Menata lagi agenda kita. Gimana Yai?

Saya dan yai @sahal_AS bekerja untuk gagasan yang serupa. Liberalism. In essence, liberalism adalah ideologi yang membebaskan kita dari suatu ketakutan dari tindak fasis penguasa.

Dalam liberalisme setiap individu diberikan jaminan untuk memperoleh kesetaraan perlakuan. Mendapat pengakuan hak” sipilnya seperti kebebasan berpendapat, berkumpul dan beragama. Bebas dari ketakutan dan perlakuan yang tidak manusiawi. Hal-hal yang sebenarnya sudah ada dalam konstitusi kita.

Lebih jauh, dan ini essensial dalam ideologi liberalisme, adalah pemisahan antara kehidupan privat dan kehidupan publik. Kami liberal, menentang campur tangan negara pada kehidupan privat.

Lawan ideologi kami adalah kaum konservatif. Mereka berpendapat keharmonisan masyarakat dimulai dari keluarga. Negara perlu untuk memastikan nilai-nilai moral terus dipegang dalam keluarga. Artinya, kaum konservatif selalu ingin masuk ke dalam kehidupan privat warga negara.

Namun, pada akhirnya, di setiap negara, akan ada suatu titik batas liberal-konservatif. Titik ini terus begerak sesuai dengan kondisi jaman. Kenapa?

Ada adagium liberalisme yang sangat terkenal. Anda bebas melakukan apa saja asal tidak melanggar kebebasan orang lain. Jadi, liberal itu bukan bebas semaunya. Ada batasnya. Inilah yang terus menerus diperjuangkan kedua belah pihak.

Sebagai contoh, Perancis, salah satu negara paling liberal pada tahun 1925 masih harus memastikan perempuan tidak boleh menggunakan baju renang yang terbuka. Karena pada saat itu setengah telanjang di ruang publik masih dianggap melanggar batas kebebasan orang lain. Namun, pada saat ini justru tidak memperbolehkan burkini. Titiknya sudah jauh bergerak. Suram.

Yai Sahal mengambil posisi nilai-nilai liberal ini bersesuaian dengan nilai-nilai Islam. Keduanya, dari sisi sosial, mencegah adanya kekuasaan yang mutlak dan dzalim. Islam juga memberi pengakuan terhadap hak-hak sipil seperti yang diminta oleh liberalisme. Klop.

Kalau concernnya tentang batas wilayah public-private, kita tahu ini simply tarik-tarikan saja. Jadi menurut yai Sahal, Islam dan Liberalisme bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Bahkan bisa digabungkan. Saya setuju.

Masalahnya bermula pada pergeseran fokus. Di ruang publik, yai Sahal harusnya concern pada bagaimana Islam liberal melihat ruang publik. Mendorong dihormatinya hak-hak sipil. Mendorong kesetaraan perlakuan pada setiap warga negara. Mainnya di sana.

Misalkan soal jilbab. Fokus agitasinya harusnya adalah membuat umat Islam berfikir bahwa pakai atau tidak pakai jilbab itu urusan personal. Urusan dia dengan Tuhannya. Jangan dicampuri. Jangan dipaksa. Dan sikap ini, tidak ada paksaan dalam beragama, sesuai dengan ajaran Islam. Aman.

Tapi pada saat dia menyatakan Jilbab itu tidak wajib, ini bisa jadi perkara. Ada orang yang menilai penggunaan jilbab itu kewajiban muslimat. Jadilah pertengkaran. Keluar dari fokus awalnya.

Padahal, orang yang menilai penggunaan jilbab itu wajib, belum tentu ingin membuat semua perempuan pakai jilbab. Mungkin mereka cuma mau memelihara dirinya dan keluarganya. Liberal.

Tapi saat keyakinan mereka diserang, tidak heran kalau orang-orang ini menjadi target yang empuk bagi para fundamentalis. Yaitu orang-orang yg memang mau menjadikan syariah sebagai dasar pengaturan negara. Kerja yai Sahal jadi counter productive.

Apalagi kalau yai Sahal bicara soal intoleransi. Ini jadi persoalan besar. Kalau orang yang tidak sepandangan dia dalam memahami Islam dilabel sebagai intoleran, ya repot.

Yai Sahal ini punya pemahaman yang progressive tentang Islam. Artinya dia bukan mainstream. Artinya mayoritas penganut Islam memiliki tafsir yang beda dengan dia. Lalu apa semua mau ditafsir sebagai intoleran?

Masalah membesar saat, yai Sahal dan konconya yg satu itu (saya malas menyebut, tapi anda pasti tahu) terlibat dalam agitasi pemilihan gubernur. Mati kita.

