​Mengadili Persepsi

Meski paku dicabut dari Buluh, ia tetap menyisakan luka. Pun twit –bukanDonCorleone.

Bisakah persepsi diadili? Bisa, tapi sulit. Mula-mula Disclosure adalah persepsi, sampai kemudian terbukti Demi Moore yang melakukan pelecehan, bukan Michael Douglas. Apakah Michael Douglas menang? Ya, di pengadilan, tapi tidak di kehidupan. Damage has been done.

Saya sudah tiga tahun terengah-engah berteriak bahwa hak jawab adalah siasat, semacam bunker tempat kekeliruan dilindungi. Kita seolah-oleh diberi hak untuk menjawab pemberitaan, ditempatkan di halaman yang sama, dengan editing, tapi kerusakan telah terjadi. Untuk apa?

Kabar buruk telanjur tersebar, dan kita pula yang diminta memperbaiki kabar yang tidak berasal dari kita. Wahai…

Belakangan, siasat tadi berkembang melalui tanda tanya. Di akhir judul diletakkan tanda-tanya (?), seolah-olah bertanya, tapi menghakimi. Insinuatif memang, tapi niat menghakimi mudah dikenali, mudah ditandai. Kalaupun kita komplen atas siasat itu, selalu tersedia jawaban, dengan gaya @Aipsun: kan bertanya cyiin…

Karena itulah saya mengundang kawan-kawan Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ke sini. Betulkah hak jawab masih sangkil dan mangkus? Tidakkah itu siasat lempar batu sembunyi tangan? Betulkah tanda-tanya adalah cara paling hemat melarikan diri dari menuduh?

Di tengah era milenial yang kadang membingungkan ini, terutama di saya yang sudah menginjak 34 tahun, tidakkah perlu ditemukan cara yang lebih manusiawi? Bisakah kami, generasi selfie ini, disertakan dalam upaya menemukan cara yang lebih manusiawi tadi? Saya tunggu, dengan segelas kopi, sebatang rokok, dan cinta.

Tapi siasat model begini tak eksklusif media. Gejala menghakimi pun terjadi di twitter. Dan bila upaya menghakimi ternyata gagal, tinggal bilang: saya kan cuma bertanya. Ahelah…

Tak cukup sampai di situ, twitter kiwari bergerak ke bandul yang kusut-masai, sampai-sampai kita bingung darimana harus mulai mengurainya. Bila si A menuduh si B begini-begana-begono, maka si B yang harus membuktikan bahwa dia tidak seperti dituduhkan. Alhasil si B yang ketiban pekerjaan menjelas-jelaskan sesuatu yang mungkin tidak ada. Si B pula yang harus menjelaskan-jelaskan kepada si C, si D, dan si E. Tentang si A, dia sudah pergi piknik.

Cendikia memang bagus di frasa.

Persepsi bisa diadili, sejatinya. Caranya dengan mengurut-ulang pemantiknya. Pemantik bisa ditemukan, dianalisis. Bahwa tugas itu butuh waktu, tenaga, dan biaya, dan kehilangan kesempatan menonton Drama Korea, memang iya.

Tapi siapa yang mau setiap hari menjadi Michael Douglas, yang menang di pengadilan tapi kalah di kehidupan? Siapa yang punya waktu senggang menjelas-jelaskan semua tuduhan? Andai pun tuduhan itu benar, sepanjang ia tak menyangkut kepentingan publik, tak menciderai hak saya selaku pembayar pajak, apa yang sedang dilanggar ini? Kabar buruknya, pun setelah dijelaskan, akan ada gerombolan lain yang nomention akh itu kan versi dia. Rasanya pengen ditelan Bumi.

Kita kerumunan parbada, saya duga. Kita senang orang lain susah, karena hanya dengan begitu kita tak merasa sendirian susah. Ajaib memang, meski kita bukan Doraemon.

Kita membangun prasangka, yang kita ciptakan sendiri, dari yang tidak ada diolah sedemikian rupa, lalu terjebak pada ilusi bahwa kita pun akhirnya percaya prasangka tadi. Prasangka itu, nantinya, jadi hiper-realitas.

Persepsi adalah separuh tarikan napas menuju realitas. Tapi persepsi harus tak digunakan untuk mendesak-desak orang lain mengakui realitas yang sebenarnya tidak ada. Kegemaran melihat orang lain susah, justru menyakiti diri sendiri.

Tabik.
Tabik gelap
Yang dulu hinggap
Lambat-laun mulai terungkap….

Tuan Wahai
Manusia Gembira

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s