Bangunlah kamu pendukung Ahok. Wahai. 

Narasi yang saya sampaikan tentang Ahok tidak berubah. Ahok adalah seorang Incompetent megalomania. Narasi ini tentu saja mengandung bias, karena dimaksudkan untuk melawan narasi yang selama ini diindoktrinasikan oleh antek-antek Ahok. Ya, saya gunakan istilah antek, karena saya banyak dibully jika saya menggunakan kata buzzer.

Sungguhpun ada bias, jika anda punya pikiran terbuka, anda akan melihat garis kebenaran di sana. Bahwa apa yang akan saya paparkan bukan terambil dari kebencian, namun untuk mengimbangi narasi antek Ahok tadi. Bagi para pendukung Ahok, tentu saja ini bisa menyalakan api kemarahan. Jadi perlu saya ingatkan, anda hanya pendukung, bukan antek. Anda masih bisa berubah dukungan. Beri kesempatan informasi untuk mengalir. Olah dengan pikiran terbuka, sebelum nanti bikin keputusan.

Ahok adalah incompetent megalomania. Saya akan jelaskan maksudnya dan anda akan lihat supporting data dan argumennya.

Megalania didefinisikan melalui dua perkara. A) Obsesi terhadap kekuasaan dan dominasi terhadap orang lain. B) delusi terhadap betapa pentingnya dia di dunia.

Obsesi Ahok terhadap kekuasaan saya kira bisa dilihat dari rekam jejaknya. Terpilih jadi anggota DPRD di Belitung Timur tahun 2004, hanya perlu 1 tahun untuk mencari jejak kuasa yang lebih tinggi, Bupati di kabupaten yang sama.

Setahun kemudian, dia berhenti menjadi Bupati untuk maju sebagai calon gubernur Bangka Belitung. Kalah. Pada tahun 2008 dia kasak kusuk ke PDIP untuk jadi calon gubernur Sumut. Ditolak. Dia lalu berupaya mengumpulkan KTP untuk maju sebagai calon independen. Tidak berhasil.

Akhirnya dia mencalonkan diri menjadi anggota DPR pada tahun 2009. Yang ini berhasil. Apakah dia menuntaskannya? Tentu saja tidak. Tahun 2012, dia dijadikan calon wagub DKI oleh Gerindra mendampingi Jokowi.

Apakah Gubernur DKI merupakan obsesi kekuasaannya yang tertinggi? Kalau berita ini benar, jelas tidak. https://www.tempo.co/read/news/2015/10/21/083711547/terungkap-ahok-mau-maju-jadi-presiden-rekaman-ini-buktinya

Tentang delusi terhadap betapa pentingnya dia di dunia, saya bisa contohkan. http://makassar.tribunnews.com/2016/03/19/rekaman-ahok-berang-sebut-kalo-tuhan-ngaco-juga-gua-lawan-karena-ini
Jangan melihat apologinya. Bahwa Tuhan tidak mungkin salah dan sebagainya. Fokus pada bagaimana dia mendudukkan dirinya. Delusion of Grandiose.

Dengan rekam jejak yang tersedia di Internet, kalau mau, sangat mudah untuk mengumpulkan banyak bukti lagi tentang trait megalomania ini.

Pusat dunianya Ahok itu di dirinya. Jangan pikir dia bakal mentingin orang. Kalau udah ngga berguna buat dia dibuang. Contohnya banyak. Dari perjalanan karirnya, dia melompat dari satu partai atau kubu ke tempat lain tanpa merasa jengah. Dalam banyak kasus, dia meninggalkan rasa permusuhan. Kawannya adalah kepentingannya.

Oportunis. Mencla-mencle. Ngga bisa dengerin orang lain. Semuanya bermuara pada ego yg besar. Saya rasa dia berpikir kalau dia itu nabi. Ini yang bahaya.

Tentang incompentency, saya jualnya agak susah. Karena di depan mata ada yang dia dikerjakan. Ada yg dihasilkan. Penataan sungai, relokasi pemukim di bantaran sungai, applikasi Jakarta smart city, Qlue. Ini untuk menyebut beberapa. Saya paham kenapa orang begitu suka dengan Ahok karena ini.

Namun, jika anda punya anggaran 70 T, dan anda punya niat untuk kerja, pasti bakal ada yg keliatan. Apakah yang terlihat itu setimpal dengan 70 T? Ini lain perkara. Apalagi, kita tahu Ahok punya ektra dana off-budget yang dia kumpulkan dari pengembang reklamasi. Di sini kita harus mau untuk berfikir lebih obyektif.

Jadi jelas bahwa hasil kerja Ahok tidak sepenuhnya menggambarkan kompetensinya. Saya lebih suka untuk melihat pemimpin dari visi, karakter, skill dan leadership.

Berdasarkan yg saya lihat, visinya keliru. Tentu ini debatable. Ahok mau bikin jejak yg tangible. LRT, jalan Tol, apalah-apalah. Saya mau gubernur yang membangun warganya. Saya pernah tulis ini di Rappler. http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/97022-selamat-ulang-tahun-jakarta-puasa-pembangunan

Karakternya jelas ngga sesuai dengan kebutuhan management of change. Sesuatu yang sangat diperlukan oleh warga DKI. Kita semua merasa ada budaya kerja yang harus berubah di sana.

Dalam management of change, selain visi diperlukan karakter yang menginspirasi organisasi untuk berubah. Ngga bisa gaya Ahok.

Ahok sendiri pernah ngomong, yang ngga suka ama dia itu PNS. Termasuk PNS di lingkungan pemprov. Lha, gimana mau suka orang kerjanya curiga kalo PNS tukang tilep, males dan bodoh. Mana bisa menginspirasi bawahannya?

Kita dari luar sibuk tepuk tangan. Tapi buat apa, kalo pada akhirnya ngga ada perubahan apa” kalo ngga diplototin Ahok? Kalau anda lihat ada perbaikan pada pelayanan publik selama Ahok, percayalah kalau itu hanya digerakkan oleh uang. Bukan pada inspirasi untuk berubah.

Kalau kriterianya skill ya mari kita pakai ukuran yang baku aja. Apasih skill yang diperlukan untuk jadi Gubernur?

