Nyinyirin Menteri Ngga Mau Salaman. Really?

Pagi ini TL diributkan oleh nyinyiran terhadap mendikbud baru yang meyakini lelaki dan wanita non-muhrim tidak elok untuk mengungkapkan salam dengan saling memegang tangan. Nyinyiran tentu saja dilakukan oleh mereka yang selama ini mendukung kebebasan untuk berekspresi dan berkeyakinan. Aroma biasnya kental sekali.
Saya memiliki pandangan liberal. Toh saya beranggapan nyinyiran seperti ini justru berbahaya. Mudah sekali orang untuk menghakimi bahwa yang diperjuangkan adalah kebebasan diri sendiri. Kebebasan orang lain? Nanti dulu.

Salah satu kutipan yang sangat mengganggu saya datang dari Prof. Iwan Pranoto di @iwanpranoto. Ini bunyinya:
“mengekspresikan keyakinan kita, itu baru setengah, setengah lagi menghargai keyakinan orang lain dan memahami posisi kita di lingkungan”.

Kutipan ini sepertinya bijak. Apalagi datang dari seorang selebtweet yang terhormat di Time Line. Namun, seperti yang saya katakan mengandung bahaya bagi advokasi pemikiran liberal.

Jika kutipan itu datang dari anak-anak ITJ, saya bisa terima konsistensi dengan pandangan mereka. Tapi dari Prof. Iwan? Really?

Masih ingat Je Suis Charlie? Atau heboh pembakaran di mana-mana saat media Denmark memuat cartoon soal nabi? Liberal di seluruh dunia melakukan protes terhadap apa yang disebut sebagai upaya pemberangusan kebebasan berekspresi.

Apakah yg dilakukan oleh charlie hebdo itu menghargai keyakinan orang lain? Tentu saja tidak. Tapi adagium utama dalam kebebasan berekspresi adalah “saya harus dukung kebebasan anda untuk berpendapat/berekspresi sungguhpun itu tidak sejalan dengan kepentingan saya”.

Kalau kutipan Prof. Iwan tadi diterapkan pada situasi sosial kita maka itu akan jadi kemenangan besar bagi kaum konservatif. Dengan klaim bahwa kita harus menghargai keyakinan orang lain (baca: mayoritas), kita akan dipaksa untuk memenuhi norma mereka dalam berbusana atau berperilaku. Bahaya.

Dalam upaya untuk mempertahankan argumennya, Prof. Iwan menggaris-bawahi status menteri itu sebagai pejabat negara. Ini argumen akrobat. Bagaimana dengan pejabat negara yg berkunjung ke di Aceh? Apakah dia harus DILARANG untuk bersalaman dengan perempuan semata untuk menghormati keyakinan orang?

Ekspresi keyakinan atau keagamaan jelas tidak bisa dilarang berdasarkan argumen pejabat negara. Relevansi pejabat negara hanya ada pada kebijakan dan penggunaan uang negara. Jika ekspresi keyakinannya tidak melibatkan kedua hal tersebut, tentu nyinyir seperti itu hanya memperlihatkan bias. Suram.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s