Menantikan Kampanye Cerdas di Pilgub DKI

Branding, seperti kita tahu adalah upaya untuk menanamkan asosiasi positip terhadap sesuatu produk. 

Produknya tentu saja membentang luas. Dari mulai sesuatu untuk dikonsumsi sampai orang untuk dipilih jadi pemimpin. Dari sesuatu yang tangible sampai sesuatu yang hanya merupakan ide. Semua bisa dibranding. Semua bisa dibuatkan aktifitas yang membuat hal itu memiliki asosiasi positip.

Pertanyaan dalam branding selalu kita bagi dua. Asosiasi positip apa yang akan kita letakkan pada target kita dan bagaimana cara melakukannya. Inilah sumber perdebatan yang terus berlangsung. Di sinilah art dan science tentang branding berkembang.

Dalam politik, asosiasi positip yang dilekatkan juga terkait dengan dua hal. Siapa dan apa yg akan dilakukan sebagai pejabat. Siapa akan merujuk pada penokohan dalam hal identitas sosial, karakter dan kompetensi. Apa yang akan dilakukan, berkaitan dengan kebijakan dan program. Sesederhana itu.

Kampanye politik kita masih sangat terpaku dalam menjawab siapa. Saya tidak bisa menyalahkan. Ada dua hal yang jadi penyebabnya. Pertama, voter yang memang tidak memiliki kemampuan untuk mengkritisi program. Kedua, politik kompromi yang mengakibatkan tidak pernah membuat janji program itu terbedakan secara tajam.

Anda lihat saja Jokowi. Begitu mengecewakannya dia dalam hal-hal yang terkait dengan HAM. Padahal dia dulu dipilih banyak orang yang tidak mau punya presiden yang terkait dengan pelanggaran HAM. Hal-hal seperti ini akan membuat voter sinis terhadap janji-janji program. Mudah-mudahan di depan lebih baik.

Bicara soal siapa, harusnya penekanannya pada karakter dan kompetensi. Namun politik Indonesia masih juga terjebak pada identitas sosial. Yang lebih menyedihkan identitas yang laku dijual adalah faktor agama dan suku. Sesuatu yang kita harusnya sudah berhenti melihatnya.

Selain identitas sosial, kampanye tentang siapa lebih sering melibatkan kampanye hitam. Ini persoalan. Kita bukan memilih yang kita mau tapi digiring menjadi memilih yang kita tidak mau. Hasilnya? Lagi-lagi kasus Jokowi-Prabowo bisa jadi contoh. Para penolak Prabowo tentu menyesali pilihannya dengan isu-isu HAM tadi.

Hari ini, kita belum tahu siapa calon-calon gubernur DKI yang akan bertarung di tahun 2017. Melihat apa yang terjadi selama ini tim kampanye masing-masing calon harus memikir ulang konten branding calon-calonnya. Taruhannya terlalu besar kalau kita tetap terjebak pada politik identitas.

Ahok, si petahana, tentu saja sudah maju berpuluh langkah di depan dalam hal brand name. Bersih, lurus dan tegas untuk membangun Jakarta. Siapapun akan dilawan jika itu menghalangi kemajuan dan kesejahteraan Jakarta. Narasi yang solid.

Lawan-lawannya bisa mencoba untuk meng-counter asosiasi ini. Salah satunya dengan melakukan kampanye hitam. Menginsinuasikan kalau Ahok korup, mencla-mencle atau kompromi dengan yg buruk. Isu ini akan menjadi godaan besar bagi lawannya. Dia jelas-jelas maju dari partai politik. Hal yang dulu dia lawan. Godaan.

Namun saya berfikir itu hanya menggantang asap. Ahok memiliki basis pendukung yang cukup militan. Mereka ngga akan percaya Ahok korup. Mereka akan bilang, Ahok lah yang membawa partai politik ke jalan yang benar. Jadi tidak akan bermanfaat. Bahkan hanya mengundang pembalasan yang lebih kejam. Kita kenal buzzer Ahok. Kita tahu betapa tajam meme-meme yang dibuat mereka.

Dalam opini saya, narasi sesolid itu jangan dilawan. Dibelokkan energinya. Toh, semua karakter positip selalu memiliki sisi negatif. Anda bilang anda perfectionist, saya bisa tunjukkan orang yang takut gagal. Anda bilang anda jujur, saya bisa bilang anda tidak pandai mengelola kompleksitas. Apa saja. Selalu ada sudut yang membuatnya lemah.

Kuncinya ada pada meletakkan counter tadi pada konteks yang relevant terhadap apa yang dibutuhkan warga Jakarta. After all, kita tahu betapa pragmatisnya warga Jakarta.

Meng-counter narasi lawan bukan berarti harus memburuk-burukkannya. Toyota tidak melakukan kampanye hitam terhadap mobil-mobil eropa. Tidak perlu. Dia konsisten membangun citranya sendiri yang memang berbeda atau bahkan berlawanan dengan produk-produk eropa.

Narasi cerdas harus dilawan dengan narasi cerdas pula. Produk eropa yang dikenal sebagai canggih dilawan Toyota dengan produk yang “bandel”. Tahan lama. Mobil Eropa yang cenderung individualis dilawan dengan mobil keluarga. Dengan konteks yang relevan bagi masyarakat Indonesia, akhirnya dia bisa menguasai pasar mainstream. Cerdas.

Siapapun dulu yang menyarankan Yusril untuk naik commuter, atau Sandiaga naik metromini, jelas gagal untuk cerdas. Tidak memberi nilai tambah. Bahkan cuma jadi meme yang membuatnya jadi bahan tertawaan publik. Suram.

Saya tentu tidak mengenal Sandiaga dengan baik. Media masih belum membuka borok-boroknya. Namun, track recordnya terlihat positip. Memanfaatkan krisis moneter 1998 sebagai kesempatan untuk maju, dia merupakan pengusaha muda yang sukses. Di bidang keorganisasian, dia pernah jadi ketua HIPMI. Tapi itu bisa digunakannya untuk melawan Ahok?

Strateginya adalah mencari faktor-faktor POSITIP dari Ahok dan faktor POSITIP dari Sandiaga. Dari aspek-aspek tersebut, cari yang arahnya bertentangan. Misal, Ahok punya sifat result oriented. Yang penting hasilnya bagus. Positip. Apakah Sandiaga punya sifat process oriented, mengutamakan proses? Positip juga. Apakah ada buktinya? Jika ada, nanti ini bisa digunakan untuk bertanding.

Dengan demikian masyarakat Jakarta bisa diajak untuk berfikir. Mana yang lebih penting bagi warga Jakarta? Proses yang baik yang bisa berkesinambungan? Atau result oriented yang memang sudah sangat diperlukan? Kontes positip.

Hal ini tentu saja tetap berlaku sungguhpun calon lawan Ahok bukan Sandiaga. Menandingkan aspek positip si calon melawan aspek positip Ahok.

Kalau kontestasi politiknya seperti ini, kita tidak membelah masyarakat menjadi pendukung kebaikan melawan pendukung kesesatan.

Kalau kontestasi politiknya seperti ini, masyarakat akan belajar banyak tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan. Bukan sekedar kampanye hitam berbasis politik identitas. Yuk, mari.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Menantikan Kampanye Cerdas di Pilgub DKI

  1. Dibikin tabel oom, perbandingan masing-masing calon, biar lebih mudah dipahami. Tulisan yg bagus terutama buat yg terbiasa berpikir obyektif. Cuma nggak banyak sepertinya ya….hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s