Fanatisme terhadap Jokowi. Terbuat dari apa sih?

Kemarin di RL ada yang bertanya pada saya. Kenapa sih masih buanyak orang yang suka pada Jokowi. Padahal banyak fakta yang diungkap di publik tentang kinerja rezim Jokowi. B aja. Kok bisa sefanatik itu?

Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Saat aspek rasional tidak bisa digunakan tentu kita harus melihat faktor emosional dan simbolisnya. Bagaimanapun juga kita tahu bahwa fanatisme itu hanya bisa dibangun melalui konten emosional dan simbol.

Saya melihat Jokowi ini dimaknai pendukungnya sebagai orang yang baik. Orang yg bersungguh-sungguh ingin membangun. Di mana kebaikan dan niat baik itu justru menjadikan blio korban dari politisi-politisi busuk.

Dengan pemaknaan seperti ini ya wajar saja jika orang tidak terlalu mementingkan perdebatan kinerja. Cukup diberi umpan satu kata saja, semua pertanyaan tentang kinerja sudah terjawab. Infrastruktur. Mau soal utang, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi jawabnya cuma satu. Infrastruktur. Setelah itu sebarkan foto-foto Jokowi sedang ada di proyek ini, proyek itu. Jokowi kerja. Habis perkara.

Mereka ini adalah orang-orang yang merasa terpanggil untuk membela orang baik. Orang yang sedang terancam oleh politisi-politisi busuk. Orang yang mereka persepsikan punya niat yg mulia. Pakek banget.

Tidak penting bahwa Jokowi tidak memiliki kosa kata yang cukup buat mengungkapkan pikiran. Tidak penting bahwa Jokowi pernah bilang blio tidak membaca dokumen yang ditandatanganinya. Bahkan jika ada yang bilang Jokowi bukan orang pintarpun mereka tidak mempermasalahkan. Yang penting jujur. Buat apa pinter kalau cuma buat menipu atau menggarong negara. Justru kekurangan Jokowi ini memperkuat keyakinan mereka. Jokowi orang baik.

Jadi saya memang paham kenapa konsultan pencitraan Jokowi perlu untuk melabel atau membangun framing bahwa semua lawan Jokowi adalah politisi busuk. Ini adalah aspek penting dari narasi Jokowi.

Menuduh orang radikal atau HTI itu ada dalam kebutuhan itu. Demikian juga menuduh orang korup dan bisa dibeli. Siapapun yang punya masalah dengan Jokowi akan dicari sesuatu yang bisa memperlihatkan kebusukan politisi itu. Mulai Prabowo, Rizieq, Amien Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah, daftarnya bisa panjang. Bahkan SBY dan AHY yang tidak punya masalah dengan Jokowi saja perlu dicari-cari bahan buat dicela. Tidak peduli apakah itu hoax atau bukan. Yang penting narasi Jokowi sedang diancam politisi busuk tetap terjaga.

Saya sendiri, dalam tingkat yang lebih rendah, juga mengalami. Sebagai orang yang banyak mengkritisi (atau dalam bahasa mereka adalah menyinyiri) Jokowi, saya banyak mendapat label. Dari mulai orang jahat, spin doctor, orang bayaran sampai hal-hal yang sangat absurd seperti radikal, HTI atau penggemar Rizieq. Sekali lagi, tidak penting apakah tuduhan itu ada bukti pendukungnya. Karena satu hal yang ada di benak mereka. Jokowi orang baik. Kalau ada yang tidak suka, ya pasti orang jahat. Selesai perkara.

Kebutuhan untuk melakukan framing bahwa lawan Jokowi ini adalah orang jahat/busuk ini jelas menimbulkan masalah. Perpecahan sosial terjadi dalam tingkat yang bisa tidak masuk akal. Sebagai contoh anecdotal, ada orang yang tidak diajak arisan karena dia pendukung Prabowo. Di TL (twitter) dalam suatu masa ada trend untuk mengucilkan teman-teman yang mereka sebut sebagai bani bumi datar dari pergaulan mereka. Diajarkan di sana, kalau kenalan dengan orang, mesti diperiksa dulu apakah orang itu penganut bumi datar. Tentu saja yang dimaksudkan di sini bukan benar orang yang percaya bumi datar tapi lebih pada apakah orang itu mendukung Anies di Pilkada DKI. Musuh politik Ahok yang diproyeksikan sebagai musuh Jokowi juga. Separah itu dalam menarik garis kami vs mereka.

