Kampanye PilGub Salah Bahan. Suram.

Jika anda sama normalnya seperti saya, anda akan merasa muak dengan praktek-praktek kampanye pilgub DKI saat ini. Tapi apakah kita membencinya untuk alasan yang sama?

Bagian yang memuakkan dari kampanye pilgub DKI adalah perang opini yang menjurus fitnah terhadap calon-calon gubernur. Dari mana asalnya? Saya kira, kita harus menerima gajah besar yang ada di ruangan itu, adalah politik identitas. Cina-Kafir vs Muslim- Pribumi.

Jika melakukan pengamatan dengan jujur, kita harusnya bisa menerima jika kampanye model ini lebih sering dilakukan oleh mereka yang tidak bisa menerima Cina-Kafir memimpin Jakarta. Suram.

Dan di situlah masalahnya. Terlalu sibuk ngurusin identitas Cina-Kafir, lupa untuk ngurusin Ahok. Lupa untuk melihat siapa sebenarnya Ahok. Di luar identitas sosialnya. Di luar asal usul dan agamanya. Lupa untuk membahas kompetensinya. Lupa membahas karakternya. Lupa.

Pendukung Ahok sih senang-senang saja. Karena membahas Cina-Kafir adalah cara yang sederhana untuk menunjukkan bahwa anda bigot. Sekali anda dilabeli bigot, tidak ada isi pembicaraan anda yang memiliki nilai untuk didiskusikan.

Ini seperti Judo. Energi besar yang menyerang kita, kalau kita jago justru jadi energi besar untuk menjatuhkan lawan. Energi besar untuk menggoreng isu Cina-Kafir, jadi energi besar juga untuk menjatuhkan melalui label rasis, bigot dan pro-koruptor. Ini narasi cerdas yang dibangun oleh konsultan politik Ahok. Akhirnya malah bikin orang yang moderat takut untuk ngga milih Ahok. Suram ngga sih?

Saya beranggapan kampanye anti Ahok dari sudut Cina-Kafir ini harus dihentikan. Selain sangat tidak etis juga tidak bermanfaat. Ini argumen saya dari sisi etis.

Sisi etis dari suatu kampanye menurut Bishop (2000) bisa ditinjau dari 4 perkara.
1. Apakah mereka menggunakan isi kampanye yang keliru atau menjerumuskan?
2. Apakah mereka mempromosikan nilai-nilai yang salah?
3. Apakah mereka menyebabkan suatu bahaya?
4. Apakah mereka merupakan ancaman bagi individualisme dan kebebasan?

Pertanyaan ke-4 tentu saja tidak relevan bagi konteks masyarakat Indonesia. Pengganti pertanyaan ke-4 tersebut adalah
4. Apakah isi kampanye itu mengancam keharmonisan masyarakat?

Apakah menggunakan politik identitas ini keliru? Tidakkah semua politikus berupaya untuk mengkapitalisasi kesamaan identitas untuk memperoleh dukungan?

Politik identitas boleh dan etis dipakai untuk menegaskan persamaan. Namun bukan mempromosikan anti-perbedaan. Mudah-mudahan paham bedanya.

Saat saya di hadapan masyarakat Islam, menegaskan kepatuhan saya terhadap norma-norma Islam, itu sah dan etis dalam politik. Tapi pada saat saya mengatakan lawan saya memiliki ras atau agama berbeda sebagai bagian dari kampanye, itu jelas tidak etis.

Saat saya menegaskan persamaan tidak ada nilai yang salah yang dipromosikan di sana. Mencari kesamaan adalah upaya untuk menemukan jembatan dalam berkomunikasi atau membangun hubungan. Bagus.

Saat yang dipromosikan adalah anti-perbedaan maka jelas ada yang keliru. Anti-perbedaan merupakan nilai yang tidak sejalan dengan demokrasi. Sungguhpun jika itu dibalut dengan ketaatan terhadap agama.

Argumen saya berikut ini mungkin sulit diterima. Tapi saya berangkat dengan pijakan sekuler. Agama dan ketaatannya adalah masalah privat. Bukan untuk konsumsi publik. Saya tidak bisa melarang anda untuk mencegah Cina-Kafir jadi pemimpin. Tapi lakukan itu pada ruang privat anda. Di keluarga anda. Pada kelompok pengajian anda. Di wilayah-wilayah privat. Bukan di wilayah publik. Di ruangan publik itu menjadi tidak etis.

Apakah kampanye dengan konten Cina-Kafir ini bisa menimbulkan bahaya dan mengancam keharmonisan sosial? Ya, pastilah. Di ruangan publik, ini jelas sangat mengganggu. Perang yang terjadi di sosial media ini bagaimanapun juga akan menimbulkan luka dan dendam. Bisa jadi telah ada bara dalam sekam. Jangan jadikan itu api yang akan membakar kita semua.
Dari argumen manfaat, kampanye Cina-Kafir ini jelas strategi yang sangat keliru. Tadi saya telah sebutkan dampaknya bagi mereka yang moderat. Takut atau malu dilabelin bigot atau rasis. Padahal, kalau bukan kepada yang moderat anda mau kampanye kepada siapa?

Argumen ketaatan pada agama untuk mempengaruhi pilihan bukan sesuatu yang rasional tapi emosional. Sesuatu yang bukan diargumenkan tapi diyakinkan secara personal. Ini ngga bisa ada di wilayah publik. Anda sudah lihat hasilnya. Akan ada orang dengan pandangan agama berbeda yang membawa tafsir yang lain. Dengan terbatasnya ruang debat, semuanya jadi merasa benar sendiri. Publik hanya akan menilai dari sisi politically correct. Pada akhirnya hanya menghasilkan label bigot. Mau?

Sebentar lagi, calon-calon yang resmi akan segera diumumkan. Musim kampanye akan dimulai secara resmi. Mudah-mudahan anda mendengarkan saya. Hentikan kampanye dengan konten Cina-Kafir di wilayah publik. Titik.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kampanye PilGub Salah Bahan. Suram.

  1. azz says:

    “Tapi lakukan itu pada ruang privat anda. Di keluarga anda. Pada kelompok pengajian anda. Di wilayah-wilayah privat. Bukan di wilayah publik. Di ruangan publik itu menjadi tidak etis.”

    Ini om, saya sepakat sama ini, tapi kayaknya ada kesan medsos bukan ruang publik. “wall ini wall gw, terserah gw dong…” Banyak yang lupa dari medsos bisa viral dan bukan lagi ruang publik. Pun lupa bahwa yang baca juga mereka punya teman yang tidak satu identitas, yang dekat semasa sekolah, kuliah, atau teman kantor, dan bisa saja tersinggung.

  2. Muhammad Rafal says:

    Aikido lebih cocok.kali oum…bukan Judo;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s