Saya kira ada dua skill/pengetahuan dasar yang diperlukan gubernur. Kemampuan manajemen dan perundangan. Dalam manajemen pemerintah tentu saja ukurannya adalah serapan anggaran dan pelaporan keuangan. Seberapa bisa Ahok memenuhi APBDnya? Apa kualitas laporan keuangannya? Dua tahun ini sih fail.

Dari sisi perundangan/ pemenuhan peraturan, saya melihat Ahok banyak abai. Kasus Sumber Waras atau Reklamasi mungkin kita tidak temukan korupsinya. Namun dari segi hukum dan ketaatan terhadap peraturan, jelas terungkap. Sejauh ini Ahok telah kalah 3 kali di PTUN. Menandai ketidakcermatannya terhadap pembuatan keputusan. Suram.

Leadership basisnya adalah menggalang dukungan dari semua orang untuk tujuan organisasi. Kemudian memadukannya. Nah ini semua orang dimusuhi. Cari musuh hampir tiap hari. DPRD nya aja ngga mau bahas apa-apa ama dia. Di mana leadershipnya?

Ahok tidak punya kesabaran yang diperlukan untuk menjadi seorang leader dalam pemerintahan. Rekam jejaknya sebagai kutu loncat jelas menggambarkan siapa dia. Dia ingin menjadi CEO. Banyak wawancara di mana dia menggambarkan dirinya sebagai CEO. Ini yang menakutkan saya. CEO itu memiliki absolute power dalam perusahaan. Ahok membayangkan dirinya sebagai fascist!

Sekali lagi, anda bisa bilang DPRD nya koruplah. Yang dimusuhin Ahok itu adalah orang” bejatlah. Bisa. Apalagi media juga sedang menjual Ahok sebagai pemimpin yang jujur dan berani. Jadi dicarikanlah semua cara untuk menjadikan orang yang dimusuhi Ahok sebagai korup.

Tapi buat apa?

Karena pada akhirnya, ngga ada urusan yang jalan. Ngga ada kepentingan kita yg bisa tersalurkan. Buntu.

Menjadikan Ahok gubernur berarti menjadikan kita ada di bawah belas kasih dan itikat baiknya. Ini bedanya saya dan pendukung Ahok.

Mereka begitu percayanya dengan kebaikan Ahok. Mereka percaya Ahok selalu membela kepentingan mereka. Saya tidak. Sesederhana itu.

Poin saya, anda, pendukung Ahok, mungkin sedang dijadikan batu loncatan bagi Ahok untuk memenuhi syahwat kuasanya. Anda bisa tutup mata, tapi saya sarankan untuk berani menghadapi realitas.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

26 Responses to Bangunlah kamu pendukung Ahok. Wahai. 

  1. Andreas says:

    Kalau ndak ada calon yang lebih baik, saya justru malah terpaksa jadi pendukungnya Ahok. :/

  2. Adadeh says:

    Mencerahkan

  3. Bily says:

    > Pusat dunianya Ahok itu di dirinya. Jangan pikir dia bakal mentingin orang. Kalau udah ngga berguna buat dia dibuang. Contohnya banyak. Dari perjalanan karirnya, dia melompat dari satu partai atau kubu ke tempat lain tanpa merasa jengah. Dalam banyak kasus, dia meninggalkan rasa permusuhan. Kawannya adalah kepentingannya.

    Bisa jadi. Tapi jika kepentingannya adalah kepentingan publik, apa masalahnya? Bukankah pejabat publik itu untuk memenuhi kepentingan publik? Lain masalah jika kepentingan yg dia bela adalah kepentingan pribadi dan golongannya, seperti kebanyakan politisi di negeri ini. Anda mau Ahok seperti itu juga?

    > Oportunis. Mencla-mencle. Ngga bisa dengerin orang lain. Semuanya bermuara pada ego yg besar. Saya rasa dia berpikir kalau dia itu nabi. Ini yang bahaya.

    Judging. Ahok merasa benar, sama saja seperti Anda merasa benar dgn argumen2 Anda. Sama seperti Anda membegokan orang2 yg tak sepakat dgn argumen Anda. Tapi lalu apa Anda menganggap diri Anda seorang Nabi? Politisi oportunis ada di mana2. Buat sebagian orang ndak masalah selama yg dia bela adalah kepentingan publik. Ntar kalo terlalu setia lantas dituding sbg petugas partai (golongan). Serba salah.

    > Karena di depan mata ada yang dia dikerjakan. Ada yg dihasilkan. Penataan sungai, relokasi pemukim di bantaran sungai, applikasi Jakarta smart city, Qlue. Ini untuk menyebut beberapa. Saya paham kenapa orang begitu suka dengan Ahok karena ini.

    Kontradiksi dgn kalimat di bawah ini:

    > Karena pada akhirnya, ngga ada urusan yang jalan. Ngga ada kepentingan kita yg bisa tersalurkan. Buntu.

    Keluhan, saran, masukan, bahkan kritik warga pada pemda DKI terbukti didengar dan dipenuhi, jika bisa. Mulai dari perbaikan infrastruktur, birokrasi, hingga bantuan. Tentu tak semua tertangani, tapi usaha ke arah itu ada. Buntu apanya?

    > Namun, jika anda punya anggaran 70 T, dan anda punya niat untuk kerja, pasti bakal ada yg keliatan. Apakah yang terlihat itu setimpal dengan 70 T? Ini lain perkara. Apalagi, kita tahu Ahok punya ektra dana off-budget yang dia kumpulkan dari pengembang reklamasi. Di sini kita harus mau untuk berfikir lebih obyektif.

    Obyektif yg gimana? Anda punya data 70T itu kemana saja? Kalo terbukti korupsi, bukankah bisa dilaporkan? Atau terendus KPK? Kita lihat saja nanti.

    > Karakternya jelas ngga sesuai dengan kebutuhan management of change. Sesuatu yang sangat diperlukan oleh warga DKI. Kita semua merasa ada budaya kerja yang harus berubah di sana.

    Perubahan bisa dilakukan dgn banyak metode. Bahwa Jakarta banyak perubahan positif di bawah Ahok, baik dlm infrastruktur dan birokrasi, harusnya Anda bisa lihat dan nilai sendiri. Kecuali Anda memang hanya mencari keburukan Ahok belaka. Pasti ada saja.

