Pada akhirnya semua ini pilihan bebas kok Yai. 

Melihat tanggapan yai Sahal di sini, saya harus melihat bahwa jangan-jangan kami memang berbeda agenda. Rahmat.

http://mendarasislam.blogspot.com/2016/08/intoleransi-dan-liberalis-yg-berpangku.html

Saya menerima baik anggapan liberalis simplisticnya. Namun, for the record, saya tidak menyebut yai Sahal sebagai liberalis yang tidak konsisten dengan liberalisme. Saya hanya melihat upaya yai Sahal counter productive dan mengajak untuk menata agendanya.

Saat kita berhadapan dengan publik yang memiliki distorsi pemahaman tentang liberal, saya mencoba untuk membuatnya sederhana. Memberikan poin-poin penting. Pijakan untuk berangkat. Simplistic.

Namun keliru jika saya dikatakan alergi terhadap pembaharuan Islam. Paling jauh saya meminta agar “pertengkaran” di sana, tidak merusak upaya untuk meletakkan pemahaman tentang liberalisme. Karena itulah yang terjadi.

Tentu saja, tahu apa saya tentang watak diskursus keislaman? Bukan bidang saya dan saya jelas tidak tertarik.

Namun jadi masalah saya, ketika orang tidak mampu lagi membedakan antara liberalisasi Islam dan liberalisasi titik. Saya kena juga.

Misalkan, Yai Sahal bicara tentang pluralisme sembari bilang semua agama menyembah Tuhan yang sama. Pusing saya.

Buat yai Sahal, hal tersebut tajdid. Buat yang lain itu penodaan terhadap tauhid. Ribut.

Saya ngga mau ikut debat di sana. Kalaupun mau, saya ngga mampu. Tapi kalau orang lalu beranggapan pluralisme liberal itu merusak aqidah, kan saya kena. Karena sepanjang yang saya perjuangkan pluralisme itu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya keragaman dalam suatu kelompok masyarakat. Liberal dan bukan liberalisasi Islam.

Saya tahu saya berlaku tidak adil di sini. Gegara saya melihat umat Islam di Indonesia belum siap untuk menerima perbedaan yang fundamental terkait aqidah, saya minta yai Sahal untuk menahan diri. Menata lagi agendanya. Kalau tajdid itu sebegitu pentingnya, ya maaf.

Yang saya ajak adalah melakukan prioritas. Ngga usah ngotot dulu tentang siapa yang benar atau salah. Ajarin aja dulu umat, bahwa kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Kasih contoh. Begitu.

Saya ngga paham bagaimana yai Sahal bisa mengajarkan orang tentang toleransi dengan definisi yang keliru tentang intoleransi.

Yai Sahal bilang Intoleransi muncul mana kala ada yang mengklaim bahwa sikap/ pendapatnya adalah tolok ukur keislaman. Apa yang salah di sini?

Semua orang juga mengklaim pendapatnya yang paling benar. Dalam konteks syariah ya jadi tolok ukur keislaman. Apakah yai Sahal tidak berfikir kalau pendapatnyalah yang harus jadi tolok ukur keislaman? Kalau tidak, kenapa harus diperjuangkan?

Sebagai definisi di kamus, intoleransi adalah ketidakmauan untuk menerima pandangan, keyakinan, atau perilaku yang berbeda dengan dirinya. Kalau hanya tidak mau, kami, liberal, juga ngga pusing. Bebas.

Tapi kalau ketidakmauan tadi menimbulkan ancaman bagi orang lain, kami jadi punya masalah. Ancaman itu bisa dalam bentuk kekerasan, ketakutan ataupun diskriminasi.

Dengan cara berfikir ini, apa yang sebenarnya yai Sahal maksudkan dengan kata-kata intoleran terhadap intoleransi? Apakah yai Sahal akan menghadirkan ancaman kekerasan atau ketakutan terhadap mereka yang intoleran? Bisa. Asal lewat jalur pembentukan instrumen hukum.

Baiklah, pada artikel yang lalu saya hanya memusatkan perhatian pada kekerasan negara. My bad. Terima kasih untuk telah diingatkan pada artikel tanggapan.

