Membangkitkan pengalaman berbangsa sebagai penuntun menuju terang. Bagian 1.

Sejarah Indonesia adalah sejarah yang kaya akan pelajaran berharga sebagai bangsa. Kita bangkit menuju pembebasan yang gemilang di tahun 1945, karena kita telah melalui berbagai pengalaman kebangsaan. KeIndonesiaan.

Hari-hari ini, kita menghadapi berbagai tantangan sebagai bangsa. Kita perlu membangkitkan pengalaman-pengalaman itu, agar terang jalan kita. Jalan menuju Indonesia yang lebih makmur dan sejahtera. Pembangunan berkeadilan.

Tentu saja tidak mungkin untuk menilik seluruh pengalaman kebangsaan itu dalam waktu sesingkat ini. Dalam kesempatan ini, kita akan bicara tentang beberapa momen-momen sejarah dan arti pentingnya dalam pengalaman berbangsa. Saripati dari momen-momen itulah yang akan terus kita bangkitkan. Kita akan terus gemakan untuk menjadi landasan dalam berbagai aspek pembangunan.

Gerakan kebangsaan Indonesia lahir di awal abad ke 20. Tentunya ini dipengaruhi oleh berbagai gerakan kebangsaan di banyak tempat di Asia. Seperti di Mesir oleh Arabi Pasha, di Turki oleh Mustafa Kemal Pasha, di Philipina oleh Joze Rizal dan sebagainya. Kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1904 juga disebut sebagai faktor yang membawa kepercayaan diri bangsa-bangsa di Asia. Matahari timur telah terbit.

Organisasi modern yang pertama dikenal dan tercatat rapi dalam sejarah adalah Boedi Oetomo yang lahir 1908. Ada beberapa sumber yang menyatakan Sarekat Dagang Islam lahir tahun 1905, namun ini masih jadi kontroversi. Kita tidak akan punya suatu titik pasti kapan perasaan kebangsaan atau nasionalisme muncul, namun kita tahu, untuk Indonesia, ia tumbuh pada tahun-tahun itu. Dekade pertama di abad 20. Kita memperingati tanggal 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional untuk mengenang itu. Ada sesuatu energi yang sedang terbangun. Energi besar berupa kesadaran berbangsa. Apa artinya?

Bangsa kita tidak lahir dari kesamaan suku. Bangsa kita tidak lahir dari kesamaan ras. Bangsa kita tidak lahir dari kesamaan agama. Bangsa kita lahir dari kesamaan nasib. Dari kesamaan penderitaan sebagai bangsa terjajah. Dari kesamaan rasa tertindas yang jauh dari keadilan.

Kesamaan nasib sebagai bangsa terjajah itulah yang telah memberi kita identitas. Dengan demikian nasionalisme atau rasa kebangsaan harus selalu dibangun untuk memperbaiki nasib. Kebangsaan harus diperkuat untuk cita-cita kemakmuran. Kemakmuran yang tercipta jika masyarakatnya terdidik dan cerdas. Kebangsaan harus mendorong terciptanya perlindungan dan keadilan.

Boedi Oetomo, sungguhpun sering disebut elitis dan hanya memiliki ruang lingkup terbatas, memahami betul hakikat kebangsaan itu. Mereka mengambil jalan perbaikan nasib bangsa melalui sektor pendidikan. Pembentukan intelektual-intelektual muda. Mereka memenuhi pikiran orang-orang muda ini dengan pengetahuan dan visi untuk memajukan bangsa. Orang-orang muda yang kelak menjadi tokoh bangsa.

Cara yang berbeda dan tentu saja saling melengkapi ditempuh oleh H. Samanhudi. Pendidikan adalah gerakan jangka panjang. Tapi, rakyat yang lapar harus diberi jalan untuk menjadi lebih sejahtera. Peningkatan kemampuan ekonomi merupakan hal mendesak yang tidak bisa ditunda. Lahirlah Sarekat Dagang Islam pada tahun 1911 yang kelak akan bersalin rupa menjadi Sarikat Islam pada tahun 1912. Ini adalah gerakan kebangsaan berbasis ekonomi rakyat.

Kerakyatan yang dicita-citakan oleh Sarikat Islam adalah kemajuan ekonomi berdasarkan ikatan kebangsaan. Di sini kita lihat jejak kerakyatan bukan barang baru dalam politik Islam. Sejarah memperlihatkan politik Islam Indonesia pada awalnya tidak dimaksudkan untuk bersifat ekslusif. Dengan demikian tidak ada perlunya mencurigai kekuatan Islam di Indonesia.