    > Ahok sendiri pernah ngomong, yang ngga suka ama dia itu PNS. Termasuk PNS di lingkungan pemprov. Lha, gimana mau suka orang kerjanya curiga kalo PNS tukang tilep, males dan bodoh. Mana bisa menginspirasi bawahannya?

    Anda jawab sendiri dgn kalimat di bawah ini:

    > Yang dimusuhin Ahok itu adalah orang” bejatlah. Bisa.

    Buktinya hanya PNS yg kerjanya ndak bener saja yg jadi sasaran Ahok. PNS yg bekerja baik ya terus bekerja dgn baik.

    > Tapi buat apa, kalo pada akhirnya ngga ada perubahan apa” kalo ngga diplototin Ahok? Kalau anda lihat ada perbaikan pada pelayanan publik selama Ahok, percayalah kalau itu hanya digerakkan oleh uang. Bukan pada inspirasi untuk berubah.

    Judging lagi. Apa bukti Anda menuduh PNS dan birokrat DKI yg bekerja dgn baik hanya semata digerakkan uang? Begitu rendah Anda menilai motivasi orang lain yg bekerja dgn baik.

    > Dari sisi perundangan/ pemenuhan peraturan, saya melihat Ahok banyak abai. Kasus Sumber Waras atau Reklamasi mungkin kita tidak temukan korupsinya. Namun dari segi hukum dan ketaatan terhadap peraturan, jelas terungkap. Sejauh ini Ahok telah kalah 3 kali di PTUN. Menandai ketidakcermatannya terhadap pembuatan keputusan.

    Sepakat. Tidak cermat dlm ambil keputusan bisa terjadi pada siapa saja. Bukankah banyak pejabat publik lainnya yg juga kalah di PTUN? Ada pula yg beranggapan kebijakan pejabat tak bisa dipidanakan selama tidak ada indikasi KKN. Toh tak ada kebijakan atau keputusan sempurna, pasti ada dampak negatifnya di sana-sini.

    > Dia ingin menjadi CEO. Banyak wawancara di mana dia menggambarkan dirinya sebagai CEO. Ini yang menakutkan saya. CEO itu memiliki absolute power dalam perusahaan. Ahok membayangkan dirinya sebagai fascist!

    Lebay. CEO setau saya tidak memiliki absolute power. Ada board, ada pejabat tinggi lainnya yg ikut serta dlm pengambilan keputusan. Lagipula, dari sudut pandang manajemen, bukankah manajemen pemerintahan modern lebih cenderung ke manajemen ala perusahaan? Jadi apa salahnya gubernur memposisikan diri sbg CEO?

    > Mereka begitu percayanya dengan kebaikan Ahok. Mereka percaya Ahok selalu membela kepentingan mereka. Saya tidak. Sesederhana itu.

    Bukti dan rekam jejak prestasi kan bisa dibaca. Apa Anda pikir orang se-Jakarta semuanya ndak bisa berpikir kritis seperti Anda? Apa cuma argumen dan sudut pandang Anda saja yg valid? Tidak sesederhana itu juga lah.

    > Poin saya, anda, pendukung Ahok, mungkin sedang dijadikan batu loncatan bagi Ahok untuk memenuhi syahwat kuasanya. Anda bisa tutup mata, tapi saya sarankan untuk berani menghadapi realitas.

    Siapa pun, silakan berkuasa. Rakyat pada dasarnya memang batu loncatan bagi politisi. Tapi selama tujuannya memang utk membela rakyat, ya silakan. Bukan saja kami mau, bahkan kami akan dukung. Jika Anda mau maju, silakan juga. Buktikan kalo Anda bisa jadi pilihan lebih baik dari Ahok. Berani?

    Poin saya, Anda menginginkan sosok sempurna tanpa cacat cela —seorang Nabi mungkin— untuk jadi gubernur DKI. Tentu saja Ahok tak sempurna, krn nobody is perfect. Yg melihat Ahok seolah tanpa cela itu sama bodohnya dgn orang yg melihat Ahok seolah tanpa kebaikan. Sama2 tutup mata. Katakan Ahok memang segitu jeleknya, alternatif calon lain yg Anda ajukan yg memenuhi seluruh kriteria Anda siapa? Dgn pola pikir Anda, pasti hampir semua orang akan nampak buruk.

    Politik ndak semata visi dan idealisme belaka, apalagi di Indonesia sekarang ini. Pragmatisme jika tujuannya baik, sah2 saja didukung. Jika kemudian ndak cocok, ya ganti saja. Kita toh masih menganut demokrasi kan? Sukarno, Suharto, Gus Dur saja bisa diturunkan, apalagi cuma Ahok. Kenapa Anda kesannya ketakutan terhadap Ahok? 🙂

    • awemany says:

      Untuk bagian 1, saya katakan di akhir artikel, saya ngga percaya dia selalu mementingkan publik. Lagian publik yg mana? Orang tiap orang kepentingannya beragam. Itulah guna DPRD. Yang dia ngga mau peduli.
      Untuk sanggahan ke dua, harus diingat saya bukan pejabat publik. Saya merasa benar sendiri itu ngga ada bahayanya. Kalau Gubernur? Bisa bikin susah orang.
      Yang ketiga. Kalau anda pikir kerjaan gubernur cuma membetulkan jalan rusak ya mungkin beres. Tapi aspirasi warga bisa buntu. Reklamasi contohnya. Bahkan yg kalah di PTUN aja ngga diikutin.
      Yang keempat anda salah tangkap. Saya katakan dengan 70 T dan niat kerja saya bilang akan ada hasilnya. Ngga ada tuduha

      CEO itu gampang dipecat. Ngga bisa jadi fascist. Tapi orang yg dipilih rakyat mau jadi CEO? Bahaya banget. Mecatnya ngga gampang.

      • Bily says:

        > Untuk bagian 1, saya katakan di akhir artikel, saya ngga percaya dia selalu mementingkan publik. Lagian publik yg mana? Orang tiap orang kepentingannya beragam. Itulah guna DPRD. Yang dia ngga mau peduli.

        Hahahaha… publik yg mana? Emang ada pemimpin yg bisa memuaskan kepentingan semua pihak? Lihat aja hasil survey2 yg kredibel. Seberapa puas publik Jakarta terhadap kinerja Ahok. DPRD Anda anggap peduli rakyat? Naif sekali. Jangankan Ahok, rakyat saja ndak peduli pada DPRD.

