​Kog Ahok?

Sebelum memulai semua ini, saya angsurkan satu pertanyaan ini: saya keren gak?

Saya segera melarikan diri bila ada yang menyatakan Pilkada DKI 2017 akan berlangsung satu putaran saja. Sebab, akan ada minimal tiga pasangan calon: Koh Ahok, Mas Sandi (atau Pak YIM), dan Golput.
Rakapitulasi yang paling memungkinkan adalah Koh Ahok mendapatkan maksimal 33 persen suara, Mas Sandiaga Uno (atau Pak YIM), mendapatkan maksimal 29 persen suara, sedangkan 38 persen suara adalah golput. Pilkada DKI dimenangkan Golput.

Matematika di atas bisa berubah bila pasangan calon menjadi empat. Atau prosentasenya bertukar tempat. Tapi pemenangnya tetap Golput.
Ada pun suara birokrat atau PNS di Pemda DKI dan keluarganya, sebaiknya tidak usah dihitung. Sebab junjungan mereka adalah Bank DKI, tempat mereka menitipkan SK Kepegawaian. Mereka membaca arah angin, dan sadar sepenuhnya gubernur adalah jabatan sementara sedangkan tagihan di Bank DKI adalah selamanya.

Tapi data-data di atas bisa segera diabaikan, sambil membuka kemungkinan mendekati kebenaran. Yang ingin saya sampaikan adalah Pilkada bukan tentang apa-apa yang riuh di twitter. Pilkada adalah kerja keras yang serius, di lapangan. Pekan-pekan ini bahkan, timeline bergerak menginvasi infotainmen, tentang siapa tidur dengan siapa, ena-ena, lalu teriak-teriak di timeline. Pas dia ena-ena kita gak diajak. Kan asu.

Bila pasangan calon terdiri dari Koh Ahok, Mas Sandiaga, dan Pak YIM, besar kemungkinan Koh Ahok melaju ke putaran ke dua. Di putaran ke dua, suara Koh Ahok justru membesar dari limpahan suara Mas Sandiaga Uno dan atau Pak YIM. Tidak ada yang mau kelahi terus-menerus, sebab bisnis tak dijalankan dengan tesis begitu.

Pilkada sejatinya adalah transaksional, tentang siapa mendapatkan apa. Kita boleh tak setuju dengan postulat ini, meski di sisi yang lain kita pun tak boleh berharap terlalu ideal. Yang ideal itu tak nyata.

Politik kita memang sedang asik-masyuk genit. Ideologi ada di sisi sana, sendirian di pojokan. Ikhtiar membangun Jakarta pun jadi jargon asik, yang kami di Jakarta terdiam dalam diam menikmati dibohongi. Sambil nanti ditagih-tagih bayar pajak.

Saya mungkin skeptis. Tapi menampik fakta juga tak elok nian. Kita sukacita dibohongi, dan kesulitan menagih. Nanti di tahun 2019, ketika muncul partai-partai baru yang menjanjikan, dengan semangat anak muda yang keren pisan, kita bisa menagih dialektika ideologi. Bukan tentang beha siapa dibuang ke mana. Bukan pula tentang partai mana memberikan hewan kurban ke mesjid mana, sampai-sampai kita kesulitan membedakan partai dengan ormas.
Sudah jadi partai, kok senang mengambil-alih fungsi ormas. Ahelah…

Begitulah, bila pasangan calon sudah solid, prediksi saya runner-up Pilkada DKI adalah Koh Ahok, dengan sejumlah catatan. Menyenangkan memberikannya kesempatan ke dua, sambil menjaga jarak, bila Jakarta jalan di tempat, saya akan menghukumnya di periode berikut.

Prediksi saya musykil benar semua. Tapi dengan begitu, prediksi saya pun menjadi musykil salah semua.
Prediksi kamu siapa? Tuliskan di sini, jangan ghibah. Sebab Tuhan tak pernah mengajarkan ghibah, darimana kalian belajar itu?

Sambil menyiapkan tulisan tandingan, jawab dulu pertanyaan mula-mula di atas.

Tabik

Tuan Wahai

Manusia Gembira

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s