Mas Agus

Seorang kawan, seorang yang datang dari masa lalu, seorang yang di masa itu kami karib dan intim, sampai kemudian dimulainya pembangunan pembangkit listrik tenaga abang terlalu baik buatku, mengangsurkan pertanyaan ini: apa yang dibutuhkan kandidat gubernur DKI bila tampil di televisi?

Saya lama menjawab, meski sudah centang biru dua, sengaja mengulur waktu, supaya terkesan tak mudah dijangkau.
Mari kita mulai dari sini: untuk apa kandidat gubernur DKI Jakarta tampil di televisi?

Jawaban final adalah supaya seluruh masyarakat pemilih dapat mengakses seluruh informasi yang disampaikan tanpa blur, tanpa bias. Betul, seluruh masyarakat pemilih, dan seluruh informasi. Garis bawahi di situ, thank you, love you.

Maka penting bagi Najwa Shihab menjadi tuan rumah yang bijak, yang lebih banyak mendengar daripada berbicara, untuk memastikan seluruh informasi dapat diakses seluruh masyarakat pemilih tanpa menyelak. Penting bagi host untuk memastikan dia tak menelikung, tak menjebak, tak membawa agenda sendiri, tak memaksakan gagasannya, tak menunggangi konteks, dan bersedia berbagi panggung. Harus tahu kapan bicara, kapan diam, kapan mendengar. Pelajaran sejak masa kanak-kanak.

Sekarang giliran Mas Agus. Besok-besok Mas Anies, dan Koh Ahok. Kita harus berhenti menyalahkan jarum yang patah, tanpa mengurai benang yang kusut.

Kusutnya bermula di sini: kita telah dihalang-halangi untuk menyimak dengan seksama apa cita-cita mereka bila nanti memimpin Jakarta. Kita kehilangan momen penting mendengar langsung dari para kandidat mau di bawa ke mana Jakarta selanjutnya. Padahal kita seharusnya dikasih kesempatan mendengar mereka menjembrengkan gagasan-gagasannya, harapan-harapannya. Alih-alih mendengar host mendesak-desakkan pokok-pokok pikirannya hanya supaya ia terlihat lebih pintar.

Pada titik ini, Wimar Witoelar adalah kampiun, Muthia Kasim berikutnya, dan Rossiana Silalahi kiwari.

Tak berhenti di situ, centang-perenang ini diperburuk aneka komentar di sosial media. Mas Agus masih grogi, Mas Agus belum terbiasa, Mas Agus ganteng, Mas Agus bla-bla-bla seolah-olah Jakarta sedang mencari pemimpin yang tidak grogi. Seolah-olah kemacetan akan sirna karena artifisial itu. Seolah-olah toldalkot akan lancar jaya karena santun. Hidup kok gini amat sih.

Sudahlah begitu, ada yg tega membuatkan kultwit menafsir gestur Mas Agus, menafsir berapa kali dia minum, menafsir tatapannya. Selesai? Jangan sedih, yang bikin kultwit merasa dia telah benar. Rasanya ingin ditelan Bumi.

Tiap-tiap kandidat harus tampil di muka umum, untuk menggaransi gagasan-gagasannya akan terlaksana dengan baik. Kita tak memberi cek kosong. Pesan atas gagasan, memang, harus dideliveri sama bagusnya dengan gagasan itu sendiri. Mengasumsi ketiga kandidat ikut aktif dalam penyususunan visi misi dan rencana kerja, maka menjelaskannya ke publik sama mudahnya dengan membuka kaitan bra. Di kostan. Atau di apartemen. Atau di hotel transit. Atau di mana saja, whatever.

Karena itu, kegenitanmu mengenai ganteng dan lain sebagainya yang akhirnya bikin saya iri, please deh, tahan sejenak, jangan terlalu gittal (silakan tanya Kisbet artinya). Jakarta sedang memilih pemimpin, bukan memilih busa sabun. Kota hebat ini harus dipimpin oleh dia yang sama hebatnya, untuk masyarakatnya yang juga hebat dan tak merengek minta follback.

Jalan masih panjang, kita masih punya harapan bila nanti kandidat tampil lagi di televisi, harus dipastikan bahwa kita ingin mendapatkan informasi yang utuh dan tuntas. Dan di debat publik nanti, para kandidat adalah aktornya, bukan moderator. Panggung untuk moderator cukup di hati saya saja.

Percayalah, tiapkali Clinton tampil memberi pernyataan, yang paling serius menyimak adalah tim Trump, begitu sebaliknya. Bukan bikin kultwit. Ahelah…

Tuan Wahai

Manusia Gembira

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s