        > Untuk sanggahan ke dua, harus diingat saya bukan pejabat publik. Saya merasa benar sendiri itu ngga ada bahayanya. Kalau Gubernur? Bisa bikin susah orang.

        Jangan samakan merasa benar dgn merasa sok benar sendiri. Ahok benar saja masih banyak yg merasa bahaya kok. Lagian, bahaya buat siapa? Sejauh ini publik DKI ndak ada yg melihat bahayanya karena yg dilawan Ahok adalah orang2 yg juga kurang disukai publik misalnya politisi DPRD yg ndak peduli rakyat dan koruptor.

        > Yang ketiga. Kalau anda pikir kerjaan gubernur cuma membetulkan jalan rusak ya mungkin beres. Tapi aspirasi warga bisa buntu. Reklamasi contohnya. Bahkan yg kalah di PTUN aja ngga diikutin.

        Lagi… aspirasi warga yg mana? Warga yg merasa puas suaranya didengar ada ndak? Apa suara yg didengar itu mau Anda abaikan dan fokus pada masalah reklamasi belaka? Ya betul seperti saya bilang, Anda cuma ingin melihat keburukan Ahok saja.

        > Yang keempat anda salah tangkap. Saya katakan dengan 70 T dan niat kerja saya bilang akan ada hasilnya. Ngga ada tuduha[n]

        Kan Anda sendiri sudah bilang ada hasil kerja Ahok yg bikin rakyat DKI suka. Trus korelasi ke 70 T itu apa?

        > CEO itu gampang dipecat. Ngga bisa jadi fascist. Tapi orang yg dipilih rakyat mau jadi CEO? Bahaya banget. Mecatnya ngga gampang.

        Kayak DKI selalu dipimpin orang bener aja. Gubernur itu bukan jabatan seumur hidup. Paling lama menjabat 2 periode. Kalo parah banget bisa impeachment oleh DPRD. Paling parah, kalo memang bikin rakyat susah, ya demo aja turunkan Ahok.

        Dan Anda belum jawab pertanyaan saya tentang calon lain yg lebih baik dari Ahok, ada? Selain seorang nabi tentu saja.

      • awemany says:

        Terima kasih untuk komentarnya. Maaf tadi terpenggal. Untuk lancarnya diskusi mari kita ikuti thread yang ini saja

      • awemany says:

        Agar nanti diskusinya fokus, saya akan reply per topik. Jadi anda ngga perlu copy paste lagi.

        Poin 1, tentang serving kepentingan publik sebagai pembenaran anda untuk sikap megalomanianya. Ngga apa-apa dia ngga dengerin orang toh dia serving kepentingan publik. Begitu?
        Anda ngga punya masalah. Dan saya punya. Tolong dikoreksi jika saya keliru.

      • awemany says:

        Untuk poin 2, anda mengambil sikap bahwa ngga masalah Ahok merasa benar sendiri. Toh selama ini anda melihat yang melawan Ahok adalah orang-orang yang ngga suka. Dan artinya mereka adalah orang-orang yang salah/jahat atau koruptor? Begitu. Sekali lagi sila dikoreksi.

      • awemany says:

        Untuk poin 3, anda setuju bahwa dalam beberapa kasus, sikap Ahok ngga mau denger ini memang bikin buntu. Namun anda minta saya berlaku adil. Ada yang tidak buntu. Jangan fokus pada reklamasi saja. Begitu?

      • awemany says:

        Untuk poin 4, anda bertanya apa korelasi 70 T itu. Saya jawab saja langsung. 70 T itu adalah sesuatu angka yg besar. Saya sebutkan, dengan uang sebanyak itu, kalau kerja (walaupun mungkin tidak optimal) ya pasti kelihatan. Masalahnya saya tidak melihat dia capable mengoptimalkan. Itu yg lalu saya tuliskan argumennya.

      • awemany says:

        Untuk poin ke 5, saya memberikan gambaran betapa berbahayanya pejabat publik yg dipilih rakyat untuk bersikap sebagai CEO. Anda merespon dengan argumen
        1. Selama ini ngga ada yang bener
        2. Kalau salah nanti bisa diberhentikan. Begitu?

      • awemany says:

        Untuk poin ke 6, anda menanyakan apakah ada calon yang lebih baik dari Ahok. Yg mana saya bilang, belum ada calon yang jelas akan bertarung selain Ahok. Jadi belum ada yang bisa dibandingkan.
        Namun poin artikel saya bukan untuk membuat orang tidak memilih Ahok. Atau memilih orang lain. Seperti yang saya tulis, ini adalah narasi tandingan. Agar tidak dibutakan pada satu narasi saja. Pada akhirnya orang perlu memilih dengan informasi yang lengkap.

      • awemany says:

        Untuk poin ke 7 dan seterusnya adalah bahasan dari sanggahan anda pada thread 1 yang tadi terpotong.

        Tentang karakter Ahok yang saya bilang tidak sesuai dengan kebutuhan untuk management of change.
        A. Saya tidak membantah bahwa perubahan terjadi. Saya menekankan perubahan hanya ada pada plototan Ahok. Saya tidak punya datanya. Saya hanya percaya pada statement Ahok yg mengatakan dia dibenci oleh (sebagian besar) PNS DKI.
        2. Apakah saya judgmental saat saya bilang motivasi utama untuk berubah adalah uang. Mungkin. Tapi dari penjelasan Ahok bahwa dia dibenci PNS di pemprov DKI, itu pasti bukan dari inspirasi.

        Poin ke 8. Anda sepakat kalau Ahok tidak cermat. Tidak perlu dilanjutkan.

      • awemany says:

        Poin ke 9. Anda tidak berkeberatan dijadikan batu loncatan bagi syahwat politik Ahok. Karena anda yakin Ahok membela kepentingan anda. Begitu?

  4. Bily says:

    > Poin 1, tentang serving kepentingan publik sebagai pembenaran anda untuk sikap megalomanianya. Ngga apa-apa dia ngga dengerin orang toh dia serving kepentingan publik. Begitu? Anda ngga punya masalah. Dan saya punya. Tolong dikoreksi jika saya keliru.

