​Buzzer juga Manusia

Saya sudah melarikan diri, manakala kalian menyodorkan pertanyaan haruskah buzzer punya hati nurani.  

Hati nurani haruslah tentang konsep yang serius, universal, yang dunia berhenti berputar dan tafakur sejenak karena takjub setiap kita menggunggah frasa itu. Hati nurani bukan ukuran yang dipas-paskan yang berlaku bagi junjunganmu saja, tapi tak berlaku bagi junjungan orang lain.
Haruskah buzzer punya hati nurani? Saya memilih mengatakan tidak.

Twitter tak diciptakan untuk hati nurani. Maka produk turunannya, termasuk buzzing, harus tak dibebani predikat itu. Menggaungkan sebuah isu, topik, supaya orang lain menyimak, kemudian mengikuti objektif buzzer, adalah siasat. Siasat saudara jauh dengan hati nurani, yang jarang silaturahmi.

Di twitter, hati nurani adalah takhyul. Sama seperti televisi yang dibebani tugas mencerdaskan bangsa, seolah-olah televisi adalah baby sitter, hanya supaya kita punya banyak waktu bergunjing tentang tetangga yang tak becus nian mendidik anak.

Maka buzzer dan hati nurani bukan entitas yang kompatibel.

Tapi buzzer dilarang bodoh. Kuncinya sebenarnya di sini. Buzzer adalah kurir atas sebuah gagasan. Kurir harus tepat waktu, menjaga gagasannya tetap utuh, deliveri ke alamat yang tepat, tidak nikung lewat jalan lain yang ribet, dan tetap segar ketika barang bawaan tiba di alamat yang dituju.

Syarat utama menjadi buzzer haruslah cerdas, terutama sisik-melik barang bawaan yang hendak diantarnya. Buzzer harus lebih pintar, lebih menguasai dan lebih mumpuni atas sebuah isu, dibanding agensi yang menyewanya. Pergumulan buzzer atas sebuah isu, topik, harus lebih erat dan serius dibanding agensi. Tanpa semua itu, aktivitas buzzing menjadi sekenanya, tak menarik.

Buzzer itu laksana John Statham di Transporter: enak dilihat, asik, disiplin, dan menghibur.

Maka semua orang adalah buzzer, sepanjang ia menguasai dan mampu mendeliveri pesannya dengan nikmat. Sejalan dengan itu, semua buzzer bukanlah buzzer atas semua hal. Sebab tiap-tiap akun adalah signature. Kita perlu mencubit paha sendiri sendiri bila pemilik blog ini tiba-tiba menjadi buzzer atas gagasan cara mudah mendapatkan pasangan, misalnya. Kalian perlu buru-buru beribadah, tanda kiamat sudah dekat, bila tiba-tiba saya membahas tentang Smelter, misalnya.

Buzzer yang baik adalah pencerita yang baik. Pencerita yang baik adalah dia yang menguasai topik dengan baik. Ia hadir, seutuhnya, tak briefing melalui WA, punya eksperiens, sisanya adalah persepsi. Tanpa itu, ia hanya adpertensi yang bisa ditinggal sebab kita ingin pipis.

Karena prasyarat ketat inilah harga buzzer harus sangat mahal. Agensi kembali ke khittah, hanya perantara, yang dibayar lebih murah dibanding buzzer, setelah dipotong pajak.
Maka polemik ihwal buzzer yang merangsek kiwari, diikuti dengan permintaan maaf dan saling-serang kemudian, bukan karena ketiadaan hati nurani, tapi lebih karena kegagalan memeta scope of work. Saya kesulitan membayangkan sebuah brief yang serius, atas topik yang serius, dengan efek yang serius bila gagal, dilakukan melalui WA.

Instan itu tak cuma mi dan kopi susu, ternyata.

Buzzer juga manusia. Sudah disempurnakan hati nuraninya. Mereka hanya perlu diyakinkan bahwa gagasan yang bertentangan dengan kehendak awam, dan telah pernah merugikan banyak orang, membutuhkan pemeriksaan ulang posisi logis.
Buzzer itu pekerjaan serius, dan ini serius, kamunya yang enggak.

Tuan Wahai

Manusia Gembira.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to ​Buzzer juga Manusia

  1. latihanblogimcw says:

    Setuju dengan tulisan diatas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s