Mengapa Anies Menang.

Banyak yang nanya kenapa bahasnya cuma Mengapa Ahok kalah? Kenapa bukan mengapa Anies Sandi menang? Challenge accepted.

Kalau sekedar menuruti prasangkanya orang kalah, ya mereka maunya ini dijawab dengan “Karena politisasi agama”. Dah. Mereka ngga mau dengar yang lain karena hanya itulah yang mau mereka percaya.

Kalau anda adalah orang-orang sempit pikir seperti itu, mending berhenti baca. Saya sudah lama nyerah untuk mencoba melebarkan pandangan mereka. Orang-orang yang saya yakin tidak mau belajar dari kekalahan. Orang-orang yang akan membawa junjungannya kalah lagi. Sad.

Pertempuran itu dimenangkan melalui strategi. Kalau lawan berbuat kesalahan, itu bonus. Namun tanpa strategi yang baik, semuanya cuma jadi sia-sia. Kemenangan Anies Sandi adalah buah dari strategi yang baik.

Pertama tentu soal pemetaan kekuatan. Pemahaman atas anatomi pemilih. Saat itu petanya bukan pemilih Anies vs Ahok vs AHY. Petanya adalah pemilih Ahok, penolak Ahok dan orang-orang yang belum memutuskan.

Dari berbagai survey sebelum pencalonan resmi, komposisi awalnya itu adalah 40% untuk Ahok, 30% untuk calon-calon yg bukan Ahok dan 30% orang-orang yg belum memutuskan. Ini link untuk hasil survey bulan September 2016. http://rmol.co/amp/2016/09/15/260779/Survei-Poltracking–Anies-Baswedan-Cukup-Menjanjikan-di-Pilkada-DKI-

Pada saat pasangan calon diputuskan secara resmi, terjadi perubahan yang menarik. Ahok naik menjadi 45%. Penolak Ahok melambung menjadi 44%, sementara undecidednya menurun menjadi 11%. Ini link dari surveynya SMRC http://kom.ps/AFviBJ

Apa yang musti dipahami dari sini? Penolak Ahok, yang harus diakui karena soal agama itu basisnya hanya 30%. Saya argue, pencalonan Anies dan AHY mendorong hampir setengah dari yg undecided untuk lari ke lawan Ahok. Mereka menemukan sosok yang mereka anggap setara atau lebih baik dari Ahok. Ini yang ngga dilihat oleh kubu Ahok.

Melihat peta ini, kubu Anies sudah yakin. Ini perjalanan panjang dua putaran. Ini persoalan menggaet dukungan dari undecided sembari mempertahankan kelompok penolak Ahok dari gerogotan kubu AHY. Bagaimanapun basis Anies dan Sandi adalah kaum konservatif.

Hitungannya jelas ada 30% yang diperebutkan dengan AHY karena toh mereka sudah menolak Ahok dengan basis agama. Kepada mereka Anies musti kasih lihat nilai lebih. Ngga cuma mengandalkan kesamaan agama.

Ada 14% yang menemukan figur baru. Kepada mereka harus diperlihatkan kontras antara Anies vs Ahok, yang mana ini adalah perkara gampang. Anies itu secara karakter memang jauh sekali dari Ahok. Tinggal mencari cara mengkapitalisasi perbedaan itu.

Yang 11% ini juga harus dianggap punya concern dengan Ahok. Faktornya belum tahu. Tapi yang pasti bukan soal agama. Mereka juga belum impress dengan Anies atau AHY. Musti dicarikan cara.

Dengan peta itu, mereka masuk dengan promise yang benar. Lapangan kerja dan keberpihakan pada yang miskin. Platform kampanyenya jelas Jakarta Maju Bersama. Musuhnya jelas. Tukang gusur orang miskin yang mau maju sendirian. Ini adalah narasi yang kuat dalam pilkada DKI. Dimainkan dengan baik di kawasan-kawasan miskin kota. Bukan di sosial media. Naratornya @reiza_patters tuh. Ngga usah dendam ya. Isunya jelas dan konsisten. Reklamasi, penggusuran dan tentunya keberpihakan.