    Pertama, megalomania itu cap yg Anda tempel ke Ahok, yg saya tak sepakat. Iya, Ahok punya ambisi, seperti Sukarno atau bahkan pemimpin yg lain juga punya ambisi. Tapi apa punya ambisi besar itu selalu berarti megalomania? Ndak mesti. Oportunis? Bisa jadi. Tapi jika tujuan besarnya adalah kebaikan, kenapa tidak? Lebih baik ambil kesempatan baik dgn pindah tempat daripada berkubang terus di comberan busuk sambil berharap suatu saat comberan akan wangi. Parpol di negara kita masih di level pragmatis, belum ada yg idealis.

    Kedua, dia ndak dengerin orang itu konteksnya seluruh orang tanpa kecuali atau hanya orang2 tertentu saja? Anda menggiring opini agar orang lain setuju dgn pelabelan Anda. Bagaimana dia bisa serving publik jika ndak mau dengar suara publik? Orang yg berpegang teguh pada prinsipnya bisa saja dianggap ndak mau dengerin orang lain.

    Jadi, ketika dugaan megalomania dan ndak dengerin semua orang itu dihilangkan, dlm pandangan saya Ahok bisa lebih diterima. Itu yg saya lihat. Jika Anda melihat secara berbeda, silakan. Saya hanya berusaha memberi sudut pandang berbeda.

    > Untuk poin 2, anda mengambil sikap bahwa ngga masalah Ahok merasa benar sendiri. Toh selama ini anda melihat yang melawan Ahok adalah orang-orang yang ngga suka. Dan artinya mereka adalah orang-orang yang salah/jahat atau koruptor? Begitu. Sekali lagi sila dikoreksi.

    Orang yg teguh dgn pendapatnya seringkali dianggap benar sendiri. Beda pendapat ndak mesti berarti yg satu benar yg lain salah. Bisa jadi cuma masalah sudut pandang, dan tentu kepentingan. Ada beberapa pihak yg menentang Ahok adalah orang2 yg terganggu kepentingannya, yg bisa jadi ada yg buruk. Indikasinya adalah mereka orang2 yg sebelumnya tidak pernah bersuara, boro2 membela rakyat. Tapi begitu Ahok muncul dgn kebijakannya, tau2 mereka tampil menentang. Drama. Wajar jika ada yg anggap mereka terusik oleh kebijakan Ahok.

    > Untuk poin 3, anda setuju bahwa dalam beberapa kasus, sikap Ahok ngga mau denger ini memang bikin buntu. Namun anda minta saya berlaku adil. Ada yang tidak buntu. Jangan fokus pada reklamasi saja. Begitu?

    Ndak mau denger itu bisa jadi krn memang ndak layak didengar, tapi bisa jadi juga belum ditindak lanjuti sehingga terkesan tidak didengar. Kita lihat buntu itu gimana? Apa suara2 buruk yg tak didengar dianggap buntu juga? Apa seluruh suara, buruk atau baik, semua harus didengar dan dituruti? Apa seluruh suara harus didengar dan mak jegagik dituruti begitu? Fair dan realistis aja lah.

    > Untuk poin 4, anda bertanya apa korelasi 70 T itu. Saya jawab saja langsung. 70 T itu adalah sesuatu angka yg besar. Saya sebutkan, dengan uang sebanyak itu, kalau kerja (walaupun mungkin tidak optimal) ya pasti kelihatan. Masalahnya saya tidak melihat dia capable mengoptimalkan. Itu yg lalu saya tuliskan argumennya.

    Lah, katanya Anda lihat perubahan di Jakarta. Perbaikan sungai, pengendalian banjir, pembenahan birokrasi, memulai e-gov, dsb itu emang ndak butuh dana? Apalagi Anda bilang ada motivasi uang. Optimalisasi itu bagian dari proses. Lagi2 Anda menuntut kesempurnaan, dari awal, tanpa cela. Ya repot.

    > Untuk poin ke 5, saya memberikan gambaran betapa berbahayanya pejabat publik yg dipilih rakyat untuk bersikap sebagai CEO. Anda merespon dengan argumen
    1. Selama ini ngga ada yang bener
    2. Kalau salah nanti bisa diberhentikan. Begitu?

    Koreksi.
    1. Selama ini ndak ada yg sempurna. Tiap pemimpin pasti ada baik buruknya. Pada akhirnya kita2 juga yg harus legowo menerima.
    2. Kalo salah ada mekanismenya. Kan kata Anda ada DPRD toh? Negara kita masih demokratis toh? Atau sudah ganti?

    > Untuk poin ke 6, anda menanyakan apakah ada calon yang lebih baik dari Ahok. Yg mana saya bilang, belum ada calon yang jelas akan bertarung selain Ahok. Jadi belum ada yang bisa dibandingkan.

    Nah, jika belum ada yg bisa dibandingkan, maka berargumenlah di kriteria2 pemimpin yg baik. Bukan malah melabeli orang yg sedang berusaha bekerja, walaupun belum sempurna. Dari argumen2 Anda mungkin kita bisa terbantu memilih pemimpin yg baik, tak hanya bisa menolak Ahok saja.

    > Namun poin artikel saya bukan untuk membuat orang tidak memilih Ahok. Atau memilih orang lain. Seperti yang saya tulis, ini adalah narasi tandingan. Agar tidak dibutakan pada satu narasi saja. Pada akhirnya orang perlu memilih dengan informasi yang lengkap.

    Tujuan dan cara Anda ndak nyambung. Katanya ndak mau membuat orang tidak memilih Ahok, tapi argumen Anda cuma menunjukkan keburukan Ahok belaka. Katanya pilih dgn informasi lengkap, tapi Anda cuma bahas buruknya Ahok saja. Jika Anda betul2 obyektif, kaji dong seluruh sisi kinerja Ahok. Baik katakan baik, buruk katakan buruk. Bisa?

    Anda terbutakan oleh buzzer2 konyol itu sehingga beranggapan semua orang ndak bisa berpikir kritis seperti Anda. Rakyat DKI itu ndak semuanya orang2 bodoh yg mudah ditipu buzzer bayaran. Kita juga bisa lihat dan nilai sendiri kok.

