Menjadi Underdog. Mengalahkan Ahok.

Hasil bacaan awal tentang Agus-Sylvi dari Political Wave menunjukkan impresi yang positip. Momentum ini harus digunakan baik.

Mereka akan segera bertarung sebagai underdog melawan petahana yang nampak perkasa dengan” hasil kerjanya”.

Maka bertarunglah seperti underdog dengan sebenar-benarnya. Dan sehormat-hormatnya. Ini memiliki beberapa prinsip dasar yang ingin saya diskusikan.

Malcolm Gladwell dalam bukunya David and Goliath menerangkan ada 3 perkara yang penting dicermati saat mengambil posisi sebagai underdog.

1. Mencari manfaat dari kelemahan dan mencari kerugian dalam kekuatan untuk mengubah medan pertandingan.
2. Mengubah kelemahan menjadi kekuatan.
3. Memahami keterbatasan kekuatan lawan.

Mari kita mulai dengan assessment terhadap pasangan Agus-Sylvi. Mencari PERSEPSI kelemahan mereka di mata publik.

Kita berangkat dari yang obvious. Agus tidak akan ada di sana kalau bukan anak SBY. Ini adalah bentuk dinasti politik yang rentan akan tuduhan nepotisme, kolusi dan korupsi.

Agus juga dianggap tidak punya pengalaman untuk memimpin kota sebesar Jakarta. Pengalaman militernya belum membuat dia memiliki cukup leadership. Yang saya maksud di sini adalah wibawa untuk menyatukan pendapat-pendapat yang berbeda.

Pilihan pasangannya, Silvy sebenarnya bisa menutup kekurangan Agus tentang pengalaman. Sebagai birokrat karir di pemprov DKI, Silvy seharusnya tahu betul isi perut Jakarta. Lebih dari semua calon.

Namun, kita bicara tentang skill, knowledge dan leadership yang dibutuhkan untuk membuat keputusan untuk kepentingan publik. Agus bisa lemah di sini.

Kelemahan yang ketiga tentunya adalah popularitas dan kedalaman pengenalan terhadap Agus-Sylvi. Mereka memang tiba-tiba saja ada di situ. Masih banyak yang berkomentar ” Agus who?” Yang kemudian dijawab sendiri “Oh, Agus You don’t know”. Fair.

Tiga kelemahan ini membawa persepsi Agus bukan lawan sebanding Ahok. Dan mereka bisa jadi benar.

Sementara, kekuatan Ahok ada pada tiga perkara juga.

Kekuatan yang pertama, saya kira ada pada kredibilitasnya. Masyarakat percaya pada kesungguhan hatinya. Dia dianggap anti-thesis dari politisi yang bekerja hanya untuk kepentingan kelompoknya. Sudah diperlihatkan data tentang perilaku opportunistnya, toh masyarakat bergeming. Saya membeberkan fakta 20 kebohongan Ahok selama 2 tahun jadi gubernur tapi tidak ada resonansinya. Sebegitu kuat rasa percaya masyarakat.

Kekuatan yang pertama ditunjang oleh kekuatan yang kedua yaitu keberaniannya melawan arus besar politik. Dia berani berseberangan dengan partai besar. Dia memusuhi semua orang. Dan yang terakhir, dia berani untuk melakukan tindakan yang beresiko, seperti penggusuran. Saya kira, berani memang nama tengahnya.

Kekuatan yang ketiga adalah hasil kerja yang nyata bisa terlihat. Tidak ada yang peduli tentang kegagalannya memenuhi APBD. Tidak juga tentang macet dan banjir yang masih selalu jadi persoalan. Atau bahkan korupsi yang belum berhenti.

Pengerukan kali, betonisasi sungai dan pasukan oranye telah cukup bagi publik untuk melihat kesuksesannya. Tentu karena ada fotonya di mana-mana.

Jalan layang yg dibangun di beberapa tempat, pengaspalan atau kadang penyemenan membawa kesan yang dalam bagi warga. Pembangunannya nyata. Uangnya tidak dikorupsi lagi.

Belum lagi soal beli bis atau membangun RSUD dan RPTRA. Foto-fotonya ada. Anda ngga bisa ingkar dan itulah kekuatannya.

Kepercayaan publik, keberanian dan hasil kerja nyata ini satu nafas. Semua memusat pada suatu sosok manusia yang dianggap superman. Ahok.

Bagaimana cara melawannya?

First of all, ini harus disadari sebagai pekerjaan yang tidak mudah. Bagai David melawan Goliath. Kalau anda ngga pernah dengar kisahnya, anda pasti bertaruh untuk Goliath.

Kaidah pertama adalah mengubah cara pandang terhadap pertempuran. Melakukan redefinisi terhadap medan pertandingan. Ingatkan kembali apa makna pemilihan gubernur.

Memilih gubernur bukan sekedar memilih orang. Namun esensinya adalah memilih JALAN yang kita tempuh untuk menciptakan kota ideal.

Ahok adalah sopir. Sebagai sopir dia punya kualitas yang diperlukan untuk membawa penumpang. Super.

