Membangkitkan pengalaman berbangsa sebagai penuntun menuju terang. Bagian 2

Persoalan utama bangsa kita hari ini adalah persoalan ekonomi. Dollar telah menembus 14000 rupiah. Intervensi BI memang membuatnya tertahan, namun fundamental ekonomi kita tetap dalam situasi yang harus diwaspadai.

Persoalan ekonomi ini merupakan persoalan yang terstruktur dalam masyarakatnya karena alokasi sumber daya yang tidak adil. Alokasi sumberdaya yang tidak sejalan dengan semangat kebangsaan. Tentu saja ini bukan salah pemerintah hari ini. Namun suatu proses yang telah berakar sejak orde baru. Dibutuhkan suatu dorongan politik agar kita bisa kembali pada hakikat kemerdekaan. Kesempatan yang setara bagi semua anak bangsa. Bukan pemanjaan pada pengusaha-pengusaha kaya melalui konsensi atau kuota-kuota impor. Mari ini kita benahi bersama.

Ketimpangan ekonomi hari ini dijembatani melalui program-program bantuan pada rakyat yang miskin. Pemerintah memang menjalankan berbagai program bantuan sosial. Namun belum terlihat upaya penanggulangan struktur kemiskinan. Ketimpangan alokasi sumberdaya.

Cara-cara pemerintah dalam mengakomodasi kepentingan masyarakat adat, misalnya, tidak dijalankan dengan efektif. Akibatnya, sebagian dari masyarakat itu memperoleh limpahan dana, sementara yang lain tidak beroleh manfaat. Bukan kesejahteraan yang diperoleh melainkan perpecahan sosial. Ini adalah kasus-kasus yang sering dijumpai pada konsensi-konsensi tambang/perkebunan yang melibatkan tanah-tanah adat.

Pemerintah terlibat dalam banyak proses penggusuran demi pembangunan infrastruktur. Ini makin memperbesar ketimpangan alokasi sumberdaya. Mereka yang diuntungkan oleh infrastruktur itu adalah mereka yang berbeda dengan masyarakat yang harus berkorban. Yang makmur makin makmur. Yang miskin akan menjadi lebih miskin.

Pola-pola orde baru ini tidak boleh kita lanjutkan. Pembangunan infrastruktur harus berpusat pada mereka yang menyediakan diri mereka untuk berkorban. Mereka yang mendapat hasil pertama saat infrastruktur itu berfungsi. Dengan demikian, infrastruktur yang harus kita dukung adalah sarana-sarana kesehatan, pendidikan, energi dan transportasi lokal. Kita jadikan pengalaman kebangsaan adalah pengalaman menjadikan ketimpangan menurun melalui penguatan sumberdaya lokal.

Selain persoalan alokasi sumberdaya kita dihadapkan oleh persoalan lapangan kerja. Setiap tahunnya sekitar 4 juta orang masuk ke angkatan kerja. Kita harus menciptakan banyak lapangan kerja untuk menyerap mereka. Sejauh ini pengangguran terbuka berkisar pada angka 5.5 %. Sepertinya tidak menakutkan. Namun jika dilihat detilnya, dari orang-orang yang dianggap bekerja, 7.5% nya dikategorikan sebagai setengah menganggur. Bahkan 20% nya adalah pekerja paruh waktu. Apa artinya?

Kita tidak mampu menciptakan pekerjaan untuk 19.25% kapasitas angkatan kerja (5.5% + setengah dari 20%+ setengah 7.5%). Mereka tidak bisa disalurkan pada sektor-sektor produktif. Pada akhirnya inilah yang berpotensi menjadi ekses-ekses tindak kriminal berbasis paksaan ekonomi.

Resep kapitalisme untuk menciptakan lapangan kerja adalah dengan mengundang modal asing. Lupa jika masuknya modal asing akan menambah senjangnya alokasi sumberdaya. Memperbesar lingkaran setan kemiskinan. Kita harus mampu menciptakan lapangan kerja kita sendiri. Mendorong lingkaran-lingkaran ekonomi ditingkat lokal. Penciptaan pengusaha-pengusaha kecil dan koperasi melalui bantuan inkubasi bisnis dan akses pada pembiayaan. Perlindungan pada pasar-pasar tradisional. Tidak ada jalan lain.