    > Untuk poin ke 7 dan seterusnya adalah bahasan dari sanggahan anda pada thread 1 yang tadi terpotong. Tentang karakter Ahok yang saya bilang tidak sesuai dengan kebutuhan untuk management of change.
    A. Saya tidak membantah bahwa perubahan terjadi. Saya menekankan perubahan hanya ada pada plototan Ahok. Saya tidak punya datanya. Saya hanya percaya pada statement Ahok yg mengatakan dia dibenci oleh (sebagian besar) PNS DKI.

    Anda boleh percaya apa pun. Saya juga. Saya pernah berada di lingkungan PNS. Sudah rahasia umum bagaimana kinerja (sebagian besar) PNS kita. Jangankan pemimpin, ada PNS lain yg bekerja jujur saja dibenci oleh PNS lain.

    > 2. Apakah saya judgmental saat saya bilang motivasi utama untuk berubah adalah uang. Mungkin. Tapi dari penjelasan Ahok bahwa dia dibenci PNS di pemprov DKI, itu pasti bukan dari inspirasi.

    Ahok bukan malaikat. Dia bisa dibenci siapa pun. Lihat bukan semata pada masalah bencinya, tapi apa yg sudah dia lakukan. Mau inspirasi apa bukan, selama kinerjanya baik, itu sudah cukup. Mau ada orang benci atau suka, ndak penting. Setidaknya buat saya yg sudah muak lihat korupnya pejabat dan PNS kita.

    > Poin ke 8. Anda sepakat kalau Ahok tidak cermat. Tidak perlu dilanjutkan.

    Poin saya bukan pada cermat tidaknya. Tapi pada bagaimana Anda menuntut seluruh kebijakan harus sempurna dan diterima semua kalangan. Anda menuntut kesempurnaan. Suatu hil yg mustahal. Sementara di sisi lain, banyak pejabat publik di negeri ini yg kinerjanya buruk, bahkan sangat buruk. Sebutir perak di kubangan lumpur sudah cukup mempesona. Tak usahlah itu dibuang demi mengharap sebongkah berlian yg belum tentu ada juga.

    > Poin ke 9. Anda tidak berkeberatan dijadikan batu loncatan bagi syahwat politik Ahok. Karena anda yakin Ahok membela kepentingan anda. Begitu?

    Lagi, pelabelan. Dlm sistem demokrasi, rakyat kan memang cuma jadi batu loncatan. Mau jadi lurah, ambil hati rakyat kelurahan. Demikian seterusnya. Tapi jangan lupa bahwa kita juga punya mekanisme koreksi. Kita lihat saja gimana kinerja orang tsb saat mendapat kesempatan berkuasa. Apakah betul memenuhi keinginan rakyat? Kalo baik teruskan, buruk tinggalkan. Bukan begitu?

    Anda itu sisi lain dari Ahokers. Satunya cuma bisa melihat kebaikan, tutup mata pada keburukan. Sementara satunya cuma bisa melihat keburukan, tutup mata pada kebaikan. Menuntut orang lain adil dan obyektif, tapi dirinya sendiri tak bisa terapkan.

    Saat ini, saya melihat Ahok layak dipilih melanjutkan tugas sbg gubernur DKI. Tapi saya juga tak menutup mata, jika nanti ada calon yg lebih baik tentu akan saya pertimbangkan. Dan saya yakin saya ndak sendiri.

    • awemany says:

      Saya sudah bilang jawab perpoin. Ini ngga membantu untuk menjernihkan. Boleh diulang ya.

      • Bily says:

        Lah, itu kan sudah saya jawab per poin juga. Cuma saya tulis sekaligus. Selain krn saya males mecah dan balas satu2, juga supaya dapet konteks overall-nya. Bahas satu2, tapi dlm sekali baca, biar terasa korelasi satu dgn yg lain. Itu gaya saya diskusi. Kalo ndak cocok, ya sudah.

    • awemany says:

      Okaylah. Saya minta dipecah agar mudah disimak oleh orang yang akan baca tanpa perlu pengulangan yg bikin panjang. Saya tanggapi.
      1. Anda ngga sepakat dengan assessment saya pada trait megalomania. Saya sudah definisikan. Saya sudan berikan data pendukungnya. Anda tidak membantah data itu. Anda bahkan setuju dia opportunis. Pada bagian tidak mau mendengar orang lain, anda mengatakannya teguh pendirian. Walaupun kenyataannya dia suka mencla-mencle tergantung kebutuhan. Seperti pada pemilihan jalur dukungan untuk jadi gubernur.
      Jadi anda ngga suka aja kalo Ahok disebut megalomania. Ngga masalah bagi saya.
      2. Tentu saya menggiring pembaca untuk menyetujui argumen saya. Again, ngga ada counter yg substantial di sini. Masih soal berpendirian teguh. Masih akan saya jawab dengan bukti bahwa dia ngga seteguh itu. Ganti situasi bisa berubah kok. Asal kepentingannya tercapai.
      Jadi, sama seperti tadi. Anda hanya ngga suka. Tapi anda ngga bisa bantah klaim megalomania yg saya paparkan ditulisan. Anda tetap berpendapat bahwa yang dimusuhi ahok adalah orang brengsek. Ibu Susi pernah dimusuhi lho.
      3. Sepertinya anda mengiyakan pertanyaan saya dan hanya memberi tambahan komentar. Tentang proses memilah yang baik dan buruk, bukankah sesuatu yang harus dijalankan eksekutif dan legislatif. Itu pentingnya punya proses politik. Tapi kalau anda menyerahkannya hanya pada Ahok ya di situlah perbedaan kita. Itulah poin saya pada kekurangan leadership Ahok.
      4. Ada perubahan di Jakarta. Apakah worth 70 T? Ini kan pertanyaannya? Ini yg saya coba jawab dengan memaparkan skillnya. Baik di bidang management (APBD yg tidak terealisasikan) atau perundangan ( yg anda setuju ada ketidakcermatan).
      Apakah ada pemimpin yg sempurna? Ya pasti tidak. Saya menulis untuk memperlihatkan kelemahannya.
      5. Ya. Mekanismenya ada. Pasti akan jadi hingar bingar. Kita punya kesempatan untuk menghindarinya. Jika kita waspada. Again, saya hanya mengingatkan.
      6. Justru saya memberikan kriteria untuk memilih pemimpin. Tertulis jelas Visi, karakter, skill dan leadership. Ini yang harus jadi patokan. Saya bahas Ahok karena saya merasa pendukungnya tidak mau lagi lihat ini. Kalau mereka mau, dan itu tujuan saya, kita akan beroleh pemimpin yang terbaik.
      7. Dari awal tulisan sudah saya jelaskan bahwa ini narasi tandingan. Karena arus besar narasinya sudah terbentuk. Sengaja ditulis untuk memberikan balance pada benak pendukung Ahok. Mengajak berfikir kritis bukan berarti menganggap orang ngga bisa berfikir kritis. Karena kalau memang ngga bakal bisa, buat apa saya tulis? Saya mengingatkan dari sisi lain. Pada akhirnya toh kita harus memilih dari calon yang ada. Itu guna saya sebutkan kriterianya.
      7b. Anda mengatakan mau inspirasi atau bukan yang penting kinerjanya baik. Poin saya berlawanan. Management of change, anda bisa baca buku yang dikarang oleh siapapun, mensyaratkan adanya inspiring leader. Karena dia harus menularkannya. Saya memahami kemuakan anda, tapi setidaknya anda paham kenapa Ahok bukan pemimpin yang baik dalam mengelola perubahan pada organisasinya.
      8. Ya udah sih. No body perfect. Setidaknya anda melihat ketidakcermatan itu.
      9. Saya tidak setuju dengan kata rakyat memang batu loncatan. Tapi kalau itu pendapat anda, ya sudahlah.
      Tentang obyektif, saya kira konsep anda tentang apa yang saya lakukan keliru. Saya bukan hakim. Saya bukan pengadil. Saya pemberi narasi banding bagi narasi yang sudah kuat berakar. Yang perlu diperhatikan dari tulisan, tweet atau argumen saya hanyalah apakah saya berbohong, apakah argumen saya tidak valid? Selama yang saya katakan benar, saya ngga perlu juga mengimbanginya dengan hal baik tentang Ahok. Temennya (katanya) sejuta. Buat apa lagi pujian saya?
      Terakhir, sebagai penutup diskusi, saya senang bahwa anda memiliki pandangan terbuka. Mari kita pilih gubernur yang terbaik bagi DKI. :).