Berkompetisi untuk memilih sopir, Agus dan juga Anies sudah tertinggal jauh. Ngga ada yang punya pengalaman jadi sopir juga.

Tapi bicara tentang arah pembangunan Jakarta, Ahok bisa punya masalah banyak. Ahok tidak punya visi tentang membangun manusia. Solusinya selalu short-cut. Langkah pintas. Terlihat bagus karena ada fotonya. Tapi dibalik foto bagus itu, tidak ada sustainabilty. DEBATABLE mungkin. Tapi akan mengundang Ahok untuk masuk ke medan pertandingan yang berbeda.

Kalau jualannya pinter, ke-superman-an (saya tidak tahu apakah ini bentuk baku) Ahok bisa menjadi titik lemah.

Sebagai sopir dia bisa menjual dirinya sendiri. Kredibilitas, keberanian dan pengalaman kerja. Namun saat dia diajak untuk membedah visinya tentang arah pembangunan Jakarta, orang bisa jadi mikir. Yang ngga setuju dengan visi Ahok bisa berubah pikiran.

Kekuatan Ahok tidak lagi bisa digunakan saat kita bicara tentang ARAH pembangunan Jakarta. Medan pertandingannya sudah beda. Kelemahan Agus bisa jadi irrelevant.

Poin yang kedua adalah tentang desirabilty difficulties. Jika anda baca bukunya, ini tentang mengubah handicap/ halangan menjadi sesuatu hal yang positip dalam memenangkan pertandingan.

Contohnya, seorang petinju kidal akan memiliki tangan kanan yang lebih kuat dari tangan kiri orang yang bukan kidal. Hal ini terjadi karena dia harus melatih tangan kanannya untuk mengikuti gaya bertinju lawan”nya yang biasanya bertangan kanan.

Apa kelemahan Agus yang bisa dijadikan titik tumpu untuk memenangkan race ini? Menurut saya, share of awareness beserta depthnya.

Share of awareness Agus kalah jauh dari Ahok. Jadi, tim kampanye Agus harus putar otak untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari Ahok. Yang pinter, ya.

Bikin sesuatu seperti Sohib Agus itu hanya akan jadi lelucon. Udah nyontek, ngga substantial juga. Suram.

Ada hal yang penting untuk dicatat tentang dukungan terhadap Ahok. Dukungan tanpa merasa perlu terlibat. Percayakan semuanya pada Ahok. Kasih KTP saja. Yakin deh Jakarta bakal beres.

Saat kita membangun manusia, proses untuk melibatkan orang ini menjadi kritikal. Kampanyenya harus menjadi dua arah. Mendengar jadi atribut yang penting. Kemampuan yang Ahok ngga punya. Harusnya tim Agus bisa memanfaatkan ini.

Bagian yang terakhir yang dibahas Malcolm itu memiliki banyak sisi. Yang relevan dengan diskusi kita adalah tentang memahami batas kekuatan lawan.

Seorang Goliath cenderung untuk memaksakan kekuatannya di luar batas. Pada saat tenaganya habis, dia akan mudah dijatuhkan.

Ambil contoh sederhana tentang pembersihan kali. Ahok dan pendukungnya sangat yakin akan kekuatan dari hasil kerja ini. Akibatnya overkill. Diramein di mana-mana. Terus menerus.

Mereka lupa. Hal yang sudah terlalu sering dibicarakan akan segera basi. Dampak memperlihatkan kali bersih beberapa bulan yang lalu mungkin sudah akan basi bulan februari tahun depan. Saat hari pemilihan orang bisa punya fokus berbeda.

Tim kampanye Agus harus cermat memahami batas-batas ini. Untuk kemudian melakukan tindakan cerdas.

Saya sih percaya pertarungan masih panjang. Ahok bisa dikalahkan.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Menjadi Underdog. Mengalahkan Ahok.

  1. Ziaul haq says:

    Teamnya mas agus perlu ‘meguru’ ama om awe ini…koentji !!!

  2. Dedi Ekafibrata says:

    Kalau saja bisa berbagi tugas antara pasangan Agus Sylvi dg Anies Sandi untuk mengeksplor kelemahan Ahok menjadi kekuatan dua pasangan ini..bukan tidak mungkin putaran pertama Ahok tersungkir..seperti Survai Deni JA..Ahok dapat dikalahkan.. Di putaran pertama ini sampai februari..dua pasangan ini fokus dan sinergi menggerogoti kelemahan Ahok..karena seperti tekad Ahok dan timnya tidak akan merubah gaya Ahok yg keras dan cablak.. Dan yg perlu diperhatikan respon para buzzer Ahok dan Ahok sendiri..yg super sensitif terhadap serangan lawan yang mengakibatkan semakin membusukkan Ahok..gaya Ahok yg super pede..terus melanjutkan reklamasi dan penggusuran..semakin membuka siapa Ahok.. Dan ada yg perlu di syukuri oleh dua pasangan ini..bantuan alam dengan musim hujannya..banjir dan macet dimana mana yg mengingatkan warga DKI dan kaum fanatiknya ..ternyata Ahok manusia biasa yg bukan superman..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s