Statistika, logika dan teori. Apa yang harus dipahami?

Statistika itu dibagi atas 2 penggunaan. Deskriptif dan inferensia. Deskriptif adalah alat yang kita pakai untuk memahami data. Semua kesimpulan/pemahaman kita hanya berlaku pada data itu. Period.

Dalam statistika deskriptif tidak dikenal adanya error. Kalau saya bilang rata-rata variable x dari data itu 15.76 unit ya itulah rata-rata nya. Sepanjang kalkulatornya bener ya ngga ada salahnya.

Inferensia itu terjadi jika kita ingin melakukan generalisasi berdasarkan data yang kita kumpulkan. Kalo saya punya sample 2000 record tapi ingin menyimpulkan ke seluruh populasi yg berjumlah 125 juta, ya pasti ada errornya. Jadi, inferensia statistika selalu punya error.

Error dalam inferensia statistika tergantung pada metode penarikan sample, jumlah sample, tipe skala pengukuran dan analisa yang dilakukan. Margin of error yg sering anda baca hanya dengan melihat jumlah sampelnya itu jelas penyederhanaan saja.

Kalau anda bukan statistikawan atau peneliti ya ngga perlu repot untuk menghitung. Tapi penting untuk paham, errornya lahir karena terpilihnya sample memiliki distribusi dengan peluang tertentu. Demikian juga error yg lahir karena jenis analisa. Ada persoalan ketidakpastian di situ. Clear?

Tidak semua statistika inferensia terkait dengan logika. Kadang ia hanya digunakan untuk menguji nilai suatu parameter. Misal saya punya hipotesis elektabilitas Jokowi <=50%. Hasil ujinya cuma 2. Diterima atau ditolak. Period.

Jika diterima, tidak ada juga jaminan 100% itu benar. Ada errornya. Orang statistika punya selang kepercayaan. Misal 95% probability, elektabilitas Jokowi <=50%. Kita ngga akan pernah tahu yg benar. Kecuali surveynya dilakukan pas pilpres. Tapi buat apa?

Logika adalah cara menarik kesimpulan benar dari serangkaian proposisi/ premise. Jika A > B dan B > C maka A > C. Ini adalah pernyataan yang logis. Kalo anda punya A=1, B=4 dan C = 2, pernyataan tadi tetap logis. Toh kita tidak bisa bilang 1 > 2 karena 1 > 4 kan tidak benar.

Inilah yang disebut oleh @rockygerung, logika tidak bisa dinilai dari statistika. Logika harus dinilai dari cara seseorang melakukan proses deduksi atau induksi. Kalau anda punya dua proposi A ~> B, B~>C maka secara logis anda harus berkesimpulan A ~> C. Period.

Apakah A~> C selalu benar? Tidak. Yang selalu benar adalah (A~>B dan B~>C) ~> (A~>C). Ngerti bedanya? Ini yang selalu dijadikan bahan ketawaan oleh RG. Karena seringnya anda ngga ngerti bedanya. Telan aja. 🙂

Sekarang saya masuk ke bahasan statistika dan teori. Statistika itu tidak membentuk teori (kecuali teori pada bidang ilmunya). Dia hanya menguji apakah hypothesis bisa diTOLAK atau tidak. Karena jika ditolak hypothesis itu pasti salah. Jika diterima belum tentu benar. Bingung? :p

Teori itu, jika disederhanakan, selalu berbunyi jika A maka B. Agar teori ini salah, saya harus memperlihatkan ada kasus di mana A benar, tapi B salah. 1 kasus aja cukup.

Di lain sisi jika saya harus memperlihatkan teori itu benar maka saya harus perlihatkan untuk semua A yang benar, B juga selalu benar. Padahal statistika punya komponen error. Ngga bisa pakai statistika.

Jadi, teori harus diuji melalui deduksi atas keberadaan teori-teori sebelumnya. Atau melalui pendefinisian yang ketat terhadap variabel dalam teori baru itu. Apa kaitannya dengan uji statistika? Statistika hanya digunakan untuk memperlihatkan apakah itu bisa dibantah.

Saat statistikanya bilang bisa dibantah, ya kita harus berfikir ulang tentang konstruksi variabelnya atau membatasi lingkup generalisasinya. Perbaiki di situ.

Saat statistika tidak bisa membantah, ya jadilah itu standing theory. Untuk digunakan sebagai acuan teori lain sembari menunggu adanya cara lain untuk membantah. Cara membantahnya? Memperluas variabel yang terlibat dengan berbagai variabel moderasi. Bisa juga memperlihatkan adanya variabel mediasi yang lebih berperan.

Kalau anda mahasiswa S2 atau S3, pemikiran-pemikiran seperti ini yang harus ada saat mencari topik. Mempertanyakan variabel-variabel yang bisa jadi moderasi atau mediasi.

Sebagai dosen, saya tidak bisa menerima argumen bahwa teorinya benar karena terbukti secara statistika. Ini yang sering diucapkan mahasiswa. Keliru.

Suatu teori benar karena sudah dideduksi dari teori-teori yg ada dengan benar. Itupun dia harus menjelaskan hanya pada kondisi-kondisi penelitian yang dia lakukan. Dan hanya pada konstruksi-kontruksi variabel yang ada di penelitian itu. Statistiknya hanya digunakan untuk bilang, teori dia belum bisa dibantah. Begitu.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s