Surat Tardidi untuk Oum Awe

Menyenangkan mengetahui bahwa @awemany, sahabat saya, memulai percakapan tentang Pilkada di DKI dengan menelisik visi para kandidat. Ikhtiar yang bagus, merawat pohon-pohon pengetahuan, melalui tulisannya yang berjudul Menandingkan Visi Anies-Sandi dan Ahok Membangun Jakarta.

Kita harus belajar untuk berhenti saling-menyakiti. Mengingat Pilkada bukan memilih Malaikat. Saya sukacita mengasumsi judul yang dilansir Oum Awe dengan menempatkan Anies-Sandi sebagai sepasang, lalu Ahok sendirian, adalah kekurangan pengetikan saja.

Seperti halnya Oum Awe, saya pun percaya pilihan kata menunjukkan makna. Bilang i love you ketika dinner akan berbeda maknanya dibanding bilang i love you ketika mau orgasme. Yang satu jujur, yang satu otaknya sedang tak di situ.

Maka masalah utamanya ada pada beban pemaknaan: bagaimana menaruh makna kata pada sebuah kata? Apakah tiap-tiap kata berdiri sendiri, terlepas dari kalimat, yang membentuk konteks? Apakah teks boleh dilepas dari konteks?
Bra boleh dilepas, saya benar sampai di sini.

Apakah frasa etalase adalah etalase dalam pengertian awam, bahwa ia pajangan? Pada logika bahasa yang tertib, etalase di dalam visi Pak Ahok- Pak Djarot justru jauh dari makna awam. Di situ etalase adalah pigura, semacam benchmark, yang kota lain di Indonesia dapat menjadikannya sebagai tolok-ukur. Kiwari, Jakarta memang metropolitan. Kita tak bisa melarikan diri dari itu.

Maka etalase pada visi tersebut, konteksnya adalah menjadikan Jakarta sebagai barometer. Mengingat ia ibukota. Kita harus tak mengambil sebagian, menyembunyikan sebagian sisanya, hanya supaya seluruh argumentasi kita tampak benar.

Saya justru terkesima pada visi Mas Anies – Mas Sandi (saya kutip sepenuhnya): Jakarta kota maju dan beradab dengan seluruh warga merasakan keadilan dan kesejahteraan. Visi ini, dari sisi saya, seperti komika yang meyakin-yakinkan kita bahwa kontennya sangat lucu, hingga kita berbaik hati menyalah-nyalahkan diri-sendiri bahwa kitalah yang tak punya sense of humour.

Bila kita setuju konstruksi gagasan diwakili oleh kalimat, dan percaya bahwa pilihan kata menunjukkan makna, maka kita harus sepakat bahwa Mas Anies – Mas Sandi percaya seluruh masyarakat Jakarta belum merasakan keadilan dan kesejahteraan. Sebab mereka ingin seluruh warga merasakan keadilan dan kesejahteraan.

Setidaknya ada dua beban pemaknaan pada visi ini. Pertama, kalimat seluruh warga merasakan keadilan dan kesejahteraan adalah gebyah-uyah. Orang sangat kaya ada di Jakarta, dan saya ingin seperti mereka, siapa kita yang hendak mensejahterakan mereka?

Ke dua, Mas Anies – Mas Sandi sedang menyingkir dari polarisasi kaya-miskin yang faktual di Jakarta, lalu menempuh jalan nyaman dengan meletakkan kata seluruh di situ. Saya akan angkat jempol dua jari bila visi tersebut lebih berpihak, dan tak gebyah-uyah.

Di atas semua itu, sulit dimungkiri visi Pak Ahok – Pak Djarot dan visi Pak Anies – Pak Sandi nyaris tak memiliki pembeda. Semua ingin membangun Jakarta, semua ingin membangun manusianya, pada saat bersamaan semua tahu semua itu janji joni.

Mungkin saya yang terlalu berharap bahwa penantang haruslah datang dengan gagasan yang sama menantangnya. Jika ia datang dengan program yang sulit dibedakan, lalu kenapa meletakkan harapan di gerbang yang baru, sedangkan gerbang yang lama masih menyisakan harapan.

Begitulah, kata-kata manis, teks maupun konteks, sering-sering ditujukan untuk menyembunyikan maksud. Sampai di sini, saya manis.
Yang tidak setuju, angkat kaki.

Oum Awe sudah memulai, mengritisi visi dan misi dan program, alih-alih kita saling-menghardik. Layar sudah dikembangkan, jangan surut tuan dan puan.

Dan tentang surat tardidi, silakan tanya Kisbet artinya.

Tuan Wahai

Manusia Gembira

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Surat Tardidi untuk Oum Awe

  1. Dadan Ramdan says:

    Bila sulit dimungkiri visi Pak Ahok – Pak Djarot dan visi Pak Anies – Pak Sandi nyaris tak memiliki pembeda. Semua ingin membangun Jakarta, semua ingin membangun manusianya. Tinggal dilihat apa yang lebih penting orangnya dulu atau jakartanya dulu……
    dan terlebih bila kedua belah pihak baik, maka yang utama buat muslim adalah yang seiman….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s