Bertengkarkah Takdir Kita?

Saya segera melarikan diri jika ada yg menjawab ya.

Sebab bertengkar adalah cara termudah untuk lari dari masalah.

Begitulah, saya jemu saban hari menyaksikan pertengkaran yang terjadi di media sosial. Seolah-olah kita kehabisan cara mempercakapkan aneka topik dengan cara yang asik. Kita ingin dianggap benar, sambil menyalahkan orang lain. Kita ingin menghebat-hebatkan junjungan kita, dengan cara merendah-rendahkan orang lain.

Kita senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang, dan pada saat bersamaan yakin banget masuk surga. Situ ok?

Kita berpretensi menjadi center stage, tak hendak berbagi spotlight.
Karena itulah di banyak platform sosial media yang saya gunakan, saya hampir tak pernah marah bila dikatakan jelek. Semata-mata karena dia benar. Bila saya tidak jelek, pikirkan betapa sulitnya membayangkan ada seorang putra Batak yang direkrut menjadi vokalis SNSD atau Bing Bang, lalu menjadi superstar di Hollywood, lalu panjang…

Sosial media harusnya menjadi tempat yang asik untuk merawat pohon-pohon pengetahuan. Senang menyaksikan banyak gagasan dituangkan, dipercakapkan, dinodai lalu bunting kemudian menjadi ideal, sampai ditemukan idealisasi berikutnya. Dua atau lebih orang dewasa tak bertengkar, kanak-kanak iya.

Bertengkarkah takdir kita?

Saya yakin tidak. Kita hanya sedang kesulitan menerima gagasan lain yang tak sama, yang liyan, yang berbeda. Kita kesulitan menerima perbedaan karena kurang jauh jalannya, kurang jauh mainnya. Kita anak mami, pada konotasi yang akan saya jelaskan waktu kita ngopi-ngopi nanti.

Padahal antusiasme untuk selalu benar, sejatinya, adalah nubuat untuk selalu berada di pusaran busa sabun: kemilau di permukaan, tapi dengarkan saya, rapuh di dalam. Kita hanya mungkin benar setengah, sisanya adalah ketak-tahuan.

Ketak-tahuan itulah yang kelak diisi oleh diskusi. Dan tak perlu menjadi seahli Haji Ramad untuk memahami semua ini.

Satu dua orang memang gemar mendesak-desakkan gagasannya, menimpakan semua kesalahan kepada Pak Jokowi atau Pak Ahok. Atau ke Ibu Mega. atau ke Gusdur. Atau ke Pak SBY. Atau tambahkan sendiri, saya kelelahan. Sementara satu dua orang lain akan mempertahankan sampai titik darah terakhir (sampai titik darah pertama berarti perawan). Begitu terus sampai Jan Pieterszoon Coen memilih dikubur untuk ke dua kali. Mati kita…

Akibatnya beberapa orang menjadi jeri berbagi gagasan. Ia menolak pagi-pagi dhardik, lalu memilih diam sebagai satu-satunya pilihan pintar. Dan kita kehilangan kesempatan bersua dengan gagasan yang ranum, yang seksi, yang suit-suit. Yang kita dapati adalah Jan Pieterszoon Coen dikubur untuk yang ke tiga kali.

Yang mencemaskan dari seluruh fenomena sosial media kiwari adalah kita kehilangan kecerdasan meletakkan teks pada konteks. Kita boleh berdebat sampai Kubilai Khan bangkit dari kuburnya bahwa Ulos yang digunakan Pak Jokowi pada Karnaval Danau Toba kemarin adalah keliru. Itu pun jika benar keliru. Jika tidak, lalu bagaimana memanggil pulang semua kebencian yang sudah diangsurkan tunai di awal? Damage has been done, lalu kita bersedih hati sampai menitikkan air mata seperti Aipsun.

Tapi kita lupa satu hal, oh may God, bahwa semua ini ternyata bukan tentang Pak Jokowi, tapi tentang ketak-becusan penetua Batak mendandani tamu agungnya. Sialnya, kabar buruknya bukan di situ, tapi di sini: keseluruhan sengketa kata-kata tentang Ulos tadi bukan bagian dari keseluruhan ikhtiar membangun kembali Danau Toba. Kita sibuk bertengkar, alpa pada hakikat. Betapa jahanamnya (dua emoticon senyum dari saya).

Maka sulit untuk menampik tiba pada kesimpulan ini: bahwa kita bukan bangsa yang ramah. Sebab, seperti halnya nama membedakan si A dengan B, demikian juga bahasa membedakan manusia dengan binatang.

Takdir kita bukan bertengkar. Kamu yang belum selesai dengan tabiat kanak-kanakmu.

Tinggal tersisa satu pertanyaan kini, dan saya yakin sebaiknya kalian yang menjawab: saya keren gak?

Tuan Wahai
Manusia Gembira

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Bertengkarkah Takdir Kita?

  1. Ringan dan renyah. Enak buat kudapan dan rasanya tak terlupakan. Terima kasih sudah diingatkan, Tuan Wahai. Tabik

  2. Bily says:

    Tulisan bagus. Tapi mungkin Anda juga butuh cermin. Setidaknya baca twit Anda sendiri saat mengomentari pendapat orang lain yg beda dgn Anda. Jika Anda ndak merasa ada yg salah, di situlah Anda perlu bercermin. 🙂

  3. Santo says:

    “Takdir kita bukan bertengkar. Kamu yang belum selesai dengan tabiat kanak-kanakmu.”

    Agak kurang sreg dengan kalimat terkahir, tabiat kanak-kanakmu, Tuan Wahai. Bahwa anak-anak sering bertengkar iya, yang dewasa pun juga. Wong lidah yang bertetanggaan sama gigi seumur hidup pun bisa gak sengaja kegigit.

    Pembedanya, anak-anak gak ada dendam dan gak ada benci. RIbut ya ribut, kelahi ya kelahi, sampai cakar-cakaran monggo. Tapi sejam kelar, udah damai, lupa kalau tadi baru tengkar hebat.

    Lah, kita yang udah gede, ribut di sosmed sampai di Istorakan. Sebenarnya yang belum kelar tabiat kanak-kanak apa dewasa sih?

  4. Saya cuma tertarik dengan pertanyaan Tuan Wahai yang terakhir. Pengen jawab tapi tak sampai hati mengetik. Sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s