Bertandinglah Ahok. I’m out.

We deserve the leader we elect. Agak sulit untuk menerjemahkan kata deserve di sini. Karena ini bukan soal layak atau pantas. Ini soal beroleh ganjaran atas pilihan kita. Atau mungkin cermin.

Drama sudah dimulai dua tahun yang lalu. Konfrontasi dengan H. Lulung dalam kasus UPS adalah suatu set-up dalam grand scenario. Mempertahankan jabatan di 2017.

Butiran benih persepsi sudah mulai ditanam. Bersih vs Korup. Karena ini yang akan jadi kunci untuk memikat voter. Ahok dan konsultan politiknya tahu, mereka butuh untuk melakukan demonisasi lawan-lawannya.

Salah satu narasi awalnya adalah nyali untuk melawan hegemoni partai yang dianggap biang kebobrokan pemerintahan. Kita beli.

Pada momen yang tepat, Ahok mengembalikan kartu anggota partai Gerindranya. Saya ingatkan buat yang lupa. Ini soal pilihan pilkada langsung vs tak langsung. Dikemas dengan nada seolah pilkada pilihan DPRD hanya akan menghasilkan pemimpin yang korup.

Anda akan lihat bangunan argumennya didasari oleh prasangka. Sesuatu yang dia tolak waktu dia mengajukan JR tentang cuti kampanye. Tapi tentu kita tidak mengharapkan lagi Ahok untuk konsisten. Wes biyasa.

Ketidakmampuan Ahok untuk bicara santun ditwist dengan luar biasa. Ketinggian tutur kata yang biasanya jadi penanda kedalaman berfikir dan pengendalian emosi, diberikan makna baru. Korup. Tidak pernah kata santun mengalami penurunan makna jadi serendah ini. Hanya Ahok.

Lawan-lawannya masuk dalam jebakan narasi bersih vs korup/santun itu. Ahok bebas berkoar apa saja. Kemampuan untuk berfikir dalam dan mengendalikan emosi tidak lagi jadi penentu karakter pemimpin yang baik. Suram.

Anti korupsi adalah janji yang besar. Pembuktiannya harus dilakukan dengan cara yang besar pula. Dengan duit 70T di tangan, dia bagi-bagi duit lewat KJP, dia beli bis, dia bersihin kali, dia bangun taman, rusun, RPTRA, RSUD. Banyak.

Tentu saja ini ngga bakalan bunyi kalau tidak dipush oleh media. Tapi mereka tahu, yang sinis, selalu bisa bilang media bisa dibeli. Disitulah letak jeniusnya si konsultan. Pushing isunya melalui gerakan “volunteer” bertajuk @TemanAhok.

Persepsi dimenangkan melalui penguasaan media dan sosial media. Karenanya, sesuatu yang masif harus dilakukan agar penanaman persepsi itu bisa punya alasan. Kumpulin KTP untuk Ahok!

Dibungkus dengan semangat mempertahankan Ahok di 2017, upaya ini telah jadi akrobat yang luar biasa. Dari mulai maki-maki parpol sampai bergandengan erat. Minta orang loncat dari Monas tapi ngga berani diverifikasi berapa sebenarnya KTP yang terkumpul. Dari keukeuh kalau gerakan ini sukarela sampai ngaku kalau memang ada yang dibayar. Siapa yang masih ingat kalau KTP dikumpulkan untuk Ahok-Heru? Warbiyasa.

Saya tidak faham apakah ini by design atau reaksi terhadap lawan-lawannya. Namun pada satu titik, mereka bisa menanam ide, menolak Ahok adalah pemihakan terhadap rasisme, bigotry dan politisi korup. Pertarungan segera menjadi nasty.

Basian perseteruan pilpres menemukan lagi medan perangnya. Dua tahun terakhir ini kita disibukkan oleh banyak pertempuran-pertempuran. Mulai dari Kampung Pulo, Sumber Waras, Kali Jodo, Reklamasi, Luar Batang sampai Rawa Jati. Sayangnya kita gagal mencermati visi, karakter, skill dan leadership Ahok. Kita sibuk main kubu. Membela dan menyerang.