Dengan perkembangan tehnologi digital, akses terhadap lapangan pekerjaan bisa dioptimalkan. Pemeliharaan terhadap potensi-potensi produksi untuk dipasarkan secara online. Serta akses terhadap transaksi jasa. Namun demikian, pemerintah tidak boleh lalai dalam melindungi hak-hak konsumen dan pekerja. Banyak keluhan akan tidak terlindunginya hak-hak mitra dalam transportasi on-line misalnya. Tentu ini membutuhkan perhatian. Apa manfaat lapangan kerja dibuka tapi pekerjanya tidak terlindungi? Rasa kebangsaan kita harus ada. Keadilan dan perlindungan.

Persoalan ekonomi berikutnya adalah pemenuhan kebutuhan dasar bagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Ini harus dirasakan bukan sekedar upaya menyantuni tapi adalah tanggung jawab kebangsaan. Kita, dengan pemerintah sebagai lokomotif, bahu membahu untuk memastikan semua penduduk Indonesia bisa memenuhi kebutuhan yang minimum. Berita kelaparan di Asmat, Papua, awal Januari ini sangat menyentuh kita. Kita harus menjaga agar ini tidak terulang lagi di masa depan.

Memahami persoalan kemiskinan atau ekonomi dari strukturnya, memastikan kita melihat pada mereka-mereka yang dimiskinkan oleh struktur itu. Dalam struktur ekonomi yang sangat patriakis, jelas perempuan adalah golongan yang dimiskinkan. Golongan yang tidak diberikan kesempatan yang sama untuk maju oleh institusi-institusi sosial di mana ia berada. Perempuan adalah proletarnya kaum proletar. Perempuan mengalami deprivasi yang menetap sepanjang sejarahnya. Semangat kebangsaan kita menolak itu. Semangat kebangsaan kita menginginkan jalinan sosial dalam kesetaraan. Pembangunan harus berkeadilan pada perempuan. Demikian amanat kebangsaan kita.

Selain persoalan ekonomi kita masih punya sederet persoalan hukum dan keadilan. Kasus-kasus pelanggaran HAM yang tidak dituntaskan. Kasus-kasus persekusi ormas atau kelopmpok orang. Kasus-kasus yang melibatkan arogansi kekuasaan. Semuanya adalah betuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai kebangsaan. Sebagai bangsa yang lahir untuk melawan penindasan, maka arogansi kekuasaan adalah bentuk pengkhianatan terbesar. Jauhkan diri kita dari sana.

Akhir-akhir ini kita didera oleh masuknya narkoba dalam jumlah ribuan ton. Ini adalah bentuk pelemahan bangsa dan penghancuran ekonomi masyarakat. Pengalihan sumberdaya produktif menjadi konsumsi yang berdampak buruk. Tidak hanya pada pengguna namun juga pada masyarakat secara keseluruhan.

Narkoba adalah jalan pintas untuk menggapai mimpi dan harapan yang makin sulit terwujud. Karenanya banyak beredar pada lingkungan miskin kota. Menyadari itu, mengatasi narkoba adalah melihat kembali pada ingatan kebangsaan kita. Menciptakan harapan pada anak-anak bangsa. Sisi kriminal dalam peredarannya tentu adalah masalah apparat kepolisian dan hukum. Namun penanggulangannya melibatkan keinginan untuk membangun masyarakat sebagai tempat bersama. Saling menjaga.

Saya sudah jabarkan persoalan-persoalan mendasar bangsa ini. Saya sudah rumuskan pendekatan untuk mengatasinya. Melalui lima kesadaran penting:

  • Keinginan untuk memajukan diri
  • Keinginan untuk memperoleh perlindungan dan keadilan.
  • Menjalin ikatan sosial berdasarkan azas kesetaraan.
  • Pengakuan atas keragaman dan bukan peleburan identitas
  • intelektualitas sebagai penjaga kebangsaan.

Ini adalah manifesto politik saya. Pada waktunya nanti, inilah yang akan saya perjuangkan melalui saluran-saluran politik yang ada. Ada aamiin?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s