Jika ada bagian dari umat Islam yg mencoba untuk eksklusif, akan ada bagian lain yang akan mengoreksi. Jika kita ingat kelahiran NU pada tahun 1926, di situ ada dorongan perlawanan terhadap sifat-sifat fundamentalis. Ini harusnya bisa menentramkan kaum minoritas.

Momen perjalanan kebangsaan yang penting lagi, tentu saja Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 1928. Sebelum Soempah Pemoeda, sebenarnya frase Indonesia telah banyak digunakan sebagai payung gerakan sosial politik. Partai Komunis Indonesia berdiri tahun 1920, tahun 1925 Indische Vereeniging, suatu perkumpulan mahasiswa di Belanda, mengubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia, Partai Syarikat Islam Indonesia terbentuk tahun 1926, Partai Nasionalis Indonesia berdiri pada tahun 1927. Banyak. Namun Soempah Pemoeda memiliki arti lebih dari sekedar menegaskan identitas Indonesia. Ini juga momen yang menegaskan pengakuan atas keragaman. Ini adalah momen integrasi gerakan-gerakan dari identitas-identitas sosial yang berbeda. Menjadi Indonesia tidak harus meghilangkan jati diri atau akar-akar identitas asal. Kita tetap bisa menjadi Jawa dan Indonesia. Kita tetap bisa menjadi Islam dan Indonesia. Kita Indonesia.

Tahun 1945 tentu adalah puncak momen kebangsaan. Karena, di mata sejarah, tahun itulah bangsa kita dicatat kelahirannya. Namun, jangan hanya melihat pada tanggal 17 Agustus 1945. Kita harus melihat pada apa-apa yang terjadi pada rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Panitia Sembilan, Panitia tujuh dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Dalam rapat-rapat itu dimulailah tradisi intelektual dalam berpolitik. Dalam rapat yang mengumpulkan segenap tokoh-tokoh bangsa, mereka berdebat untuk menentukan dasar-dasar negara kita. Di sinilah K.H Wahid Hasyim, tokoh kebanggaan NU, menanam akar kebangsaan pada umat Islam di Indonesia. Beliaulah yang berperan besar dalam merumuskan kembali Sila pertama menjadi bentuknya yang sekarang. Di sana terdapat visi Islam Indonesia yang inklusif. Di situlah komitmen terhadap kebangsaan diperlihatkan secara nyata.

Pemilu tahun 1955 disebut sebagai pemilu yang paling demokratis selama ini. Ini adalah bentuk terbaik dari demokrasi kita. Saat gagasan atau ideologi dipadukan secara baik dengan kekuatan massa. Pemilu adalah ajang pendidikan politik di mana gagasan diadu. Semangat untuk maju dibakar. Identitas dirayakan. Saat itu tidak ada yang takut untuk berbeda. Piihan partai dengan identitas agama, suku, golongan tidak menjadi masalah. Ada Partai Katolik, ada Gerakan Pilihan Sunda, ada Partai Buruh, bahkan ada “Partai” R.Soedjono Prawirisoedarso yang berjuang untuk dirinya. Dapat 1 kursi di parlemen.

Semua merasa aman dan nyaman dalam naungan kebangsaan. Ini adalah Indonesia yang kita rindukan.

Tentu saja sejarah kita tidak selalu indah. Pada masa setelahnya kita mendapati kebangsaan kita meniti jalan lain. Di masa Orde Baru Persatuan yang dimaknai sebagai penyeragaman. Identitas akar dipaksa untuk melebur menjadi Indonesia. Orang disuruh ganti nama agar jadi Indonesia. Partai dilarang untuk membawa identitas SARA. Ini adalah kekeliruan dalam memaknai kebangsaan. Kekeliruan yang menetap selama 32 tahun.

Dari telaah ini mari kita bangkitkan pengalaman kebangsaan itu di hati dan pikiran kita. Mari kita hadirkan kembali unsur-unsur yang mengikat kita sebagai bangsa.

  • Keinginan untuk memajukan diri. Memperbaiki nasib. Dari bangsa yang pariah kita harus bangkit menjadi bangsa yang mulia.
  • Keinginan untuk memperoleh perlindungan dan keadilan. Jangan biarkan kita menindas bangsa kita sendiri.
  • Jalinan sosial berdasar azas kesetaraan.
  • Pengakuan atas keragaman. Bukan peleburan identitas.
  • Intelektualitas sebagai penjaga kebangsaan

Mari kita bangkitkan pengalaman kebangsaan ini untuk mengatasi masalah-masalah bangsa hari ini. Mari kita cari solusinya dalam akar kebangsaan kita.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s