Saya akan tetap di sini untuk mengkritisi.

Kita semua punya motivasi berbeda untuk aktif di sosial media. Ada yg ingin menjaga silahturahmi. Ada yg ingin pamer sukses dan kebahagiaan. Ada yang mau cari pacar. Ada yang..ah sudahlah, anda tahu poin saya. Beragam motivasi dan tentu saja bisa berubah. 

Sungguhpun saya terlalu kecil untuk disandingkan dengan para selebriti sosial media, saya tetap punya tempat di dunia ini. Di timeline. Karena ini bukan cuma soal jumlah follower. Namun soal presence. Bahwa twit” saya bisa menggema dan menimbulkan reaksi. Berulang”.

Twit yang saya maksud tentu saja twit politik. Twit” galau saya dilihat juga tidak. Apalagi twit” sepik. Sudah lama mati gaya. Tidak tertolong.

Tentang twit politik ini, orang akan menadai saya sebagai hater. Baik bagi Ahok atau Jokowi. Lalu saya ditempatkan di keranjang yang sama dengan kaum bumi datar. Menyakitkan sebenarnya.

Saya akui ada kesebalan yang menumpuk di hati saya pada buzzer” pembully dari kubu ahok. Orang” yang sekarang berperan menjadi buzzer pembully dari kubu Jokowi. Entah mengapa, tuduhan rasis yg dibully-kan pada saya saat menentang Ahok begitu membekas di hati.

Rasisme adalah bentuk kesempitan berpikir. Perasaan superior terhadap orang yang berbeda. It is everything I am not. Tolong dicatat.

Bagi saya, timeline adalah tempat pertukaran ide. Di mana pemikiran dan pendapat diuji. Tentu saja akan ada perasaan kita yang benar. Tidak harus menjadi persoalan sebenarnya. Yang penting buka pikiran.

Namun, some how, orang tidak lagi berfikir tentang apa yang benar dan salah. Semuanya direduksi menjadi kawan dan lawan. Di titik ini sering saya berfikir untuk berhenti ngetwit politik. Latihan nyepik aja yang banyak. Lama-lama pinter juga, kan?

Karena pada akhirnya satu musuh terlalu banyak dan seribu kawan masih terlalu sedikit. Asal jangan disuruh traktir saat ulang tahun saja. Kawan saya maksimum empat. Capres sugih kui ra mashook. :p

Tapi yang waras tidak boleh mengalah. Saya tidak boleh terintimidasi dengan perasaan apa yang saya lakukan ini sia-sia.  Ide” tetap harus ditanam. Kritik harus selalu disampaikan. Pada akhirnya, the silent majority toh berkeinginan untuk melihat Indonesia yang lebih baik. Mereka akan melihat, ributnya pertikaian politik ini adalah jalan untuk ke sana.

Kepada buzzer” Jokowi saya tidak berhenti untuk berpesan. Berhentilah membully. Apa lagi membully saya. Tidak bermanfaat untuk memenangkan pertarungan politik. Carilah KPI yang lebih baik dari sekedar membuat orang sakit hati.

Kepada buzzer” anti Jokowi, mulailah bertarung dengan penuh penghormatan. Yang anda lawan itu Kepala Negara kita. Beliau bisa dan sering salah tapi tidak perlu dihinakan. Akur?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Saya akan tetap di sini untuk mengkritisi.

  1. guri says:

    Kok digembok akunnya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s