Narasi berikut yang terus dibangun adalah presiden-presiden sebelumnya tidak seniat Jokowi dalam membangun. Walaupun fakta dan data tidak mendukung, narasi ini harus tetap hidup. Agar fanatisme itu terjaga. Fakta toh tidak akan pernah diliat juga oleh mereka yg fanatik.

Mereka dengan penuh percaya diri turut mendistribusikan hoax-hoax tentang pembangunan Jokowi. Tidak ada niat jahat di sini. Mereka simply tidak merasa itu hoax. Ada berbagai photo jalan tol yang diaku ada di Sukabumi, Kalimantan atau Papua. Semuanya ternyata adalah photoshop. Dalam pikiran mereka, Jokowi orang baik. Tidak mungkin kubunya memproduksi hoax.

Orang baik inilah sebenarnya titik sentral dalam pencitraan itu. Makanya buat saya agak aneh kalau ingin diinject machismo di situ. Diminta untuk latihan tinju, touring dengan motor atau pidato dengan nada menyerang. Baik untuk 2030 atau kaos ganti Presiden 2019. Semua ini tidak koheren dengan inti makna Jokowi. Pak Jokowi itu justru tidak boleh garang/galak. Nanti tidak dipercaya sebagai victim.

Tidak mudah untuk meruntuhkan narasi ini. Kalau saya paparkan fakta dan argumen betapa kinerjanya B aja, saya justru dianggap sebagai bagian dari politisi-politisi busuk itu. Tidak akan ada yang masuk juga ke benak pendukungnya.

Karenanya jika anda jeli melihat, saya tidak menghabiskan waktu untuk meyakinkan pendukung Jokowi. Buang-buang umur. Target audience saya selalu mereka yang males ama Jokowi. Lebih baik lagi jika males juga ama Prabowo. Dengan memberi fakta dan narasi argumen yang baik, saya ajak mereka untuk berfikir.

Jika saya terlibat dalam debat atau pembicaraan dengan pendukung/buzzer Jokowi, saya menggunakan itu untuk memperlihatkan bahwa mereka itu sedang pakai kacamata kuda. Saya tahu tidak mungkin mengubah pendapat lawan debat. Namun siapa tahu yang menyimak bisa tersadar.

Yang harus diakui, narasi ini organik. Narasi yang memang berasal dari akar rumput. Konsultan pencitraan dan media itu hanya bisa menguatkan. Kerangkanya sudah terbentuk dalam mitos-mitos satria piningit. Tokoh yang tiba-tiba muncul untuk menyelamatkan rakyat dari angkara. Jadi memang susah dilawan.

Untung saja, jumlah pendukung (fanatik) Jokowi ini hanya 40% an. Lebih jauh, mereka seperti kumpulan yang tidak ingin menambah dukungan. Merasa diri sebagai pembela kebenaran, semua orang yang berpendapat berbeda dibully. Karena masih hanya 40%, terbukalah kesempatan untuk mengalahkan Jokowi di 2019.

Yang bakal sulit bagi lawan” Jokowi itu jika ada orang yang cukup waras di kubu Jokowi. Orang yang bisa melihat dukungan sekarang ini masih kurang. Orang yang bisa memberi komando agar berhenti untuk membully dan memulai percakapan yang sehat. Kalau ini yang terjadi, ya saya mau ngurus temen” yg mau jadi caleg aja :

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Fanatisme terhadap Jokowi. Terbuat dari apa sih?

  1. Jeruk Lemon says:

    Keren. Terimakasih berguna utk belajar berjalan dlm gelap pekat.

  2. LordBerly says:

    Keren. Sering-sering update postingannya Om!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s