​Same Shit, Different Side.

By : Roberto Rulli a.k.a @blangk_on

Melihat ramainya pemberitaan media online mengenai sejak 2 (dua) tahun terakhir memicu banyak pengguna media sosial makin riuh dengan hujatan, perdebatan dan puja-puji kepada para jagoannya.

Adu argumentasi, debat, bahkan saling memaki menjadi hal biasa, kerap terjadi di antara para pengguna media sosial.

Yang cukup menjadi perhatian adalah fenomena di antara pendukung pemenang maupun pendukung yang kalah. Hampir tidak ada celah bagi pihak-pihak yang ingin mengkritisi pemenang. Tudingan sebagai haters, nyinyir doang, pendukung yang kalah, simpatisan atau pendukung partai oposisi, sampai haters bayaran sudah sering dilontarkan pendukung pemenang pemilu.

Hasil survey dari berbagai lembaga (Kompas, LSI, Indobarometer) menunjukkan bahwa rezim yang berkuasa sekarang masih mendapat tempat di hati rakyat.

Namun tentu masih banyak PR yang belum dikerjakan, atau masih on-progress yang dikerjakan oleh rezim penguasa. Nawacita yang menjadi pedoman saat kampanye mulai dipertanyakan oleh sebagian masyarakat. Bagaimana implementasi Nawacita, bagaimana tolak ukur keberhasilannya, kondisi seperti apa jika dianggap belum optimal, dan sebagainya.

Ini menjadi celah bagi sebagian pendukung rezim penguasa untuk berpikir ulang dan berempati kepada pihak-pihak yang belum beruntung ketika berhadap-hadapan dengan kebijakan penguasa. Publik terutama netizen sebagian masih melihat seolah-olah polarisasi hanya terjadi antara pendukung dan pembenci penguasa. Ini adalah gejala sesat pikir, logika biner, hitam putih. Spektrum politik luas, tidak terbatas hanya 2 (dua) kubu, pendukung dan oposan.

Contoh, ada kubu yang apatis terhadap siapa pun yang berkuasa namun bersimpati kepada korban pembangunan, ada juga kubu pendukung penguasa namun tetap bersuara ketika ada kebijakan dari penguasa yang dirasa tidak tepat.

Politik pada hakekatnya adalah perebutan kekuasaan dan sumber daya. Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan banyak pertimbangan rasional berdasarkan informasi yang masuk. Penulis selalu ingat yang dikatakan seorang member of parliament: “Jika ada keributan, patut diduga ada agenda yang belum tuntas di level atas”. Bukan sesedehana persoalan benci atau cinta.

Sering terdengar kalimat segitunya kamu benci Jokowi, kamu hatersnya Jokowi, dan sebagainya. Penulis masih memaklumi jika yang berkata demikian adalah orang-orang yang kenal Jokowi secara langsung, keluarga, kawan, kerabat, ring-1, atau buzzer. Buat penulis adalah tidak masuk akal ada pihak-pihak yang begitu mati-matian membela rezim penguasa padahal dirinya tidak mengenal sendiri sosok junjungannya tersebut. Apakah junjungannya tersebut dianggap sebagai Messiah? Juru selamat? Imam Mahdi? Orang suci?

Jokowi tidak perlu dibela, dia sudah kita antar bersama sampai menjadi orang paling berkuasa di NKRI. Tugas kita sekarang adalah kembali menjadi masyarakat yang berhak untuk menanyakan arah kebijakan pemerintah, implementasi Nawacita.

Ada catatan sedikit bagi penulis mengenai kelompok pendukung rezim penguasa yang hampir selalu menyetujui apa pun kebijakan penguasa, ada saja alasan pembenaran bagi mereka untuk membentengi kebijakan penguasa tersebut.

Politik sebagai suatu pilihan-pilhan berdasarkan logika menjadi berbeda bagi kelompok ini, cara mereka membaca pertarungan politik adalah dengan menggunakan rasa. Perasaan benci atau cinta, anti atau pro. Jadi arena politik sebagai wadah pertarungan perebutan kekuasaan dan segala sumber daya (yang penuh perhitungan dan logika bagi para pelaku) dibaca sebagaimana orang sedang kasmaran, cinta atau benci.

Bagi kelompok ini, yang mengkritisi rezim penguasa dianggap 1 (satu) barusan dengan oposan, yang selalu mereka teriakkan tidak move on. Yang menarik adalah kelompok ini berteriak tidak move on kepada pihak yang mengkritisi pemerintah dengan frame of thinking pemilu yang sudah lama berlalu, it means mereka tidak move one juga, seperti kelompok oposisi. Same shit, different side.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to ​Same Shit, Different Side.

  1. Adi Setiadi says:

    Tulisan yang menyerahkan. Tak adanya kritik kepada pemerintah akan menenggelamkan pemerintahan tersebut. Salam kenal mas Ardi.

  2. Oknum says:

    Kalau perkara kita dudukkan, maka akan terlihat bahwa musabab dari pengkotakan haters-lovers ini akibat suburnya idolism nir ideologi. Benar sinyalemen penulis di atas, para pemuja (di sebrang lain, para pengutuk) mendukung/menolak berdasarkan rasa suka/benci kepada idola. Soal rasa tidak bisa diperdebatkan, tapi politik sbg pelaksanaan ide(ologi) bisa. Ideologi ini yg hilang di wacana suka/benci di medsos. Atau… jangan2 nir-ideologi ini juga sebenarnya diidab oleh pemegang kuasa sendiri. Pemegang kuasa hanya menjalankan serangkaian aksi ad-hoc tanpa basis ideologi. Ketika pemegang kuasa melansir kebijakan tertentu, bahkan dari partai pendukung/posisi tidak ada komentar/kritik berbasis ideologi.

    Salah satu contoh mencolok adalah ketika SMI, yg sdh dinobatkan sbg Ratu NeoLib bisa tiba-tiba jadi eksekutor Nawacita. Bagaimana mungkin SMI ujuk2 jadi Nawacitawati?

    Nir ideologi confirmed diidab pemegang kuasa, bagaimana dg idolism? Saya curiga ini juga dipelihara pemegang kuasa sendiri. Berapa kali gathering para buzers difasilitasi dan dimesrai penguasa? Kampanye masih abadi.

  3. D.A Prasetyo says:

    Mas Ardi, salam kenal dan tolong Sampaikan salam saya kepada Penulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s