Apa yang sebenarnya kita perjuangkan, kawan?

Dalam bulan-bulan ini MK akan memberikan putusan terhadap permohonan AILA dkk untuk menguji KUHP pasal 284, 285 dan 292.

Pasal 285 mungkin tidak ada masalah. Mereka ingin melebarkan batasan perkosaan tanpa memandang jenis kelamin. Mereka ingin kata wanita dihapus. Sehingga kalau laki-laki diperkosa, itu bisa dijadikan tindakan pidana. Agree.

Namun permohonan peninjauan bagi pasal 284 dan 292 adalah persoalan. Dalam pasal 284 mereka ingin menghapus frase telah kawin, lalu meminta MK untuk menafsirkan zina sebagai hubungan seksual di luar pernikahan. Orang yang sudah atau belum kawin.

Sementara pada pasal 292, mereka memohon agar kata perbuatan cabul sesama jenis diperluas. Bukan saja terhadap anak-anak. Artinya mereka akan mengkriminalkan hubungan sesama jenis yang dilakukan orang dewasa secara suka sama suka.

Permohonan ini, jika dikabulkan akan berimplikasi serius terhadap kehidupan privat warga negara dewasa berakal. Negara bisa melakukan intervensi ke dalam ruang privat kita dengan alasan menegakkan hukum.

Akan ada razia di rumah-rumah yang dicurigai terdapat pasangan yang melakukan hubungan sesama jenis. Akan ada pemeriksaan ke hotel-hotel untuk memeriksa buku nikah. Dunia kita tidak akan sama lagi.

Bahkan seandainya anda bukan homoseksual dan tidak melakukan hubungan sex di luar pernikahan, anda masih terancam pelecehan dari aparat. Dengan kekuasaan seperti itu mereka bisa mengharass anda di rumah anda. Berlebihan? Saya cuma ingatkan. Jangan sesekali meremehkan kekuasaan negara.

Sedihnya, isu ini tidak bergema secara luas. Di TL saya hanya ada beberapa akun yang concern dengan isu keberagaman yang melakukannya. Itupun tidak jadi percakapan. TL berlalu tanpa sadar akan datangnya ancaman besar negara.

Saya sadar. Kelompok liberal memang tidak terorganisasi dengan baik. Berjalan dengan agenda masing-masing sehingga sulit digerakkan. Basis massa pun tidak punya. Suram.

Harapan saya jatuh pada pendukung Ahok. Mereka yang mengkampanyekan diri sebagai pluralist. Mereka yang mengambil posisi berlawanan dengan kaum konservatif di TL. Mungkin kasus ini mereka jadikan suatu perhatian.

Ternyata cuma pepesan kosong. Sampai tulisan ini dipublish, saya tidak melihat suatu upaya sistematis dari antek Ahok untuk membuat ini jadi ramai. Membuat saya bertanya tentang kesungguhan janji kampanyenya tentang keberagaman. Pluralist jauh panggang dari api.

Tadi malam, kekesalan saya memuncak. Para antek Ahok sibuk melakukan trolling terhadap HTI. Tentu karena paginya HTI mengorganisir demo anti pemimpin kafir. Apa yang sebenarnya sedang mereka kerjakan? Cuma agar Ahok terpilih? Pendek sekali perhatian mereka.

Betapa suramnya jika mereka melawan kaum konservatif hanya karena kaum itu menolak Ahok. Melawan karena beda. Membully karena mampu. Fasis sekali.

Pada bulan dimana keberagaman dan ruang privat jadi ancaman, mereka cuma peduli dengan junjungannya. Padahal dengan kekuatan yang mereka punya, mereka bisa raise higher awareness terhadap isu yang lebih substantial. Invasi negara ke ruang privat.

Jika masyarakat aware terhadap konsekuensi permohonan itu, saya bisa berharap adanya gelombang permintaan kepada MK untuk menolak itu. Kalau banyak yang protes atau demo, MK nya juga akan lebih berhati-hati, bukan? Ruang privat kita bisa terselamatkan.

Diamnya antek Ahok dan pendukungnya ini membuat saya jengkel. Huh!

Baiklah. Anda tahu saya ngga suka Ahok. For a good reason. Saya tidak melihat dia memiliki prinsip. Apalagi yang bisa ditularkan pada pendukungnya. Hubungannya transaksional. Pendukung Ahok melihat Ahok sebagai hero yang bisa memperbaiki Jakarta. Ahok melihat pendukungnya sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Klop. Namun jelas, tidak ada transfer nilai di sana. Yang ada mungkin cuma brief buat buzzer atau antek-anteknya.

Hal yang sama terjadi dengan pendukung Jokowi. Kebetulan mereka banyak beririsan dengan pendukung Ahok. Saat Jokowi melakukan akrobat dengan kebijakannya, tidak tampak penolakan yang berarti. Berapa banyak pendukung Jokowi yang menakut-nakuti kita dengan fasismenya Prabowo. Tapi kini mereka menerima baik kebijakan Jokowi yang berbau fasis. Di mana letak prinsip dalam dukung-mendukung pemimpin?

Pada akhirnya jelas di mata saya. Memilih pemimpin berbasiskan idola hanya akan jadi langkah mundur. Tidak ada jalan pintas. Kita, orang waras, musti membangun kekuatan. Lalu maju dengan kekuatan ide. Berdasarkan koherensi prinsip-prinsip dasar dalam memajukan bangsa dan negara.

Untuk kasus permohonan AILA ini saya tetap menunggu. Mudah-mudahan ada pikiran waras dari Ahok dan Jokowi. Lalu mereka minta pendukungnya untuk memperlihatkan diri. Bahwa penghormatan keberagaman dan ruang privat bukan sekedar basa basi. Bahwa Indonesia memang bisa jadi milik semua warga negara.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s