Menandingkan Visi Anies-Sandi dan Ahok membangun Jakarta

Mengikuti jejak Ahok, Anies -Sandi telah menuliskan Visi mereka. Sebagai penonton yang tidak serta merta netral saya ingin komentar.

Berikut ini adalah Visi dan Misi Anies-Sandi yang saya screencapture dari berita detiknews.com

Analisa perbandingan Visi dan Misi ini berfokus pada pilihan kata yang mereka gunakan. Saya percaya bahwa dalam kata terikat makna. Dalam makna terpaut perhatian. Di sana kita akan temukan hati dan pikiran pembuatnya.

Saya telah melakukannya untuk Ahok diblog ini.
http://wp.me/p1peJz-4C

Dari segi elaborasi kota, Anies-Sandi memilih kata maju dan beradab. Ini adalah terminologi yang bisa dikenakan baik pada hal-hal yang tampak (tangible) atau manusianya. Lalu mereka menuliskan visi tentang manusia yg mendiami kota itu. Beroleh keadilan dan kesejahteraan.

Dari visi ini jelas mereka mengambil posisi untuk membangun manusianya. Sesuatu yg beda dari Ahok. Yang melihat kota sebagai etalase. Entah apa yang hendak dijualnya.

Lawannya akan bilang ini cuma jargon. Apalagi ada Anies yg memang dikenal sebagai konseptor. Ya. Tapi visi adalah bagian penting dari race ini. Dari Visi kita memahami apa yang dianggap penting oleh para kandidat. Kita bisa mengidentifikasi jalan apa yang akan mereka tempuh.

Sungguhpun demikian, dalam kampanye nanti, orang harus tajam untuk melihat. Apakah visi ini memang jadi tumpuan dalam melakukan tugas atau sekedar lips services. Challenge dengan baik.

Saya senang dengan cara Anies-Sandi meletakkan kepemimpinan. Pada misi. Bukan pada visi seperti narsisnya Ahok. Mereka menyadaro kepemimpinan adalah tools atau peran dalam mewujudkan visi. Bukan visi itu sendiri.

Anies dan Sandi menggunakan kata kunci humanis dan mengayomi. Perhatikan perbedaan cara pandang tentang kepemimpinan antara Ahok dan Anies-Sandi.

Ahok menandai kepemimpinannya sebagai bersih, transparan dan profesional. Input oriented. Artinya fokus dalam kepemimpinan itu adalah dirinya sebagai pemimpin. Typical megalomania. Dia yg harus dipentingkan.

Anies-Sandi mengucapkan kepempinannya sebagai humanis (input/proses) dan mengayomi (proses/output). Tentu saja ini adalah cara pandang yang lebih holistik dalam melihat kepemimpinan. Mereka melihat kepemimpinan sebagai kesatuan input-proses-output. Good.

Dari misi ini yang nanti bisa dibikin twitwar adalah perbedaan fokus tentang reformasi birokrasi. Ahok melihat korupsi sebagai sumber masalah di birokrasi pemprov. Anies-Sandi lebih melihat persoalannya ada pada tidak efektifnya birokrasi berjalan. Keduanya punya poin bagus. Saya akan makan kacang di pinggiran dengan nikmat kalau kedua kandidat ini bisa beradu tentang perbedaan prioritas ini. Seru! Seru!

Untuk rujukan, berikut ini adalah misi yang dituliskan Ahok.

Elaborasi Ahok tentang kebutuhan dasar warga dalam misinya lebih bagus dari yang dipunyai Anies-Sandi. Dia mulai dengan perbaikan sumberdaya manusia (kesehatan & pendidikan untuk kemudian batas layak (hunian & pangan). Dia lanjutkan dengan mobilitas (transportasi) baru yg terakhir lapangan kerja dan kesempatan untuk hidup lebih baik. Secara struktur ini lebih baik karena lengkap dan berada dalam satu kesatuan.

Anies-Sandi juga bicara itu. Namun mereka bicara itu di dua tempat yang terpisah. Artinya fokusnya bisa berbeda.

Tempat pertama ada di misi pertama. Misi untuk membangun manusia Jakarta yang berdaya. Mereka mengelaborasi itu sebagai stabilitas /keterjangkauan harga pangan, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan. Menarik untuk melihat adanya kebudayaan dalam membangun manusia Jakarta yang berdaya di sini.

Namun, fokus pada upaya pemberdayaan itu, membuat mereka luput untuk meletakkan hunian yang layak sebagai fokus. Nobody perfect.

Tempat yang kedua ada di misi ke tiga, membangun kesejahteraan. Di sini terdapat upaya untuk menyediakan lapangan kerja dan mobilitas warga. Anies-Sandi menggunakan 2 dari 3 misinya untuk membangun manusia.

Untuk fair-nya Ahok juga menuliskan 1 butir misi lagi yang terkait dengan pembangunan manusia. Menjadikan 2 dari 5 misinya memang tentang pembangunan manusia.

Namun saya tidak suka dengan isinya. Pada butir ke-4 dia bicara tentang pembangunan sumberdaya manusia sebagai kapital. Yang digunakan untuk bersaing dengan kompetisi global. Dia tidak bicara tentang pembangunan manusia agar makmur, sejahtera atau berkeadilan. Jadi jelas sekali ya visinya tentang manusia Jakarta.

Tentang membangun kota, ada perbedaan tajam pada penggunaan katanya. Ahok menuliskannya dalam dua butir misi. Dia menggunakan kata tehnologi dan infrastruktur kelas dunia. Di lain sisi, Anies-Sandi memberikan tekanan pada daya dukung lingkungan dan sosial. Dari sini juga dapat disimpulkan arah dan cara berfikirnya. Ahok bicara etalase/peragaan. Anies-Sandi bicara kehidupan.

Baiklah. Pada akhirnya saya harus bilang, visi bukan persoalan mana yang benar atau salah. Ini persoalan visi mana yang kita anggap paling sesuai bagi diri kita. Berita bagusnya, kedua kandidat ini memang memiliki visi yang cukup berbeda. Perbedaan inilah yang perlu dipertajam dalam kampanye agar kita bisa memilih yang terbaik bagi kita. Tabik.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Menandingkan Visi Anies-Sandi dan Ahok membangun Jakarta

  1. Saya mencermati isi dari visi misi kedua pasangan berdasarkan penjelasan dari anda justru berpendapat bahwa Ahok mengajak dan merencanakan Jakarta sebagai kota modern yang diimpikan banyak orang tak hanya warga Jakarta tapi semua masyarakat Indonesia ingin menunjukan Ibu Kota Negara sebagai kota yang tidak kalah saing dengan ibu kota – ibu kota negara besar lainya. Sementara Anis dengan Visi Misinya justru ingin mengembalikan Jakarta sebagai kota yang biasa – biasa saja tanpa berani bersaing dalam persaingan global. Ahok berani menjanjikan hunian yang layak bagi masyarakat Jakarta sedangkan Anies justru menjanjikan kesejahteraan dengan mengayomi, mungkin saja yang dimaksud mengayomi ini adalah membiarkan masyarakat tinggal didaerah kumuh atau di tepi sungai dan membiarkan mereka tenggelam dalam genangan banjir, rasanya seperti membiarkan anak – anak kecil yang sedang bermain dengan bahagia di kubangan lumpur tanpa menjelaskan ketidaktahuan mereka akan bahaya bakteri – bakteri penyebab penyakit diare.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s