Memeriksa Cinta

Kepada kalian yang sedang resah, gundah, sedang menapak via Dolorosa, kepada kalian yang sedang butuh bahu untuk rihat sejenak dari pertengkaran dengan si doi, catatlah, tulisan ini tak ditujukan untuk kalian. Maafkan Stand Up Comedy ya Allah…

Apakah cinta harus dinyatakan, harus diomong?

Saya cenderung memilih ya. Ya, supaya tak jadi php. Cinta harus dinyatakan supaya tak bilang rindu taunya horny, lalu pergi, lagi. Cita-citanya apa.

Cinta harus dinyatakan, dibilang, supaya Senin menjadi sumringah.
Tapi saya bisa memahami bila ada yang menjawab tidak. Beberapa hal kadang lebih baik disimpan saja, dalam hati, jadi cemburu, jadi resah, jadi rindu, jadi dungu.

Baiklah dicatat, cinta itu kata kerja. Ia tonikum yang bertiwikrama saban hari, dinamis. Harus dirawat, dipelihara, dibiayai dengan semangat untuk sudi mengalah. Sebab mengalah adalah cara termudah untuk tak marahan, semacam jeda menuju mengalah berikutnya. Cinta adalah setumpuk daftar harga -pada LDR berubah menjadi setumpuk kuota.

Cinta bukan tentang seberapa banyak yang engkau dapatkan, tapi tentang seberapa banyak yang engkau berikan. Selalu begitu, sejak Liverpool terakhir kali juara.

Karena itulah saya tak percaya The One, sibiran tulang. Ini adalah konsep ringkih yang nyaris takhyul. Bahwa ada yang percaya dengan the one, ia hanya belum bangun.

The One adalah pretensi yang diciptakan, untuk menyenang-nyenangkan diri sendiri. Sebab pada akhirnya cinta adalah journey, perjalanan menuju, bukan tujuan. Jadian adalah perjalanan yang kadang sesak, kadang menyebalkan, sedikit tertawa, sambil berharap selalu ada pelangi setelah hujan.

Saya tak hendak buru-buru tiba di kesimpulan bahwa cinta menjadi repot. Tapi kita bisa mulai memeriksa berapakali dalam momen makan malam, kita memilih menjadi pendengar yang baik, sambil terengah-engah mencari celah untuk mengubah topik. Sambil kentut diam-diam.

Berapakali dalam sehari kita terpaksa menjawab WA yang rutin sudah makan belum, makan di mana, sama siapa, hanya supaya chat itu segera berakhir. Berapakali dalam sebulan kita sebenarnya jengah disodori pertanyaan lebih cocok pakai baju warna merah atau hijau, mengingat apa pun jawaban kita toh dia sudah punya pilihan sendiri. Ahelah…

Kadang dalam hati kita menjawab: bagusan nggak pake baju.
Silakan saja Mamacia (antar kita saja, avatarnya cantik, jangan bilang-bilang ya, janji) menukil cinta versi dia. Atau Funjunkies memberikan tutorial make-up ciamik di dinner berdua. Pada akhirnya toh kita sepakat, cinta yang tak diperjuangkan, tak layak dilanjutkan.

Sampai di sini, saya belum mendengar kalian tepuk-tangan.

Meski cinta bukan Uttaran atau drama Korea, tapi saya percaya ia layak dipertaruhkan. Setidaknya, cinta menyisakan hal-hal baik, yang menyenangkan, yang menenangkan, yang membuat hari menjadi bungah meski gajian masih lama. Yang membuat dandan sama dengan lamanya dengan perjalanan pulang-balik Bumi – Pluto.

Cinta itu membebaskan. Senang rasanya mengetahui ada seseorang yang cemas sebab kita belum pulang. Senang rasanya dipeluk dari belakang, ditenangkan, meski pada gilirannya nanti ada yg tak tenang di selangkangan.

Senang rasanya disambut pulang bak pahlawan, sambil bawa uang. Senang rasanya ada yang antusias mendengar kisah-kisah heroik kita, meski nyatanya di kantor kita cuma kacung kampret.

Senang rasanya ada yang perduli (yang baku adalah peduli, demikian).
Senang rasanya Jumat sore sebab besoknya malam minggu. Dandan yang cantik, sayang, supaya nanti kita ciuman, melenguh dan basah.

Malam minggu terasa lebih indah. Meski kata Kisbet tak ada malam minggu di Medan.

Begitulah, the one adalah anti-klimaks dari sebuah pertaruhan. Semacam dadu terakhir, di perjudian terakhir, yang kau sangat mungkin menang. The one adalah dia yang saat ini bersamamu. Menaruh kepercayaan di pundaknya adalah bagian dari pertaruhan itu.

Cinta adalah judi. Indah sebelum pacaran, sesudahnya disusul setumpuk aturan. Kau sangat mungkin menang, tapi jangan lupa, sediakan sedikit waktumu menarik sekoci lain bila kalah.

Selalu tersedia cukup pangeran atau bidadari di luar sana, untuk dicintai. Bahwa faktanya kau masih sendiri, face the problem. Saya tak bermaksud mengatakan: wajahmu masalahnya.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya 12 Pas Jangan Tuan Wahai.

Tuan Wahai

Manusia Gembira

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s