Bupati Purwakarta dan masalah kita dengan hama politik.

Menyedihkan memang. Merasa benar berdasarkan banyaknya dukungan atau teman. Bupati Purwarkarta itu kebablasan karena sok asyik. Bahkan setelah dihujat di sosial media pun dia tidak meminta maaf sepenuhnya.

http://m.liputan6.com/regional/read/2665984/penjelasan-bupati-dedi-soal-foto-pegang-paha-siswi-smp?utm_source

Assuming bahwa dia tidak paham kalo itu salah (karena budaya patriakat yg melekat di dirinya), apa yang membuat dia memposting itu kalau bukan karena ingin memperoleh perhatian? Sok asyik.

Sekarang, kita mesti menjelaskan pada publik bahwa perilaku Bupati itu keliru di banyak level. Kita bisa berdiskusi tergantung tingkat mana yg mau digugat.

Dari hukum formal, apakah ada wewenang Bupati untuk menghentikan pelajar berkendara di jalan tanpa helm. Dari mana wewenangnya? Ingat, kalaupun dia membawahi dinas pendidikan cakupannya hanya pada lingkup sekolah. Bukan jalan raya. Dia bisa bikin peraturan pelajar dilarang membawa motor DI sekolah. Sebelum masuk pintu sekolah, itu urusannya polisi.

Dari segi etika, apakah pantas dia menjadikan anak itu sebagai bahan untuk dipermalukan di sosial media. Etika ini mendiskusikan kepantasan. Bukan salah atau benar. Sebagai bentuk penghukuman, terkadang public humiliation itu bisa dibenarkan. Tapi apakah pantas? Apakah, jika itu memang salah, seimbang dengan rasa malu yang akan ditanggung korban. Untuk jangka waktu yang lama.

Dari diskusi moral, apa dasar Bupati itu menganggap moralitasnya lebih tinggi dengan menyalahkan cara perempuan berbusana? Dalam konteks yang sama, apa dasar moralitas yg mengijinkan dia untuk memegang (paha) perempuan tanpa ijin? Buat saya dia tidak punya moral superiority. Period.

Kita bisa mendiskusikannya. Lain kali.

Fokus saya kali ini adalah problema buzzing tokoh politik. Yang sering menghasilkan sosial disorder akibat kebablasan. Semata karena bertaburan hama-hama politik.

Kalau anda lihat perilaku-perilaku yg ditunjukkan Bupati Purwakarta, anda tahu kalau semuanya ada desainnya. Ada konsultan politik dan buzzernya. Hama politik.

Bupati Purwarkarta ini akan mencalonkan diri jadi Gubernur Jawa Barat tahun 2018. Menyadari lawan politiknya akan berasal dari kubu Islam konservatif, jauh-jauh hari dia sudah melakukan tindakan pre-emptive. Dia sudah melancarkan provokasi-provokasi pada kubu FPI. Dari mulai mengganti Assalamualaikum dengan Sampurasun sampai menikahi Nyi Roro Kidul secara simbolik.

Tidak ada satupun dari provokasi-provokasi itu terkait dengan kesejahteraan warganya. Atau bahkan budaya, jika itu yang jadi tujuannya. Ini setting politik. Dan buat saya itu busuk karena potensinya untuk memecah belah warga.

Saya berseberangan dengan kubu konservatif. Jauh. Garis batasnya aja belum tentu kelihatan.

Namun, saya memahami perbedaan itu dalam sesuatu yang substantial. Penolakan hukum agama di wilayah privat dijadikan hukum positip di wilayah publik. Saya tidak berposisi untuk merendahkan keyakinan mereka. Apalagi melakukan provokasi” yang membuat mereka marah.

Secara substantif, apa yang dilakukan Bupati Purwakarta soal busana pelajar tadi sudah menyeberang ke kubu konservatif. Dia tidak sadar karena permusuhannya dengan FPI adalah agenda kampanye. Bukan ideologis. Ini yang membuatnya double busuk.

Konsultan politik dan barisan buzzernya hanya bekerja untuk memenangkan kandidatnya. Mereka akan pakai cara sekotor apapun. Dan ini peringatan bagi kita.

Padahal, dibalik pemilihan pejabat publik, ada kekuasaan yang harus digunakan untuk kesejahteraan warga dan kehidupan sosial yang lebih baik. Hulunya adalah pandangan ideologis, sementara hilirnya memang tindakan pragmatis.

Politik popularitas yang diendorse oleh konsultan politik dan buzzer telah memutus aliran hulu dan hilir ini. Mereka bermain di muara yang penuh pragmatisme sementara buaya mengintai di mana-mana. Sosial disorder.

Sekarang, kepada siapa saya harus menyeru?

Para konsultan politik pasti marah kepada saya karena periuk nasi mereka terganggu. Tentu saja saya harus membuat disclaimer. Beberapa konsultan politik memiliki cukup integritas untuk tidak merusak tatanan sosial melalui kampanyenya. Respect.

Politikus yang ada sekarang justru adalah politikus-politikus yang pragmatis didikan orde baru. Hanya beberapa yang saya tahu memiliki basis ideologi kuat yang tidak akan mau jadi boneka konsultan politik untuk pencitraan. Sisanya?

Jadi kepada andalah saya bicara. Saya percaya orang-orang yang datang ke blog saya ini memiliki kemampuan dan kemauan untuk melihat Indonesia yang lebih baik. Jaga kewarasan. Jangan mau dibenturkan oleh kepentingan-kepentingan politik sesaat. Jangan pernah mau dibohongi pake buzzer. Okay?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s