Apa yang salah dengan Asal Bukan Ahok? 

Tujuh parpol bersepakat untuk berkoalisi untuk melawan Ahok. Para pendukung Ahok segera menyebut kesepakatan itu sebagai Asal Bukan Ahok. Mereka mencibir partai-partai yang biasanya berseteru, kini ada dalam satu barisan. Boleh.

Politik Indonesia memang terlalu pragmatis. Persekutuan Ahok dengan Golkar, Nasdem dan Hanura pun sebenarnya sama pragmatisnya. Namun tentu saja ahokers tidak mau melihat itu. Gajah di depan mata, tetiba hilang dari pandangan.

Sedari awal, saya selalu mengingatkan. Mari kita pilih gubernur yang terbaik bagi Jakarta. Namun suara saya hilang ditengah fanatisme untuk memilih Ahok. Mereka yang biasanya bisa diajak untuk berfikir rasional, tetiba gelap mata. Pilih Ahok atau kalian adalah orang yang rasis, bigot dan pro-koruptor. Suram.

Segala upaya untuk mencari lawan yang sepadan dengan Ahok, dihajar dengan meme serta bully dari buzzernya. Padahal dengan lawan yang lebih bermutu, kita bisa memilih yang terbaik dari yang berkualitas. Ruginya apa?

Dengan semua hal yang telah kita ketahui tentang Ahok, kita berhak untuk memperoleh calon-calon yang sepadan. Sungguhpun, katanya, Ahok telah bekerja, kita harus membuka pandangan orang lain juga sama bisa bekerjanya. Kita bisa pusatkan perhatian pada kriteria sesungguhnya. Visi dalam membangun Jakarta, Karakter, skill dan leadership.

Koalisi tujuh parpol ini harusnya menarik. Kali ini mereka ngga bisa dagang sapi. Taruhannya terlalu besar jika ini adalah soal mahar. Ini adalah harga diri parpol. Ini kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan partai politik punya calon yang sebanding. Ini jalan untuk memperlihatkan partai politik punya kader dengan visi, karakter, skill dan leadership yang mumpuni.

Beberapa nama sudah bertebaran. Saya sih belum impressed. Sandiaga belumlah. Wakil gubernur, mungkin. Tapi Marco mungkin lebih punya bobot dalam visi membangun Jakarta. Dia adalah pilihan wakil gubernur yang menarik. Namun peluangnya masih jauh.

Saya tidak tertarik dengan Risma. Sungguhpun dia digadang-gadang sebagai calon terkuat untuk melawan Ahok. Saya masih trauma dengan larangan menjual kondom untuk mereka yang belum menikah. Penutupan dolly dan beberapa kebijakan lain dengan dasar moral.

Nama-nama lain yang disebut malah lebih jauh panggang dari api. Yusril, Buwas, Rizal Ramli. Apa yang bisa diharap untuk melawan Ahok? Mau mencari malu?

Jadi sampai sekarang, dengan nama-nama yang ada, bagi saya tidak ada yang sepadan. Bagi banyak orang mungkin Risma. Tapi ya itu, saya ngga tertarik.

Saya berharap koalisi ini tidak mencari orang yang populer. Dengan mesin yang mereka punya mereka bisa menjadikan orang tersebut, populer. Susahnya apa?

Yang mereka perlukan adalah calon yang bisa dijual. Memiliki track record yang jelas. Memiliki karakter, skill dan leadership. Soal visi tentang Jakarta, banyak yang akan bantu. Bisa ngga ya mereka cari itu?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

11 Responses to Apa yang salah dengan Asal Bukan Ahok? 

  1. Rudi kahana says:

    Karena dasar moral oum awe menolak risma? Jd pemimpin tidak boleh ngurusin moral gitu? Tp bgmn jika moral itu sudah merusak dan menularkan penyakit ke masyarakat sekitar dan lingkungannya? Haruskah pimpin tetap diam? Dengan alasan bahwa moral adalah urusan setiap individu seperti pandangan oum awe?

    • awemany says:

      Saya tidak bilang ibu Risma adalah pemimpin yang buruk. Saya cuma tidak tertarik. Ini pilihan ideologis. Saat moral jadi landasan kebijakan, pertanyaaannya selalu, moralnya siapa? Dan apa yang membuat orang memiliki superioritas moral?

  2. wiwin says:

    Tidak tertarik itu hak asasi..
    Termasuk saya tidak akan memilih wanita karena prinsip
    Tetapi
    Penyakit masyarakat itu seperti panu.
    Jika dubiarkan bisa meluas…

  3. Saya pendukung Jokowi dan Ahok, tapi bagi saya tulisan ini bagus. Sebagus-bagusnya Jokowi dan Ahok, mereka pastilah punya kelemahan. Tentu saja, sampai saat ini memang belum ada nama-nama yang bisa menjadi lawan sepadan bagi Ahok, setidaknya bagi saya pribadi. Saya malah melihat Irsanurdin Noorsyi sebagai lawan yang punya bobot dilihat dari sisi visi. Sayangnya, partai politik sepertinya tidak berniat melirik figur yang kerap bicara blak-blakan ini.

  4. faris says:

    om, kok malah jadi asal bukan Ahok? Bigot amat gak seh kalo stance nya begitu

    • awemany says:

      Dibaca ngga sih artikelnya? Kita harus memilih gubernur yang TERBAIK. Bisa Ahok, bisa bukan. Kritiknya ada pada pendukung Ahok yang cuma ingin Ahok. Bukan cari yang terbaik. Dan kebiasaan ahokers untuk mengatakan bigot pada orang yang ngga mau pilih ahok. Contohnya? Ya anda. 🙂

      • faris says:

        wooot, aing bukan ahokers juga sih, cuma wondering kalo spirit koalisi parpol udah anti Ahok dan satu lagi harus Ahok, pertentangan idenya dimana?

      • awemany says:

        Makanya ahokers tidak harus membacanya sebagai asal bukan Ahok. Baca saja sebagai kompetitor. Agar persaingan tentang visi, karakter, skill dan leadershipnya mengemuka. 🙂

  5. jia says:

    Penasaran, Om Awe. Jika tujuannya memilih pemimpin terbaik (dg segala keterbatasannya), bagaimana kalau nanti saat waktunya pilkada, yg muncul sebagai lawan Ahok adalah orang2 yg bertebaran namanya sekarang, Om Awe bakal milih siapa? 😀

  6. Tulisan yang menarik. Setelah saya baca tulisan ini saya jadi lebih paham atas pemikiran Om Awe, karena kadangkalo saya baca twit2 Om Awe beda dengan makna tulisan ini secara keseluruhan. Kalo lawan Ahok bisa menandingi Ahok dengan program2 yang sepadan dengan apa yang sudah Ahok lakukan, pasti pemilih di DKI akan terpecah suaranya. Sayangnya sampai hari ini, setelah resmi diumumkan pun, yang saya lihat calon/candidat lain belum ada yang bisa menandingi Ahok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s