Antara kesetaraan gender dan nilai-nilai kekeluargaan. Mari menari.

Saya tidak percaya pada naluri keibuan. Memiliki vagina bukan serta merta menjadikan perempuan berkeinginan untuk memiliki dan merawat anak.

Banyak kasus yang terjadi tentang bayi-bayi yang dibuang atau perempuan yang menolak untuk punya anak. Ini memperlihatkan menjadi ibu bukan semata tentang naluri atau kodrat.

Keinginan untuk menjadi ibu dan tanggung jawab merawat anak merupakan perilaku sosial yang dibentuk masyarakat. Agar berkesinambungan, kultur itu ditegaskan melalui institusi keluarga dan nilai-nilai yang menyertainya.

Dalam penanaman perilaku sosial itu tersembunyi dorongan umat manusia untuk survive sebagai species. Harga yang dibayar tidak murah. Selama berabad-abad, perempuan dikungkung untuk kemudian dijadikan faktor produksi. Dimiliki lelaki untuk kemudian dimanfaatkan rahim dan tenaganya. Bagi survival kita sebagai species.

Gerakan kesetaraan gender yang bermula di awal ujung abad ke-19 telah mulai memperlihatkan hasilnya di negara-negara barat. Dari keberhasilan memperjuangkan hak untuk memilih di tahun 1920, saat ini Amerika sudah siap untuk memiliki Presiden perempuan.

Namun di akar rumput, diskriminasi terhadap perempuan masih praktik yang meluas. Masih diperlukan berpuluh tahun lagi untuk masyarakat bisa melihat perempuan benar-benar setara dengan laki-laki. Itu di Barat.

Perempuan di Timur/Selatan masih jauh tertinggal dalam penghormatan atas hak mereka. Kita di Timur/Selatan mungkin masih harus menunggu satu pergantian abad lagi.

Lalu gimana?

Mari kita bayangkan suatu skenario optimis di dua abad mendatang. Masyarakat di seluruh dunia telah menjamin hak bagi perempuan untuk melakukan apa saja dengan tubuhnya. Very good.

Katakanlah, untuk melengkapi argumen, nilai-nilai keluarga telah hilang dari pemikiran. Tidak ada lagi dorongan dari masyarakat yang menjadikan perempuan “berkewajiban” untuk melahirkan anak dan merawatnya.

Berapa persenkah dari perempuan pada abad itu yang memilih untuk memiliki anak? Buat apa juga? Mereka akan kehilangan 2 atau 3 tahun dari hidup mereka sampai anak siap disapih. Untuk kesenangan apa? Tidak ada masyarakat yang memuji pengorbanannya. Tidak ada suami yang bertanggungjawab untuk turut membiayai perawatan anaknya. Dan dalam waktu 18 tahun kemudian, setelah penat membesarkan, si anak pergi tanpa memiliki ikatan dengannya. Suram.

Ingat, di sini kita andaikan nilai-nilai keluarga telah hilang di masyarakat.

Saya kira tidak banyak perempuan waras yang ingin melahirkan dan merawat anak di abad itu. Setelahnya, kepunahan umat manusia tinggal soal waktu. Atau roda kembali diputar dan perempuan kembali dipaksa untuk melahirkan. Itu adalah skenario yang ada saat nilai-nilai kekeluargaan telah hilang di masyarakat.

Jadi, di sini, ada dua gerakan yang kita jaga agar mereka tidak saling melenyapkan. Gerakan kesetaraan gender dan gerakan mempertahankan nilai-nilai keluarga. Harus ketemu titik komprominya.

Saya paham, nilai-nilai kekeluargaan memerlukan pembagian peran yang jelas antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Perbedaan peran tentu saja akan diikuti oleh perbedaan hak dan kewajiban.

Masyarakat perlu memelihara kelanggengan institusi keluarga dengan membatasi faktor-faktor yang merusaknya. Penghukuman atas selingkuh, misalnya.

Masyarakat perlu untuk membuat keluarga sebagai sesuatu yang aspirasional. Artinya, keluarga memiliki manfaat yang tidak akan diperoleh kalau tidak ada di dalam institusi itu. Berhubungan sex, misalnya. Selain dalam ikatan perkawinan tentu harus dilarang.

Masyarakat perlu untuk membuat kesinambungan keluarga dengan nilai-nilai penghormatan kepada orang tua. Selain tentunya hak waris. Ini menjaga anak agar tidak menterlantarkan orang tua.

Semua argumen tadi adalah argumen rasional terhadap pemaksaan moral terhadap masyarakat. Bukan bicara soal ayat ini atau ayat itu.

Saat kita tidak mau bicara moral, kita akan segera melunturkan nilai-nilai kekeluargaan. Ingat, diujungnya ada kepunahan kita sebagai species.

Di lain segi, pembagian peran yang tidak adil akan memperbesar jurang sumberdaya antara laki-laki dan perempuan. Menjadikan perempuan memiliki ketergantungan pada lelaki. Pada akhirnya itu membawa dominasi lelaki yang mencelakakan perempuan.

Memaksa perempuan untuk memelihara tubuhnya demi kepentingan lelaki jelas tidak adil. Walaupun dengan argumen kepunahan species. Apalagi menerapkan standar ganda moral terhadap laki-laki dan perempuan. Ketidakadilan ganda.

