Bikini Sebagai Merk Snack: Marketer Salah Pikir. 

​Kemarin, sosial media dihebohkan oleh produk makanan ringan dengan merk Bikini. Diambilkan dari kata Bihun Kekinian, si pembuat merk rupanya ingin keliatan kreatif. Dengan adagium sex sells, makanan ringan ini diberi logo beha bikini dan tambahan tag line Remas Aku.

Reaksi datang dari berbagai komponen masyarakat dan pemerintah. Bahkan YLKI, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menyerukan penarikan produk tersebut. Concernnya adalah penyebaran konten pornografi. Suram.

Produk itu tampaknya tidak akan bisa beredar lagi. Bukan karena masalah pornografi, namun karena ternyata produk itu tidak memiliki izin dari BPOM selaku pengawasan produk makanan. Selesai.

Lepas dari kontroversinya, ada hal yang menarik dari sisi marketing. Bagi saya, kasus ini merupakan bentuk ketidak pahaman si marketer terhadap konsep brand development. Lebih jauh, ini bentuk penerapan secara membabi buta terhadap adagium sex sells. Mari kita diskusikan.

Nama merk merupakan anchor dari semua asosiasi yang akan dilekatkan pada produk yang akan dipasarkan. Tidak semua produk beruntung. Kadang, si marketers bisa memberi nama yang secara literal memberikan asosiasi positip yang relevan. Contohnya Lux, Daya, Clear. Namun untuk banyak produk, namanya tidak selalu memiliki makna. Dengan demikian, upaya untuk menanamkan nama tersebut menjadi lebih besar. Marlboro itu sebagai kata tidak memiliki arti sama sekali. Namun dengan aktifitas branding, merk itu berasosiasi kuat dengan modernitas, kebebasan, kekuatan karakter. Usaha besar.

Kata kunci yang digunakan dalam pemberian nama merk adalah POTENSI bagi asosiasi yang positip dan relevan. Tentu saja asosiasi yang relevan ini sangat bergantung pada produk kategori dan target marketnya.

Sekarang, mari kita bayangkan manfaat makanan ringan. Tanpa harus melakukan riset konsumen yang canggih, kita pasti bisa tahu makanan ringan harus memiliki dua asosiasi utama berikut.
– Cukup mengenyangkan/ mengganjal lapar. Tergantung dari jenis snacknya, turunannya bisa jadi soal memberikan energi.
– Enak. Ini juga memiliki banyak dimensi. Enak bisa diturunkan dari aroma, rasa atau struktur dari makanan ringan tersebut.

Di luar elemen utama tersebut, makanan ringan akan bermain-main dengan manfaat-manfaat sekunder seperti :
– kesuaiannya untuk gaya hidup target market. Ini bisa berarti modern, praktis, sehat, fun, dan sebagainya.
– kesesuaiannya dengan momen konsumsi seperti sembari melakukan aktifitas bermain, bersosialisasi atau bahkan hari raya.

Bikini sebagai suatu kata tentu jauh dari asosiasi yang diperlukan makanan ringan. Kalau dipaksakan selalu bisa. Namun tidak terjadi secara natural. Apa dari kata bikini yang bisa bikin persepsi kenyang?

Apalagi kalau kita lihat bikini ini merupakan permainan kata dari bihun kekinian. Bihun tentu saja adalah karbohidrat. Bahan makanan yang memiliki asosiasi dengan gemuk. Sementara bikini tentu saja berkonotasi langsing. Di sini terlihat karbohidrat dan bikini akan menjadi sesuatu yang bertolak belakang.

Anda bisa argue dengan saya kalau bikini mungkin saja memberikan asosiasi yang enak untuk dinikmati. Namun saya kira ini akan menghapus perempuan dari target mereka. Hanya lelaki yang bisa mengasosiasikan bikini dengan kenikmatan yg akan mereka peroleh. Itupun akan jadi sangat terbatas pada mereka yang tidak malu menunjukkannya secara publik. Susah.

Upaya menarik perhatian melalui sex, tidak serta merta menghasilkan sustainabilty. Orang mungkin ingin tahu. Tapi tidak akan membuatnya bertahan. Kecuali jika produknya memang berasosiasi dengan penciptaan daya tarik dan power. Produk-produk seperti minyak wangi, deodoran dan sebagainya memang boleh memiliki konotasi sexy. Relevan.

Seandainyapun produknya memiliki relevansi dengan sex, peletakan nama merk yang vulgarpun belum tentu strategi yang baik. Marketers umumnya meletakkan sex sebagai nuansa dalam komunikasinya. Bukan sebagai nama merk. Terlalu beresiko.

Poin saya, berhati-hatilah dengan pemberian nama suatu produk. Kita bukan cuma ingin menarik perhatian. Esensi pemberian nama adalah mencari anchor asosiasi yang positip dan relevan. Tabik.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Bikini Sebagai Merk Snack: Marketer Salah Pikir. 

  1. chigaderu says:

    Loved this post. Hormat saya oum awe.

  2. Benar juga ya. Jika produk itu lolos di pasaran, kira-kira bagaimana cara branding produk itu nantinya? Tulisan demi tulisan blognya cukup serius dan keren.

  3. Bagus ulasannya. Iya juga, konsumen perempuan pasti risih. Sementara yg seneng ngemil kan perempuan.
    Mirip kultwit pak Biakto juga, selalu wanti wanti, hati hati dengan brand

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s