      NB : Ngga perlu merespon lagi. Saya sudah paparkan perbedaan kita. Nanti hanya akan jadi perdebatan yang tak berujung-pangkal. Terimakasih.

      • Bily says:

        > NB : Ngga perlu merespon lagi. Saya sudah paparkan perbedaan kita. Nanti hanya akan jadi perdebatan yang tak berujung-pangkal. Terimakasih.

        Ya jelas tak akan berujung-pangkal karena masing2 punya pola pikir dan sudut pandang yg berbeda. Dan sebagian argumen saya sedikit Anda pelintir. Tapi tak masalah, karena saya tak perlu setuju dgn argumen anda, seperti Anda juga tak perlu setuju dgn argumen saya. Tak perlu diseragamkan juga. Seperti Anda, saya hanya ingin memberi narasi dari sudut pandang yg lain.

        Terima kasih atas diskusinya. Semoga bermanfaat bagi pembaca. 😊

  5. Nufazhou says:

    Menurut saya salah satu bukti Ahok itu oportunis adalah saat dia memilih jalur parpol setelah 1 juta org mau sukarela ngasih ktp nya karena Ahok ngomong mau lewat jalur independen

  6. ssaiya says:

    Saya tertarik untuk berkomentar dan diskusi dgn Anda, Oum Awe 🙂

    Tapi sebelum masuk ke isi, ada bbrp hal yg ingin saya klarifikasikan dulu sehubungan dengan struktur argumentasi Anda.

    Terus terang agak sulit bagi saya untuk mencari isu yg Anda angkat tapi dari poin terakhir yg Anda kemukakan, saya menduga bahwa isu/pertanyaan yg Anda angkat menyangkut soal bagaimana Ahok menggunakan dukungan politik yg diperolehnya.

    Di bagian akhir tulisan Anda simpulkan spt ini:

    Ahok sedang menjadikan pendukungnya sebagai batu loncatan untuk memenuhi syahwat kekuasaannya.
    Dmn kesimpulan Anda tsb didasarkan pada bbrp alasan, yaitu:
    1. Ahok memiliki obsesi thd kekuasaan dan dominasi thd orang lain,
    2. Ahok memiliki delusi thd betapa pentingnya dia di dunia,
    3. Ahok adalah seorang oportunis,
    4. Ahok tdk punya kompetensi, dan
    5. Ahok tdk memiliki karakter yg sesuai dgn kebutuhan management of change.

    Pertanyaan saya menyangkut struktur argumentasi Anda:
    1. Jika benar Anda sedang mengangkat isu ini, yaitu soal Bagaimana Ahok menggunakan dukungan politik yg diperolehnya, maka bagian mana dari tulisan Anda yg menjelaskan (menjawab isu) bhw Ahok sedang menjadikan pendukungnya sebagai batu loncatan untuk memenuhi syahwat kekuasaannya?
    Ini perlu diperjelas sbb alasan yg dikemukakan tampak spt serangkaian klaim yg ga bisa membenarkan kesimpulan yg diambil – selain bahwa tiap2 klaim tsb debatable (bukan fakta).

    2. Atau, apakah Anda sedang mengangkat isu ini: Bagaimana profil Ahok sbg seorang politisi dan calon petahana gubernur DKI?
    Tanpa melihat kesimpulan, jika dilihat dari isi secara keseluruhan sepertinya memang ini isunya. Jika memang ini maka daripada mengomentari kesimpulan yg Anda buat saya lebih tertarik untuk mengarahkan debat kita ke arah pembuktian masing2 klaim yg dijadikan sebagai alasan, yaitu soal apakah Ahok memiliki delusi thd betapa pentingnya dia di dunia ini, dst.

    3. Atau, adakah isu lain selain 2 isu di atas yg saya duga?

    Mohon konfirmasinya, Oum Awe 🙂

    • awemany says:

      Isi artikelnya tentang bagaimana seharusnya kita memilih gubernur. Visi, karakter, skill dan leadership. Megalomania dengan ciri” yg saya sebutkan menjelaskan karakter Ahok. Opportunist, menjadikan orang sebagai batu loncatan adalah penciri megalomania. Anda katakan debatable? Ya tinggal periksa datanya. Bagian mana dari karakter itu yg tidak ada buktinya?