Dari awal, posisi saya, jauhkan isu agama dalam agitasi politik. Saya menggantang asap. Karena agama ini memang isu yang sexy, baik bagi calon maupun bagi voter. Tapi setidaknya saya usaha untuk mengalihkannya. Saya banyak membahas tentang trait dan competency di TL atau blog saya.

Saya sih tahu agendanya. Tapi melabel orang yang tidak mau memilih pemimpin yang tidak seagama sebagai bigot atau intoleran, menurut saya sudah berlebihan.

Intoleran dasarnya adalah memaksa orang lain untuk melakukan apa yang kita mau. Memilih pemimpin itu adalah hak saya. Bebas saja saya menentukan kriteria pilihan. Kalau saya milih yang seagama, di mana saya memaksa orang lainnya?

Lain jika, kumpulan tersebut meminta agar orang yang non-muslim dilarang untuk jadi calon gubernur. Ini bentuk intoleransi. Apakah ada yg minta Ahok dilarang mencalonkan diri? Kalau ada, merekalah yang harus kita musuhi.

Sahal dan konconya itu, jelas memperkeruh suasana. Padahal kalau mereka bilang, terserah kalian mau pilih siapa, tapi menurut saya memilih non-muslim sebagai pemimpin tidak dilarang dalam Islam, di mana bakal berantemnya?

Lha ini sibuk mempertentangkan antara pemimpin Islam yang dzalim dengan pemimpin non Islam yang adil. Memangnya pemimpin Islam pasti dzalim? Cuma cari ribut.

Saya prihatin. Di Indonesia ini, ada kelompok kecil yang jumlahnya semakin membesar, yang menginginkan negara diatur dengan hukum Islam. Kita tidak boleh membiarkannya. Apalagi mendorong orang yang ditengah menuju ekstrim tadi.

Kita butuh untuk bekerja bersama-sama. Saya yakin dengan kedalaman pemikirannya yai Sahal bisa melihat concern saya.

Yang ekstrim itu biarlah urusan negara. Saat mereka melakukan aksinya, kita dorong negara untuk bertindak tegas. Kalau terjadi aksi intoleransi, pastikan dulu telunjuk kita mengarah pada negara.

Urusan kita ini yang di tengah menuju kanan. Kepada mereka, jangan disinggung aqidahnya. Kita main saja di pemahaman wilayah publik vs privat. Gimana Yai?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

7 Responses to Menata lagi agenda kita. Gimana Yai?

  1. @inisifani says:

    Ketika liberalis islam menasihati islam liberal 🙂

  2. Muthiullah says:

    Tulisannya manis, saya tunggu tanggapannya yai Sahal, mantap pak…

  3. AL says:

    Bloody Brilliant!

  4. YANTO says:

    Kok saya menilai paham2 itu, liberal-konservative-komunis-whatever, tujuannya hanya MAJU TAK GENTAR MEMBELA YANG BAYAR ????

  5. kumbaya says:

    Beneran gitu Sahal liberal? Diliat dari cuitannya dia sepertinya cuma “self hating muslim” aja.

  6. Andhika says:

    Kalau dibaca sekilas dari tulisan-tulisannya, Ardi dan Akhmad sama-sama belum punya pemahaman yang benar tentang Liberalisme. Walaupun tentu Ardi keliatan sincere dibanding Akhmad yg udah terjangkit delusion of grandeur.

    Seseorang gak menjadi Liberal dengan mengatakan “konsumsi pornografi itu hak individu,” atau “bebas melakukan apa saja asal tidak melanggar kebebasan orang lain,” sebagaimana seseorang gak menjadi anti-Liberalisme karena ingin memberlakukan syariat Islam. Liberalisme gak ada hubungannya dengan hal di atas.

    Liberalisme memiliki definisi yang saklek, konsisten tanpa alternatif, lugas, tidak bisa diubah, ditambah atau dikurangi. Definisi (Liberal)isme itu:

    “(Orang yang ber)keyakinan yang sangat dalam bahwa masyarakat suatu bangsa bisa meraih tingkat kepuasan tertinggi dalam hidup mereka jika setiap rakyatnya bebas bertindak di dalam ruang lingkup hak individunya tanpa campur tangan penguasa.”

    Gak pernah ada pada definisi di atas persyaratan tentang KEYAKINAN rakyatnya itu harus seperti apa! 🙂

    Gak pernah ada guru Liberalisme yg bilang, “Rakyat yang dimaksud dalam definisi Liberalisme di atas adalah rakyat yang tidak percaya bahwa pencuri harus dipotong tangannya, pezina harus dicambuk atau dirajam, penyihir harus dibakar.”

    Perkembangan Liberalisme di Indonesia mandek ya karena yg kayak gini. Energi dan waktu dihabiskan untuk ngebahas isu-isu yang salah dianggap related ke Liberalisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s