Cinta, masa muda dan getirnya jadi dewasa.

Cinta. Saya mungkin sudah terlalu tua untuk merasakan daya magisnya. Usia memang membukakan diri pada banyak saat yang menyakitkan. Lalu kita mengeraskan hati. Mengusir jauh romantisme. Sigh.

Saat muda, cinta bisa berarti langkah-langkah kecil sepanjang jalan. Dengan tangan saling tergenggam. Erat.

Mensyukuri kebaikan hidup. Yang telah mempertemukan. Menatap senyum. Entah untuk yang ke berapa. Pada malam-malam yang panjang.

Ya, saya pernah hidup di masa yang sederhana. Bogor, di akhir dekade 80 adalah kota yang romantik. Untuk mereka yang belum kehilangan kepolosannya. Ada banyak hujan. Dan kadang ada pelangi yg menghias di ujung ĺangit. Senja. Seindah itu.

Trotoar sepanjang jalan pajajaran. Dinaungi pohon-pohon besar. Yg basah pada dingin malam. Tidak mudah untuk tidak terhanyut dalam cinta.

Pada ujung kampus, ada kumpulan pohon randu. Ada masa di mana angin menerbangkan kapasnya. Lalu terlihat bagai salju.

Dan mungkin karena saya datang dari generasi yang berbeda. Kami tidak bergumul di kamar-kamar kos yang pengap untuk cinta.

Kami datang membawa bunga. Atau kadang puisi. Untuk beroleh sedikit kecup di bibir. Lalu merasa sangaaat bahagia.

Bertahun kemudian, kedewasaan itu datang. Dalam desah nafas yang sangat basah kami tumpahkan semua. It was not a glorious moment, for sure. It had been a terrifying moment, indeed. Yet, it turned to be relieving and yes, satisfying. Thanks God.

Dari titik itu, cerita cinta memang jadi berbeda. Lebih sering berakhir pada kamar-kamar asing di tengah kota. Pada malam-malam telanjang yang dihangatkan oleh deru napas tak berkesudahan.

Kemana kepolosan itu pergi? Mengapa sentuhan tak lagi mengalirkan getar ke jantung hati? Pelukan bukan lagi tentang keindahan. Atau kerinduan. Ah, sex had taken them all away.

Waktu berjalan. Perempuan demi perempuan singgah. Membuat hidup terasa berharga. Lalu meninggalkan luka. Dan luka. Dan luka.

Saya telah lewati semua. Terpaan badai dan jebakan batu karang kehidupan. Yang saya tahu saya masih hidup. Romansa? Saya tak ingat lagi kapan terakhir berjumpa.

Pada getirnya hari tua, saya pesankan ini buat kamu, anak muda. Bentangkanlah masa polosmu sejauh kamu bisa. Hargai saat-saat dimana kamu masih bisa bahagia hanya karena pesona suatu senyuman. You’ll thank me later.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s