Pembukaan UUD 45. Sebuah masterpiece.

Setiap kali saya membaca pembukaan UUD 45, saya merasakan kekaguman yang luar biasa terhadap para pendiri republik ini. Bukan hanya tentang kualitas kandungan yang tertera. Juga pada kedalaman bahasa yang digunakannya. Sudah 71 tahun, kita selalu bisa memberi tafsir baru yang relevan terhadap tantangan jaman. Mulialah mereka.

Alinea pertama pada Pembukaan UUD ini begitu menusuk. Tegas. Meletakkan logika sebagai pintu masuk bagi landasan hukum di negara ini.
“Sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Alinea ini, utamanya bercerita tentang tiga hal. Pertama, meletakkan diri kita sebagai satu bangsa di antara bangsa-bangsa di dunia. C’est trés génial. Dalam matematika, saat mendefinisikan himpunan, kita harus menyertakan universenya. Betapa lurusnya cara pandang bapak-bapak bangsa kita.

Kedua, mengingatkan kita hakikat penjajahan adalah pencederaan pada perikemanusiaan dan perikeadilan. Jauh dari bicara tentang pendudukan negara asing. Bapak bangsa kita bicara tentang esensi. Pengakuan akan kemerdekaan adalah pengakuan terhadap hak-hak kemanusiaan dan keadilan. True libertarian.

Ketiga, semangat untuk menghapuskan penjajahan. Bukan saja bagi bangsa Indonesia, namun untuk semua bangsa. Outward looking. Saat bicara tentang kemerdekaan dirinya, bapak bangsa kita tidak lupa menengok ke arah lain. Saya terpana.

Alinea kedua tak kalah indahnya.
“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

Ada tiga titik peristiwa yang dijabarkan dengan kata sifat yang berbeda. Saya masih tidak henti-hentinya kagum.

Perjuangan pergerakan. Pilihan kata pergerakan di sini menyimbolkan suatu dinamika yang berstruktur. Bukan gerak acak, namun terkoordinasi. Manajer yang baik tahu kalau ini adalah soal pengorganisasian. Berjuang adalah pengerahan seluruh sumberdaya. Pada saat ini paradigma resource based view dalam ilmu manajemen meletakkan sumberdaya sebagai basis dalam pengelolaan organisasi. Bayangkan, tahun 1945, saat ilmu manajemen belum diformalkan, bapak bangsa kita telah memahami betul esensi manajemen modern.

Pintu gerbang kemerdekaan. Bapak bangsa kita hanya bicara soal emosi. Perasaan bahagia. Karena mereka tahu, itu bukan apa-apa. Hanya pintu yang memberikan harapan. Bukan garis finish.

Yang terakhir adalah visi. Merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Nanti visi ini diperjelas pada alinea ke empat. Namun alinea ke 2 ini merupakan pernyataan freedom for setelah pada alinea 1 bicara tentang freedom for. Begitu runut. Begitu mencerahkan.

Alinea 3 tentu saja text proklamasi yang sudah disempurnakan.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Alinea ini berangkat dengan rasa syukur yang dalam. Pengakuan atas adanya kuasa Tuhan dalam perjalanan bangsa. Menggaris bawahi nilai-nilai spritual dalam masyarakat Indonesia.

Yang mempesona, kalimat syukur tadi langsung diikuti oleh kata keinginan luhur. Menegaskan adanya free will dalam diri manusia Indonesia. Artinya bapak bangsa kita memahami betul bahwa tidak semua warga negara melihat rahmat Allah sebagai satu-satunya kekuatan. Akan ada warga negara yang hanya mendasarkan diri pada keinginan luhur. Bapak bangsa kita bilang: keduanya bisa.

Yang menarik, pada alinea ini, tujuan kemerdekaan adalah berkehidupan kebangsaan yang bebas. Sementara visi kemerdekaan pada alinea ke-2 adalah merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Artinya apa?

Sedari awal bapak-bapak bangsa kita menyadari visi besar bangsa ini tidak akan terpenuhi tanpa kehidupan kebangsaan yang bebas. Dari titik 0, bapak bangsa sudah mengatakan tidak pada fasisme. Kehidupan kebangsaan harus dipandu melalui perikemanusiaan dan perikeadilan. Right on the essence.

Alinea ke-4 adalah alinea terpanjang. Di sini dilakukan elaborasi terhadap visi kemerdekaan serta landasan dalam mewujudkan visi itu. Bukan main.

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada :
Ketuhanan Yang Maha Esa,
kemanusiaan yang adil dan berada, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,
serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tentang elaborasi dari visi kemerdekaan, mari kita perhatikan kata-katanya.
1. yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia

Frase ini tidak cuma bicara tentang perlindungan bangsa Indonesia. Namun tumpah darah Indonesia. Tafsir tumpah darah Indonesia tentu saja adalah kepemilikan pribadi. Di mana orang akan rela mempertaruhkan darahnya. Kita bicara tentang perlindungan hak-hak sipil dan hak-hak perdata. Diungkapkan dengan begitu puitis. Merinding bulu kuduk saya.

2. untuk memajukan kesejahteraan umum,

Kata yang digunakan adalah memajukan bukan menciptakan atau menyediakan. Bapak bangsa kita menyadari bahwa peran negara adalah pendorong. Memfasilitasi. Dalam konteks apa? Kesejahteraan umum. Di wilayah publik. Jelas di sini bahwa wilayah pribadi bukan domain negara. Tidak ingin ikut campur. Watak libertarian terbaca jelas.

3. mencerdaskan kehidupan bangsa,

Ada frase yang lebih baik dalam menjelaskan tujuan pendidikan selain menjadi cerdas dalam kehidupan? Saya heran dengan frase sefokus ini, kok bisa tujuan pendidikan nasional kita adalah menciptakan manusia yang bertaqwa? Mundur beberapa langkah dari apa yg difokuskan oleh bapak bangsa. Suram.

4. ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Kata yang dipilih adalah melsksanakan ketertiban dunia. Menyadari bahwa yang utama adalah mematuhi norma/hukum yang mengatur hubungan antar negara. Namun bapak bangsa kita memberi tiga syarat bagi ketertiban itu. Merdeka, damai dan adil. Deep.

Tentang landasan dalam membentuk Undang-undang dasar, bapak bangsa memberikan kita Pancasila. Tentu saja pada akhirnya kita tahu bahwa Pancasila berisikan competing ideologi yang sah untuk bersaing dalam menjalankan pemerintahan. Konservatisme dijamin oleh sila 1. Sila ke 2 adalah Libertarian. Nasionalisme terpasang jelas pada sila ke 3. Sementara sosialisme tertulis pada sila ke 5. Adapun sila ke-4 adalah proses yang sah dalam persaingan itu. Demokrasi.

Hari ini, 71 tahun setelah Pembukaan itu disahkan, saya kenangkan kembali upaya bapak-bapak bangsa itu. Entah kenapa, saya jadi begitu malu. Jangankan untuk meneruskan cita-cita mereka. Untuk menghidupkannya saja, saya tidak mampu.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pembukaan UUD 45. Sebuah masterpiece.

  1. Fkr says:

    Wah bagus banget tulisannya. Saya juga jadi kagum kok bisa bpk kepikiran menerjemahkan tiap2 alinea UUD45. It must goes viral.

  2. Pingback: INterDEPENDENCE | muaficrita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s