Sempit Pikir pada Cutinya Ahok.

Ribut-ribut soal cutinya Ahok ini sekali lagi memperlihatkan biasnya pandangan pendukungnya terhadap Ahok. Sudah bisa ditebak.
Debat tentang apakah petahana HARUS cuti selama musim kampanye ini bukan terjadi saat ini saja. Tahun 2012, Ahok sendiri yang menyatakan kalau petahana harus cuti untuk menghindari kampanye terselubung. Sekarang tentu beda.

Aturannya sudah dibuat. Tertera jelas pada UU no 10/2016 pasal 70 tentang Pilkada. Petahana harus mengambil cuti selama musim kampanye. For good reason.

Semua petahana, termasuk Ahok, mengambil posisi bahwa dia perlu dipilih kembali dengan basis mereka telah bekerja dengan baik. Musim kampanye merupakan waktu yang paling baik untuk menunjukkan bahwa dia telah bekerja baik. Jika dia tidak diharuskan cuti, maka dia punya kesempatan itu.

Saat dia tidak cuti, dia bisa meresmikan selesainya proyek ini itu. Dia bisa menggerakkan bawahannya untuk melakukan layanan yang lebih baik pada masa tiga bulan itu. Dia bisa tetap jadi liputan pemberitaan positip tanpa harus melakukan kampanye. Tentu saja semua ini akan berdampak pada keterpilihannya.

Dan saya belum bicara tentang kecurangan yang dimungkinkan dengan petahana tetap menjalankan fungsinya. Ingat, dia masih punya kewenangan untuk menjaga ketertiban umum. Dia bisa gunakan itu untuk membatasi jalannya kampanye lawan. Terbuka kesempatan.

Ahok telah mengajukan Judicial Review terhadap pasal tersebut. Sekali lagi menjilat ludahnya sendiri. Dia mengajukan argumen yang berlawanan dengan apa yang dia katakan tahun 2012 saat dia menjadi penantang. Khas Ahok.

Di timeline, para buzzernya mati-matian untuk mendukung junjungannya dengan argumen-argumen akrobat. Fail.

Argumen awalnya, cuti harus dipandang sebagai hak. Suka-suka orang mau cuti atau tidak. Kalau Ahok ngga mau cuti, kenapa situ yang repot? Bukan main.

Mereka menutup mata. Jika tidak cuti, artinya Ahok bekerja. Padahal bekerja, dan menunjukkan hasil pekerjaannya itu justru hakikat kampanye para petahana. Untuk Ahok, mereka mau melupakan hal itu. Padahal ini adalah jalan bagi petahana yang lain untuk bekerja hanya pada 3 bulan terakhir. Toh, masyarakat Indonesia pelupa.

Argumen yang paling memualkan adalah presumption of innocent. Kalau ketahuan petahana melakukan kecurangan baru dihukum. Sebelum itu terjadi, kita tidak boleh menghakimi. Smooth.

Saya mual karena secara argumen, ini ngga bisa dibantah. Tapi apakah para buzzer tersebut punya konsistensi terhadap adagium itu? Berapa sering mereka menuduh orang korupsi padahal tidak pernah ada kasus hukumnya? Masih ingat Haji Lulung? Pernah dihukum karena korupsi?

Yang menyedihkan, mereka bisa dan akan berargumen apa saja untuk Ahok. Dampaknya terhadap pilkada yang terjadi di tempat lain? Emang dipikirin.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Sempit Pikir pada Cutinya Ahok.

  1. Hendra says:

    Emang adem ya om bkin tulisan d blog..gk dsamber bajer2 sengak…
    Cool om..

  2. indra says:

    Beliau diusulkam jadi sultan pun bakal banyak buzzer belain kok.

  3. Sebetulnya kondisi di dunia nyata apa ya seperti itu, buzzer buzzer membenarkan dengan berbagai cara? Kalau ya, memang bahaya jika dibiarkan. Aturan jadi seperti dibuat mainan.
    Tapi dengar2 ada Yusril yang akan melawan JR di MK nanti.
    Nice blog, cuma aku nggak suka tulisan tentang Prabowo, hahahaha, soalnya aku pemilih dia. Tapi it’s okay lah, nggak masalah membaca tulisan itu. Bisa jadi masukan.

  4. Andreas says:

    Argumen Ahok dan pendukungnya itu argumen yang egois sih. Aturan itu bukan cuma untuk Jakarta dan Ahok. Di daerah lain banyak petahana yang lebih sadis main kotornya ketika aturan cuti itu tidak ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s