Saya ngga punya solusinya. Yang saya tahu dengan ketimpangan besar antara laki-laki dan perempuan, saya adalah pendukung gerakan kesetaraan gender. Membela nilai-nilai kekeluargaan bisa menunggu. Toh masih dua abad lagi.

Namun, saya tidak ingin orang berhenti untuk bicara tentang nilai-nilai kekeluargaan. Melakukan reformulasi pada pembagian peran yang lebih adil antara laki-laki dan perempuan. Tanpa merusak nilai-nilai kekeluargaan itu.

Walaupun saya tidak ingin melibatkan negara, saya ingin terus ada yang mengingatkan kita atas bahaya zina atau sex bebas. Untuk kelangsungan spesies kita. Hanya dengan itu kita bisa memperpanjang kelangsungan spesies kita. Masuk sorga sih nomer sekian.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Antara kesetaraan gender dan nilai-nilai kekeluargaan. Mari menari.

  1. Andreas says:

    Karena ngomongin skenario optimis dua abad mendatang, saya jadi berimajinasi yang tak tanggung-tanggung. Dari segi teknologi, ada dua hal yang bisa menjadi ‘solusi’:

    1. Bayi dikandung dan dilahirkan -literally- dalam tabung. Mereka kemudian dirawat dan dibesarkan oleh institusi yang dibiayai oleh negara hingga dewasa. Kelangsungan spesies tetap terjadi tanpa perlu institusi perkawinan dan keluarga alami.

    2. Teknologi perpanjangan harapan hidup berkembang pesat. Manusia kini bisa hidup ratusan tahun tanpa dijangkiti penuaan. Spesies tetap diregenerasi oleh segelintir kecil keluarga alami, tapi kini tak ada tekanan karena angka kematian juga menurun drastis.

  2. StalkerStelar says:

    terdapat permasalahan dengan pernyataan di atas,
    PERTAMA, jika memang benar bayi tersebut dirawat oleh institusi negara, maka seluruh cara hidup bayi2 yang dirawat tersebut akan selalu ditentukan oleh negara, dimana menurut zaman sekarang adalah suatu pemaksaan……… balik2 ujung2nya pertanyaannya akan bersifat filosofis, bolehkah manusia memiliki keinginan bebas? sementara bayi tabungnya sendiri dari kecil sampai besar hidupnya tergantung negara…..
    YANG KEDUA, apa kegunaan perpanjangan umur jika nantinya populasi manusia akan semakin memadat, karena pada dasarnya manusia sama2 ingin selalu bertahan hidup, pastilah tidak akan ada yang ingin mati atau istilah halusnya menunda kematian. apa mau dicekoki dengan doktrin keagamaan yang akan punh di 2 abad mendatang itu? atau mau dimatikan secara berkala? harap diingat bahwa tempat di planet bumi yang mampu ditempati sebenarnya amat sedikit….. kalaupun ingin pindah ke planet-planet habitable lain (yang saya masih su’udzhon bakal ketemu dalam 2 abad mendatang sambil memiliki sumber daya yang cukup kesana), apakah orang2 panjang umur ini akan bisa dibawa kesana tanpa menghabiskan biaya yang sangat besar….. mohon maaf, ongkos untuk menjadikan semua manusia panjang umur terlalu besar untuk ditanggung planet bumi….. dan umat manusia
    btw artikel ini terlalu berharap seolah2 manusia akan menjadi makhluk rasional, lupa kalo BREXIT dipilih oleh orang2 yang mengaku berjiwa rasional……. LOL
    (tapi Artikelnya benar2 bagus, HENTIKAN TWITTER HIDUPKAN BLOG!!!!!!!)

  3. Andri says:

    Sejujurnya saya merasa tulisan ini ditujukan untuk menjelaskan nilai2 keluarga tradisional yang bertentangan dengan prinsip kesetaraan gender.
    Kesetaraan gender menjadi perhatian dan tujuan masyarakat modern karena alasan2 yang jelas : ketimpangan.
    Kalau dalam usaha menyetarakan tersebut masyarakat seolah2 bersinggungan dengan nilai keluarga bisa kita lihat lebih jauh.
    Nilai keluarga yang dijabarkan Om adalah nilai keluarga tradisional. Erat terkait dengan budaya tradisional atau agama. Nilai2 keluarga modern bisa berangkat dari fungsi untuk perlindungan dan pendidikan (mempersiapkan) generasi baru, seperti pada 8 nilai keluarga BKKBN-pun rasanya masih cukup relevan Om, tanpa menyinggung kesetaraan gender (kalau kita tetap tidak melibatkan ayat2).
    Jadi kenapa tidak mengadopsi nilai2 keluarga yang lebih modern lagi yang benar-benar berfokus pada fungsi utama keluarga?

    8 nilai keluarga BKKBN bisa dibaca di sini :
    “https://m.facebook.com/notes/9-summers-10-autumns-the-movie/8-fungsi-keluarga/355514067854096/ “

  4. awemany says:

    Terima kasih komennya. Di artikel itu saya juga bicara kebutuhan reformulasi peran dalam keluarga. Ini nanti yg menyangkut pembagian peran gender dalam keluarga. Wacana kesetaraan gender dalam keluarga harus didiskusikan dalam konteks itu. Akan jadi artikel yang berbeda :).
    Namun, dasarnya artikel ini ingin mengingatkan adanya kebutuhan untuk mempertahankan institusi keluarga. Sesuatu yg tidak bisa diabaikan oleh gerakan kesetaraan gender. Maka itu menarilah. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s