Memupuk kekuatan pada proses politik. Ada jalan lain?

Bertahun kita abai pada sistem politik. Secara sinis beranggapan politik tidak membawa dampak pada kehidupan kita. Salah.

Memang kita sudah terlambat puluhan langkah, tapi bagaimanapun sesuatu harus segera dimulai. Memupuk kekuatan pada proses politik. Memiliki representasi.

Representasi pada partai politik adalah keniscayaan. Saya sudah sadari ini bertahun yang lalu. Mz @Budimandjatmiko mungkin masih ingat. Kita berbalas mention tentang ini. Saya bilang jika kita ingin perubahan, harus melalui partai politik. Tapi saat itu, saya tidak melihat juga adanya urgency untuk terjun ke politik. Sungguhpun gemas dengan tingkah polah politikus, tidak ada ancaman yang nyata.

Namun hari-hari ini, kita sudah sampai pada titik di mana kita merasa adanya ancaman besar terhadap bagaimana kita hidup. JR yang dilakukan oleh AILA harusnya menyadarkan kita bahwa kaum konservatif telah bergerak jauh. Mereka bermain dalam sistem sementara kita cuma punya jempol. Tidak lagi bisa dibiarkan.
Kalau JR itu diterima, kehidupan kita akan berubah. Ada ancaman kekuasaan negara yang besar pada ruang privat kita.

Kenapa partai?

Realitasnya, undang-undang/perda dibuat di DPR/ DPRD. Sementara peraturan-peraturan dibuat di lembaga eksekutif. Keduanya merupakan domain partai politik atau politikus. Saat kita berteriak di luar pusat pembuatan UU atau peraturan, kita cuma caper. Ngga punya real power.

Di Indonesia ini sebenarnya banyak gerakan atau lembaga-lembaga yang memperjuangkan hak-hak sipil. Saya tidak paham mengapa mereka mengambil jarak dengan partai politik. Bahkan jika ada aktivist yang masuk ke partai politik, sering dilihat dengan kecurigaan. Akhirnya, kekuatan orang merdeka ini tidak pernah nampak di partai politik. Tidak banyak terlihat pada produk-produk hukum.

Padahal sebagai pressure group, mereka telah menjalankan fungsinya dengan baik. Mereka mengelola banyak isu-isu kemanusian dalam masyarakat. Mereka terlibat aktif dalam penyusunan undang-undang. Memberi banyak masukan. Namun sesudahnya? Kalah dengan kekuasaan yang memang dimiliki oleh pembuat undang-undang.

Seleksi terhadap anggota Komnas HAM, KPAI atau KPI misalnya. Organisasi pejuang hak-hak sipil ini jelas tidak berdaya. Kalau anda lihat orang-orang yang duduk di dalamnya, sebagian besar mereka bukan pendekar-pendekar pejuang hak-hak sipil. Suram.

Gerakan-gerakan politik melalui jalur independen/relawan terlalu jauh panggang dari api. Yang terakhir, Teman Ahok, berakhir dengan anti klimaks. Gerakan-gerakan itu terlalu bertumpu pada figur. Percaya pada Jokowi. Pada Ahok. Bukan proses berjenjang untuk merumuskan kebijakan.

Katakanlah ini berhasil untuk menjadikannya pejabat publik. Lalu apa? Tanpa dukungan partai politik, ngga banyak yang bisa jalan. Anda semua tahu saat Jokowi harus kompromi, kita merasa tertipu oleh janji-janji kampanyenya.

Partai apa?

Ini susah jawabnya. Karena sampai sekarangpun saya belum tahu. Bikin Partai Liberal Indonesia juga bakal diketawain kucing. Kita ngga akan punya cukup critical mass. Tapi kalau yang kita lawan adalah kaum konservatif, maka kita harus bersatu dengan kekuatan progresif. Apa itu?

Kekuatan progresif sebenarnya adalah akar dari liberalisme dan sosialisme. Didasari dengan keinginan untuk memajukan harkat manusia melalui penghormatan atas hak-hak individu. Melawan segala bentuk pemaksaan atas nama negara atau agama.

Jika liberalisme dan sosialisme di banyak negara demokratis terpolarisasi, karena memang musuh bersama mereka telah kalah. Fasisme sudah kehilangan tempat. Bagi kita, ini masih ancaman.