Kalau saya boleh membela diri, dengan pandangan simplistic saya, saat negaranya sudah liberal dia akan menghargai keragaman. Saat negara bekerja baik, saya tidak perlu takut dengan anggota masyarakat yang lain. Tapi ya sudahlah, dalam negara seperti ini, kita harus melihat ancaman intoleransi dari anggota masyarakat yang lain.

Namun, mari kita bedah masalahnya. Ada berapa tingkat intoleransi yang ada dan bagaimana kita menghadapinya? Intoleransi ini tidak bisa disamaratakan karena akhirnya jadi bisa banyak sekali.

Level pertama adalah intoleransi dalam sikap dan pandangan. Belum atau tidak bisa melihat manusia itu setara. Ini yang paling banyak dan kita ajak berubah pelan-pelan. Caranya? Saya bilang, tidak selalu dengan menyalahkan pendapatnya. Namun dengan meletakkan dasar pemahaman liberal. Saya ngga bisa melarang orang untuk ngga suka dengan etnis cina. Tapi di bawah hukum Indonesia, kita ngga boleh melakukan diskriminasi terhadap etnis Cina. Instrumen hukum liberal.

Akan ada yang akan bilang, instrumen hukum ngga jalan. Ya harus diperbaiki instrumennya. Karena tidak ada lagi alternatifnya. Mau dikuliahin? Mau diedukasi dari kecil? Lama dan belum tentu berhasil. Lha wong orangtuanya mungkin juga rasis.

Dalam bidang studi saya, dipahami mengubah perilaku lebih baik dilakukan dengan mengubah suprastruktur dan infrastruktur dari pada dengan pengajaran. Saya pakai ini sebagai basis argumen.

Pada level berikutnya, mereka yang intoleran ini bergerak dengan lebih pintar. Menggunakan perda. Menggunakan diskresi. Mereka membentuk kekuatan kaum intoleran di lembaga eksekutif, legislatif dan bahkan yudikatif. Jika jelas melanggar konstitusi ada MK. Di wilayah abu-abu, mereka bermain. Mati kita.

Yang ini harus dihadapi dengan siasat yang sama. Menempatkan kaum liberal progresif di lembaga-lembaga itu. Sekarang masih suram. 

Pada level terakhir adalah mereka yang mengambil hakim sendiri. Menyerbu tempat-tempat yang mereka benci. Dan bagi saya ini harus diurus negara. Saya ngga bisa bawa bedil untuk melindungi orang-orang yang dianiaya.

Jadi, kalau saya pada artikel yang lalu menekankan pentingnya untuk memaksa negara bertindak, karena saya tidak melihat alternatif yang lain. Dan inilah beda pendekatan saya dan yai Sahal.

Di ruang publik, kita memang bisa membentuk opini. Di tempat yang kehidupan politiknya maju, opini yang berkembang di masyarakat ini dijadikan acuan untuk mencari basis dukungan politik. Tapi di sini?

Karena itu diperlukan fokus tentang opini apa yang harus ditanamkan dalam masyarakat pada diskusi-diskusi publik. Saya memilih untuk bicara tentang prinsip-prinsip liberal. Bagi saya ini lebih mudah disebarkan. Pertama, nilai-nilai intinya semua ada di konstitusi. Kedua, jika dipahami dengan benar, liberalisme ini tidak pernah jadi ancaman bagi siapapun.

Saya sadar bahwa yai Sahal memiliki dua agenda di sini. Ke dalam, melakukan pembaharuan Islam dengan nilai-nilai liberal. Ini saya ngga punya. Ke luar, meletakkan prinsip-prinsip liberal sebagai tatanan sosial politik. Saya sudah jelaskan, agenda pertamanya menyulitkan agenda kedua.

Sebagai penutup,  jika ghairah yai Sahal untuk meliberalisasi Islam lebih besar daripada menegakkan prinsip-prinsip liberal, maka saya harus hormati itu. Tabik.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Pada akhirnya semua ini pilihan bebas kok Yai. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s