Kampanye ini ngga dijawab dengan baik oleh kubu Ahok. Terlalu confident dengan foto” pembangunannya. Anak-anak muda kelas menengah, yang baru melek politik, merasa yang baik buat mereka pasti baik buat orang miskin. Arogansi yang akhirnya harus ditelan dengan pedih.

Mereka tenggelam dalam narasi yang dibangun sendiri. Kalau Ahok kalah, itu pasti gegara agama. Ngga mungkin karena yang lain. Untuk itu harus enggage di situ melalui tuduhan rasis dan bigot pada lawan-lawannya. Jadilah blunder besar di pulau seribu.

Kombinasi blunder dan kampanye masif yang dilakukan AHY mengubah peta pertarungan menjadi lebih seimbang. Elektabilitas Ahok sudah turun drastis di sini. Padahal belum ada 212. https://m.detik.com/news/berita/d-3353811/survei-indikator-elektabilitas-ahok-turun-pilgub-diprediksi-2-putaran

Selebihnya jalan sejarah. Ahok harus menjalani sidang. Memecah perhatiannya pada kampanye. Sementara sentimen anti Ahok meningkat dengan adanya tuduhan itu. Kita dilibatkan dengan narasi adu domba antara islam vs bihineka. Ngga ada yang juntrung.

Namun @reiza_patters dan timnya mah ngga ada urusan. Tetap datang ke kelurahan-kelurahan kunci. Menjelaskan soal OKE OC, OK Trip, KJP+, DP 0 dan program-program peningkatan kesejahteraan lainnya. Perlahan tapi pasti elektabilitas Anies menanjak. Masuk ke babak ke dua.

Saya sama sekali tidak paham bagaimana elektabilitas AHY yg berkisar 30%, tiba-tiba turun menjadi 17% pada minggu-minggu terakhir. Tampaknya kampanye pembusukan nama SBY berhasil. Pada saat itu banyak orang menuduh SBY ada dibalik aksi 212 dan turunannya. Tapi inipun counter intuitive. Harusnya, kalo ini benar politisasi islam, bukankah persepsi ada dibelakangnya membantu? Gelap.

Faktanya, dengan kampanye masif tentang keberpihakan di lingkungan miskin, elektabilitas Anies meningkat. Namun, kenapa ini ngga pernah muncul di survey” sebagai faktor? Saya rasa soal artikulasi. Buat orang miskin dengan pendidikan rendah, kata-kata program itu bukan bagian dari vocabularynya. Yang mereka lihat kesamaannya dengan mereka. Diucapkan sebagai kesamaaan agama.

Sementara, keberpihakan kepada orang miskin ini memang ngga dikampanyekan secara masif di kalangan menengah atas. Ngapain? Lagian, toh kalau untuk kepentingan orang kaya, yang dikerjain Ahok itu memang udah bener.

Inilah penjelasan, kenapa faktor keberpihakan pada orang-orang miskin ini tidak terlihat menjadi faktor. Dikalangan miskin ngga diartikulasikan. Di kalangan menengah atas memang ngga bunyi.

Kemenangan Anies dengan 58% suara itu diluar dugaan. Ngga ada yang menyangka. Ada yang bilang karena banyak orang yang merasa kubu Ahok dan Anies sama brutalnya. Keliatannya Anies akan menang, pilih Anies ajalah. Band wagon effect. Saya tidak pasti.

Tapi pelajaran buat saya adalah pemetaan kekuatan dengan baik adalah awal. Strategi yang tepat untuk menindaklanjuti peta itu adalah kunci. Kalau ini anda ngga mau faham ya sudah. 🙂

Note: Saya tidak menafikan soal politik identitas. Dari 58% pemilih Anies, saya percaya sekitar 30% nya murni karena keyakinan agama (tanpa harus dipolitisasi), sekitar 15% nya jengkel pada Ahok karena kasus pulau seribu. Ini mungkin ada politisasinya. Pihak Anies sih ngga mau dituduh. Sisanya yang kurang dari 15%, mereka memang melihat Anies lebih menjanjikan tanpa punya persoalan dengan agama. Ini soal percaya. Saya ngga punya survey nya. Ya. Kalo faktor agama dikeluarkan, Anies masih kalah. Namun kalau hanya faktor politisasi agama yg dikeluarkan, Anies tetep menang. Puas? :).

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s