Kita gagal mendiskusikan visi ahok tentang bagaimana menyelesaikan masalah kemiskinan kota. Kita tidak punya pemahaman tentang prioritasnya untuk melakukan penertiban. Kita tahu dia mau bikin kota ini rapih. Kita semua juga ingin begitu. At what cost? By what means?

Saya tidak tahu kota ini mau diapakan. Seolah dengan beli bis, bersihin kali, bangun ini-itu, selesai perkara.

Berita tentang ketidakmampuan Ahok memenuhi APBD dan bahkan penolakan laporan pertanggungjawabannya, hilang dimakan berita perseteruannya dengan DPRD. Seolah itu semua salah BPK dan DPRD. Ahok menang banyak.

Berita ketidakmampuannya mengelola aparatnya tidak terangkat. Mulai dari main pecat semaunya (kasus kepala sekolah dimana dia kalah di PTUN) sampai bukti masih banyaknya korupsi di lingkungan kerjanya. Yang disalahkan selalu anak buah. Atau sabotase.

Ahok jadi orang yang tak tersentuh salah.

Tadinya saya masih berharap PDIP menyiapkan calonnya sendiri. Mungkin bekerja sama dengan Gerindra. Risma-Sandiaga mungkin.

Saat PDIP mengambil posisi melawan Ahok melalui figur yang kuat, wacana tentang pemimpin kafir vs muslim bisa agak diredam. PDIP jelas bukan partai yang merepresentasikan muslim.

Dengan begitu, pilkada DKI masih bisa tentang visi. Tentang kompetensi, karakter dan leadership. Buat saya ngga penting siapa yg menang. Karena kemenangan sebenarnya adalah mengajarkan publik bagaimana kita harus memilih pemimpin.

Selama ini saya perlu untuk memperlihatkan Ahok masih bisa dilawan. Dia memiliki banyak kelemahan karakter yg bisa diserang. Dia ngga punya visi, skill dan leadership yang diperlukan. Melawan Ahok, tidak serta merta membakar uang seperti yang dibilang orang.

Upaya itu diperlukan agar partai-partai besar percaya diri untuk memunculkan figur yang layak tanding. Tapi siapa saya? Hanya riak diantara gelombang irrasionalitas yang ada. Saya kalah dan karena itu jadi salah.

Kedepannya akan ada ulangan pilpres 2014 dengan intensitas yang jauh lebih dahsyat. Saya ngga mau terjebak di dalamnya.
Seperti saya bilang, saya cuma mau nonton di pinggirin sembari makan kacang.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Bertandinglah Ahok. I’m out.

  1. Bily says:

    > Ahok jadi orang yang tak tersentuh salah.

    Hahahahaha… buat sebagian pendukungnya memang begitu. Tapi juga ingat, buat sebagian penolaknya juga berlaku sebaliknya, Ahok jadi orang yg tak tersentuh benar/baik. Berprasangka bahwa Ahok demikian bodohnya namun mampu bikin skenario secanggih yg Anda tulis di atas. Menganggap semua yg dilakukan Ahok penuh agenda keburukan belaka, tanpa ada kebaikan sama sekali. Sok yakin Ahok selalu salah sambil sok yakin lawannya selalu benar. Memperlakukan Ahok seperti malaikat itu sama bodohnya dgn memperlakukan Ahok seperti setan. Semoga Anda tak termasuk sebagian yg demikian. 🙂

    Toh pada akhirnya, pejabat publik yg dipilih mencerminkan harapan warga yg memilihnya. Warga DKI akan memilih siapa pun yg menurut mereka pantas dan layak jadi gubernur mereka. Jika pilihannya terbukti baik, mereka akan apresiasi. Sebaliknya jika terbukti buruk, mereka akan kritisi. Saya lebih percaya pada warga DKI daripada analisis Anda ini. Biarkan waktu yg kelak menjawabnya. Atau mungkin Anda akan bertanya pada rumput yg bergoyang? 😀

  2. Yuk makan kacang bareng mz.. lupakan negara~

  3. notsowiseman says:

    saya sangat takjub dengan seberapa anda peduli dengan ahok. berapa banyak topik tentang ahok di blog ini?

  4. @amarissega says:

    Tulisannya bagus! Diantara segitu banyaknya irrasionalitas yg ngebela ahok. Tapi ga ngaruh juga, KTP saya Tangsel 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s