tidak beres-beres mendudukkannya. Jangan tanya soal kemenkominfo. Ngehek abis. Bekraf apa kabarnya?

Tapi, musuh-musuh politiknya ya belum punya tawaran yang lebih baik juga. Usulan-usulannya masih normatif dan diawang-awang juga. Apalagi Gerindra+PKS dkk. Sibuk osang aseng ngga jelas. Utang yang dibilang gede itu mau diapain juga bingung. Suram.

Kalau Demokrat masih lumayanlah. Ada jejak program-program SBY yang bisa dilihat dan dijanjikan kembali untuk dilakukan. Program-program SBY yang baik ditingkatkan. Yang buruk diperbaiki atau dibuang. Masih ada harapan untuk berdiskusi secara pintar.

Ketiadaan tawaran program oposisi ini, secara natural akan mengalihkan kontes pada persoalan sentimen-sentimen antar kelompok masyarakat. Buat oposisi berguna. Buat inkumben tidak. Tololnya, kok diikutin mainnya?

Gerindra+PKS dkk memang perlu sekali untuk bicara soal umat Islam. Tapi kubu Jokowi tidak punya kepentingan melayani. Apalagi bawa-bawa bhineka. Ini hanya memberi jalan untuk menciptakan polarisasi yang semakin tidak sehat. Yang mengantarkan kita pada hari ini.

Pendukung Jokowi itu begitu takutnya bahwa narasi Jokowi musuh Islam itu akan berhasil. Sehingga merasa perlu membangun narasi tandingan. Padahal kalau mereka membaca data dengan benar, itu cuma kekhawatiran kosong. Tapi tindakan melawan narasi itu yang justru jadi problem.

Anda lihat sendiri. Apakah sebelum 411, ada teriakan “Hentikan kriminalisasi ulama?”. Apakah ada orang yg menilai penegakan hukum memihak pada kelompok pro Jokowi? Semua ini ekses akibat memainkan narasi bhineka sebagai lawan narasi Islam.

Pembelahannya di masyarakat juga terlihat dari upaya saling melaporkan. Ini juga yg berakhir pada persepsi hukum tidak adil itu. Nyata terlihat perlakuan yang berbeda. Dan ini semua adalah beban bagi rezim Jokowi. Beban yang tidak perlu.

Hemat saya, narasi Jokowi musuh Islam itu tidak perlu dilawan dengan narasi tandingan. Biarkan saja. Tunjukkan saja dengan tindakan atau kebijakan yang tidak diskriminatif. Kebijakan-kebijakan yg tidak memberi sangkutan bagi klaim itu. Amunisinya juga bakal abis.

Sepanjang itu selalu diramaikan, selalu saja muncul ekses. Karena para buzzer dan pendukung Jokowi ini banyak juga yang meramaikan (sosial) media tanpa menggunakan pikiran sehat. Hantam kromo saja. Masalah barupun bermunculan. Kendalinya lebih susah.

Konsultan politik yang paling bodohpun tahu, segmen yang mesti digarap itu adalah mereka yang masih undecided. Anatominya sudah sering saya bacakan. Tapi tidak pernah dianggap serius.

Orang-orang ini ngga punya kepentingan dengan narasi Jokowi musuh Islam. Di lain sisi, mainan infrastruktur itu cuma menarik buat mereka yang memang pendukung Jokowi. Bukan mereka. Sebagaimana juga narasi kebhinekaan.

Orang-orang undecided ini lebih berkepentingan dengan persoalan, ekonomi, lapangan kerja, kemiskinan dan ketidakadilan. Kenapa bukan ini yang dijadikan medan pertempuran? Kalian tunjukin kinerjanya, saya yang nyinyirin. Ngga apa. Dari dialektika ini kita dapat sintesa. Keren kan?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Betapa anunya nalar ke-Jokowi-an kalian.

  1. Wiihh.. I’m Jokowi mania but I must admit that the above article is really nice to read. Thanks! 🙂

  2. Eggy says:

    Yang paling nggak bisa saya mengerti dari Jokower adalah : Ngejelek-jelekin SBY ! Sirik tanda tak mampu banget…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s