  7. ssaiya says:

    Jika memang isunya adalah itu (Bagaimana kita memilih gubernur?) maka pertanyaan yg sama akan muncul yaitu bagian mana dari tulisan Anda yg menjelaskan cara memilih gubernur dan mengapa begitu (alasan)??

    Isi tulisan Anda justru membahas tentang profil Ahok. Ini lebih pas untuk menjawab isu yg saya sebutkan (pertanyaan nomer 2 dari tulisan saya sebelumnya) yaitu: Bagaimana profil Ahok sebagai seorang politisi dan calon petahana gub DKI? Soal haruskah kita memilih Ahok (seperti jawaban Anda) itu nanti terjawab setelah bahas profil dia dulu.

    Itu dulu komentar saya soal struktur argumen yg Anda bangun, Oum Awe 🙂

    Cheers

    • awemany says:

      Kalau anda baca baik artikelnya, dan itu adalah fokus pembahasan, ada 4 kriteria yg saya sampaikan untuk memilih gubernur. Visi, karakter, skill dan leadership. Kenapa itu? Ya karena saya belajar ilmu managemen. 🙂
      Pembahasan tentang ahok itu dilakukan atas 4 kriteria tadi.

  8. Pingback: Bangunlah kamu pendukung Ahok. Wahai. – Core of Faith

  9. Sisy says:

    Tulisan mas Ardi sgt indah dgn kata-kata yg “tinggi & intelek”. Tapi maaf mas, saya jd cengengesan sendiri bacanya. Saya yg ibu rumah tangga saja paham. Semua yg tertuang diatas sebenarnya menjabarkan tentang bagaimana seorang politikus pada umumnya. Mana ada politikus yang tidak oportunis? Jangankan politikus, pegawai biasa juga oportunis. Jadi hal-hal “yang menguntungkan = kawan” spt yg mas Ardi sebutkan diatas itu sangat BIASA mas. Bahkan sudah jadi pedoman di dunia politik. Masa harus belaga kaget sih lihat orang loncat2 partai? Pembahasan mengenai jurus-jurus tupai loncat ala politikus akan panjang mas. Nama-nama yg harus dibahas bukan Bpk. BTP saja.
    Delusional, bahwa dia paling penting dan akan jadi presiden blablabla?
    Punten, kalau ini, saya harus pinjam ilmu kakak saya yang seorang psikiater. Manusia yg terjun ke dunia politik, seni musik, film, memang sudah “unik” sejak lahir. Punya narsis itu sebuah kewajaran yg sehat mas. Pernah selfie dong pasti? Baik sendiri maupun berdua pasangan/keluarga. Lalu di post di soc-med. Itu bentuk narsisme yg sehat. Yg narsismenya rendah tidak sehat alias suka gak PD. Nah, para pekerja seni & politik umumnya narsismenya lebih tinggi, maka itu mereka menyenangi panggung utk bekerja. Ingin dilihat, dipuja. Walaupun kadang kebablasan. Saya bisa ambil contoh lain yg “delusional” (versi mas Ardi) dan oportunis. Pemuka agama juga ada yang demikian. Menghujat sebuah instansi/organisasi (contoh: PBB) lalu kemudian minta tolong dikemudian hari kepada mereka. Apa itu bukan sebuah bentuk sikap oportunis? Ditambah pula sikap delusional tingkat tinggi bahwa dia seorang yg suci namun kita semua tahu isi dari bungkus kesucian itu?
    Ada lagi manusia-manusia yg sudah “ditendang” atasannya, tapi gak kapok-kapok mencoba terjun lagi ke dunia politik, bahkan gagal di pemilu masih juga bermimpi mencalonkan diri lagi. Apa mereka saja yg boleh berusaha dan bermimpi? Jangan2 mas Ardi juga setuju kalo mereka2 ini juga delusional spt bpk BTP.
    Ah, saya tidak perlu melampirkan link-link berita tentang contoh orang2 ini. Terlalu banyak linknya. Bisa di google sendiri.
    Jujur saya pribadi tidak terlalu menyukai gaya meledak-ledak Bpk. BTP. Sebagai pelayan masyarakat, seharus tidak demikian. Namun kadang ketegasan diperlukan. Mengajarkan anak-anak juga demikian. Tidak bisa semua yg anak saya inginkan boleh mereka dapatkan begitu saja. Saya harus berani bilang: “Tidak boleh!” atau “Sudah malam! Pulang!”
    Apakah saya ibu yg sempurna? Tidak, saya pernah menggunakan sisa uang belanja dapur utk beli bedak (LOL) Bukannya ditabung utk keperluan anak2. Apa saya seorang ibu yg delusional/narsis bila saya mengatakan bhw saya ibu terbaik utk mereka? Tidak. Saya HARUS jadi ibu yg terbaik utk mereka. Apa anak2 saya selalu setuju dgn keputusan2 saya? Tidak. Saya HARUS minta maaf bila saya terpaksa berkata keras demi kebaikan anak2 saya. Terkadang saya menyakiti perasaan mereka bila dilarang. Itu semua contoh “dunia politik” kecil saya di rumah dimana saya harus berdiplomasi, kadang marah, tetapi intinya utk memajukan nasib penerus saya.
    Skrg, apa saya delusional bila mengatakan Bpk BTP telah bekerja keras & memajukan DKI Jakarta? Saya lahir & besar disini. Jadi saya tahu sejarah “tampang” Jakarta.
    Yuk jalan-jalan keliling Jakarta. Kita sama-sama lihat & nikmatin. Ada sungai yg berpuluh-puluh tahun kotor sekarang sudah bersih lho mas, sudah lihat?
    Tapi bukan berarti Bpk BTP kalah & Bpk Anis-Sandi tidak bisa sebaik pak BTP menjalankan amanahnya kan? Saya doakan. Amin YRA.
    Well
    Terima kasih mas Ardi untuk mengajak saya untuk melek.
    Giliran saya untuk ngajak mas Ardi untuk melek akan keadilan di negeri kita ini.
    Sayang Indonesia kan? Bukan cuman separuhnya?
    salam damai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s