Partai Politik itu penting guys. Masuk, yuk.

Anda boleh mengomel atau bahkan memaki pejabat publik atas kinerja dan dungunya kebijakan mereka. Namun harus saya ingatkan, hulunya pada diri anda.

Saat kita abai pada proses politik, kita telah memberikan kesempatan pada orang-orang yang kita anggap dungu untuk berkuasa atas diri kita. Awal mulanya, selalu, keengganan kita untuk terlibat.

Delapan belas tahun sejak reformasi dicanangkan, kehidupan politik kita sudah banyak berubah. Sayang, belum menuju arah yang kita inginkan.

Saat tirani Soeharto berakhir, kekuatan real negara telah terbagi-bagi. Yang saya maksudkan dengan kekuatan real di sini adalah:
1. Memungut pajak dan memanfaatkan kekayaan negara.
2. Membuat aturan atas diri kita.
3. Melakukan kekerasan pada diri kita secara legal
4. Memberikan penghakiman.

Pada era Soeharto, sungguhpun kita mengenal trias politica, kita tahu semua diorkestrasi oleh tangan yang sama. Kini banyak tangan yang bekerja.

Dalam hitungan saya, setidaknya ada 4 tangan utama. Dan pada tiap-tiap tangan masih banyak yang beradu. Sebenarnya bagus.

Tangan pertama adalah partai-partai politik. Ada beberapa partai besar yang jadi patron. Sayang pengikatnya adalah bagi-bagi kekuasaan. Dan mungkin uang di ujungnya.

Tangan yang kedua adalah oligarki keluarga/putra daerah. Mereka memang masuk dalam partai politik. Tapi kita tahu parpol bagi mereka hanya kendaraan semata. Fenomena ini terlihat di berbagai daerah di Indonesia. Kita tahu keluarga mana di daerah itu yang jadi patron politik.

Tangan ketiga adalah kepolisian sebagai kekuatan yang memiliki legalitas melakukan kekerasan. Tentara telah kita sapih dari hal itu.
Sungguhpun kita masih melihat di sana sini, oknum tentara masih coba-coba. Problemnya, paska Soeharto, kepolisian ini menjadi kekuatan yang sulit untuk dikendalikan. Terlalu besar dan kuat.

Tangan keempat adalah kaki yudikatif dalam trias politica. Meskipun cukup merdeka dari pengaruh politik, sepertinya mereka masih terlalu haus dengan uang suap. Sungguhpun banyak kasus KPK yang menyasar hakim, belum keliatan juga mereka akan segera berubah.

Saat ini mari kita tunda untuk bicara tentang tangan kedua, ketiga dan keempat. Saya mau fokus pada tangan pertama. Karena inilah kunci utamanya.

Partai politik kita masih dipenuhi oleh para oportunis. Dengan sedikit orang baik di tengah para penjarah itu. Kepada orang-orang baik itu, kita menaruh banyak hormat. Namun, seberapa banyak yang mereka mampu lakukan?

Dalam partai politik itu terdapat kekuasaan untuk mencalonkan wakil-wakil kita di lembaga legaslatif dan eksekutif. Bahkan mereka punya kekuasaan (melalui kadernya di eksekutif dan legislatif) untuk memilih hakim agung dan hakim konstitusi. Belum lagi kekuasaan untuk memilih anggota-anggota komisi negara.

Dengan kekuasaan yang sebegitu besar, kita dengan pongahnya melihat parpol hanya sebagai kumpulan orang dungu yang haus kekuasaan. Saya harus bilang, kitalah si dungu itu.

Dalam tiap pemilihan umum, selalu ada upaya untuk memberikan partai alternatif. Sebagai jawaban dari kebencian dan kemarahan kita pada parpol-parpol yang kita katakan busuk. Belum ada yang sukses. Padahal, kalau angka golput bisa dianggap sebagai penolakan terhadap partai yang ada, terdapat potensi 30% suara bagi partai baru yang kredibel untuk membuat perubahan.

Dari mana datangnya kredibilitas?
Dari kita semua!

Mari kita bergerak lebih dari sekedar omelan dan caci maki terhadap politikus yang saat ini ada. Mari bekerja dalam suatu partai yang memang kita punya. Bersama kita membangun jaringan. Kali ini bukan cuma untuk mendukung tokoh yang akhirnya bikin kita kecewa. Kali ini untuk menempatkan diri kita atau orang-orang serupa kita untuk duduk dalam lingkar-lingkar kekuasaan. Agar kita punya suara dalam membangun Indonesia.

Sedikit air bersih masuk kubangan bisa jadi kotor. Tapi kalau kita gelontorkan gelombang air bersih, kita bisa mengusir kotoran dari kubangan itu. Mau?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s