Jadi, sementara ini jangan dulu bicara soal kiri atau kanan. Secara prinsip perbedaan keduanya hanya pada pilihan dalam memajukan kehidupan.

Yang kiri minta kesempatan yang adil. Memahami bahwa kekuasaan lama melahirkan kemiskinan terstruktur karena ketimpangan distribusi sumberdaya. Mereka ingin menyeimbangkan playing field. Sah.

Yang kanan minta kesempatan yang sama. Sumberdaya adalah input sekaligus output dalam kemajuan. Menyeimbangkannya bisa jadi merupakan fasisme baru. Sah juga.

Namun jika diamati benar, baik yang kiri maupun yang kanan toh digerakkan dengan hasrat yang sama. Maju.

Jadi soal partai, kita memang harus berumah di partai progresif.

Langkahnya apa?

Yang paling sederhana, pada pemilu yang akan datang mari kita pilih partai progresif. Kalau belum ada, kita kenali benar rekam jejak ideologi sang calon dari partai yang ada. Jangan percayakan pada mereka yang pragmatis atau konservatif. Mati kita.

Tapi, kalau mau kerja ya membangun kekuatan bersama-sama. Duh. Ini males banget. Tapi kalau tidak dikerjakan, hidup kita juga yang terganggu.

Saya membayangkan kita harus mulai dengan membentuk jaringan. Pertama bisa yang sederhana, telegram group. Secara berjenjang. Kenapa tidak?

Kita bisa mendalami gagasan progresif secara bersama dan membumikannya. Kita bisa menjadikannya sebagai aliran informasi untuk memobilisasi aksi.

Yang kedua, melakukan penetrasi pada kampus-kampus. Menjadi kekuatan banding pada dakwah-dakwah kampus. Harusnya ide-ide progresif lebih bisa diterima mahasiswa dari pada ide-ide konservatif. Kalau sekarang kita kalah, hanya karena mereka telah mulai 30 tahun yang lalu. Sedangkan kita diam.

Untuk urusan penetrasi ke kalangan bawah biarlah kaum progresif kiri yang bekerja. Kita bisa apa?

Pada akhirnya kita akan mencari cara untuk menempatkan orang-orang progresif di parlemen dan pemerintahan. Sounds good?

Saat pemalas seperti saya sudah berfikir untuk terjun sendiri, saya kira anda, orang merdeka, perlu berfikir sama.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

7 Responses to Memupuk kekuatan pada proses politik. Ada jalan lain?

  1. kumbaya says:

    Sepertinya ada artikel yg dicabut ya disini? Sayang, padahal saya ingin menindaklanjuti komentar saya yang (sepertinya) sudah ditimpali, tapi karena kesibukan di minggu lalu bahkan belum saya baca… saya cari2 artikel & komennya sudah lenyap…

    • awemany says:

      Saya tidak menghapus satu artikelpun. Terakhir anda komentar, itu pada artikel tentang pemikiran liberal. Komen anda masih ada kok 🙂

      • kumbaya says:

        Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya karena ketidak-telitian saya mencari , saya mengira ada tulisan di blog ini & komen saya yang lenyap.Ternyata tulisan tersebut adalah tulisan yg sudah lama (2011), sementara saya dengan sok yakin mencari di kumpulan tulisan baru bulan ini, karena isi tulisan tersebut senada dengan tulisan2 Bung akhir-akhir ini, yaitu tentang liberal vs konservatif… Sekali lagi, karenanya saya minta maaf…

    • awemany says:

      Kalau anda menuliskan fakta empirisnya kemudian melakukan pembahasan tentang apa masalah dengan liberal, saya akan tanggapi. Tapi kalau cuma mau bikin puisi atau komentar sok pintar, saya akan buang ke trash aja. Jelas?

      • kumbaya says:

        Ok … mengenai hal itu saya balik ke tulisan tersebut ya… biar tidak rancu dg komen di tulisan ini…

  2. kumbaya says:

    Sebenarnya tujuan saya menulis komentar disini mulia , yaitu : ingin menyumbang ide… karena dilihat dari tulisan anda dan teman2 liberal anda yang mati gaya menghadapi AILA… ujung2nya malah caci-maki nggak jelas lah… nyinyir-nyinyirin orang Islam lah… pengen nonjokin orang yang ngucapin takbir-lah (baca di http://www.kompasiana.com/ailaindonesia/judicial-review-direspon-dengan-kebencian_57c4e0d3ab9273116aa3d701)…masang2 digital poster bergambar penis& vagina pake tulisan apaa tuh… kelaminku bukan urusan negara atau apa gitu… lupa…”kreatiiif” ceritanyaaa (ironisnya grafisnya ancur…jelek banget..)….Btw saya malah baru tahu AILA dari orang2 liberal yg ngamuk2 di Twitter lhoo…
    Ok… langsung aja ya… ide yg ingin saya sampaikan :
    1. Buatlah gerakan atau partai ”libertarian” buat nge-refresh dan re-brand istilah “liberal” yang udah banyak disalah-gunakan dan di-salah mengertikan, ok? Lagipula dr tulisan anda… cmiiw ya… anda sebenarnya adalah seorang libertarian… bukan liberal…. karena itu anda tidak bisa klop dengan Sahal,karena dia liberal,anda libertarian… Liberal itu “top-down”, libertarian itu”bottom-up”… dia dkk mah ada sponsor/ funding-nya…kalau anda mungkin biaya sendiri… ( karenanya libertarian sangat menjunjung volunterisme…tapi apa boleh buat , pseudo volunterisme yang dilakukan Teman Ahok,para EO politik dan buzzer2nya udah menggerus trust publik dari ketulusan yang seharusnya dasar dari gerakan tersebut ).
    Tapiii… berhubung nama Libertarian Indonesia udah ada yang punya (dan terkesan kekiri-kirian)… terpaksa cari istilah lain… apaa..gitu cari sendiri Liberasi…Libertinesia… atau yang Sanskertaan2 gitu biar keren…
    Nah…kembali ke ide diatas ya… nanti kan ada yang nanya tuh : Apaan siiih… bedanya sama liberal? Langsung tancep jelasin deh value yg anda usung… bahwa liberalnya kita itu tidak memusuhi agama-lah (ea getooh ? :P) … nggak semua antek Amerika lah… ini mah liberal nusantara-lah blah blah blah terserah gimana lu aja… Tujuannya : buat menarik orang2 yang selama ini moderat tapi enek sama kelakuan liberal yang mana namanya udah diancurin Salihara Inc. (dimana JIL adalah salah satu anak perusahaannya )…

    2. Untuk mendukung LGBT… buatlah gerakan yang lebih nyata & berani… Para pendukung LGBT yang punya anak laki-laki yang masih kecil… coba dititipkan… suruh home-stay barang sebulan di rumah Hartoyo atau teman- temannya … terus dibikin foto2 nya, lagi bobok-bobok imut lah… lagi berenang bareng lah… jangan lupa pake tagar #ITrustMySonwithThem , atau #IfI’mDeadIWantMySontobeAdoptedbyGayCouple supaya gerakan mereka lebih punya “skin in the game” getooh…
    Gimana ? Cemerlang kaaan ?? Semoga bermanfaat shodaqoh idenya… silakan dipake atau ditolak tapi diem-diem diadaptasi okee ? Daripada maki-maki nggak jelas atau kirim2 gambar porno ke pihak lawan … Udah yaaa…Terimakasih kemballliii……

    • awemany says:

      Pertama, kalau anda punya masalah dengan tweet orang lain atau komentar orang lain, kenapa harus bawa-bawa saya? Yang anda serang toh nadanya. Bukan kontennya. Yang kedua, anda mungkin harus lebih tajam melihat perbedaan saya dengan Sahal. Saya libertarian dan Sahal liberal? Bukan. Libertarian itu dilawankannya dengan otoritarian. Dalam hal itu kami sama” libertarian. Kalau anda betul” ingin membedakan libertarian vs liberal, maka libertarian itu terbagi atas dua gugus besar. Sosialisme dan liberalisme. Jadi ada libertarian yg pandangan ekonominya sosialis dan ada yg liberal. Mudah”an anda paham. Kembali keperbedaan saya dan Sahal, ybs ingin meliberalkan Islam. Ini saya ngga punya dan inilah bedanya. Jadi ngga perlu ngarang untuk mencari perbedaan antara saya dan Sahal. Bedanya jelas kok. Yang terakhir anda perlu memberi usul secara sarkastik. Ingat, yang diminta adalah perlakuan yang setara. Sama saja dengan pada saat saya mendukung hak-hak sipil orang kristen, bukan berarti saya harus menjadikan saya dan keluarga saya kristen. Paham?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s