Hukuman mati dan nurani tumpul Jokowi.

Genderang untuk melakukan eksekusi hukuman mati sedang ditabuh kembali. Saya belum memahami apa faktor politisnya. Apakah Jaksa Agung sedang merasa perlu untuk menegaskan keberadaannya? Ataukah Jokowi yang sedang ingin membawa pesan kalau dia lagi serius? Tapi, nyawa orang yang jadi mainan.

Hukuman mati memang dilemma. Sebagai hukum positip dia ada. Boleh dijatuhkan. Boleh dilakukan. Namun kita semua paham, apa yang sebenarnya terjadi dalam eksekusi itu. Ada nafsu purba yang hendak dilampiaskan. Keinginan untuk melihat si jahat mati. Melihat darah. Jokowi memahami itu. Dia buat pertunjukannya. Sesederhana itu.

Di negara seperti Indonesia, penguasa berada dalam baris yang sama dengan sentimen publik dalam penghukuman mati. Karenanya, penguasa populis seperti Jokowi tidak akan berhenti melakukannya. Pada setiap kasus yang diframing media sebagai kejahatan keji, ramai hukuman mati dimintakan. Memenuhi keinginan rakyat banyak, kenapa tidak?

Para pendukung hukuman mati ini akan membawa argumen apa saja untuk kehausan akan darah. Mulai dari efek jera sampai beban APBN untuk pemenjaraan. Tidak satupun yang valid.

Padahal para peneliti hukum telah menolak kaitan adanya hukuman mati dan tingkat kejahatan keji. Berbagai studi dilakukan dan korelasinya tidak ada. Kejahatan keji merupakan perwujudan kondisi sosial yang sakit. Hukuman mati jelas bukan obat. Tapi, dalam, lynching mode, siapa yg peduli.

Apakah mereka benar ingin negara menentukan harga nyawa orang? Lebih baik dibunuh saja daripada membuang uang untuk memenjarakan mereka? Reallly?

Argumen yang jujur adalah darah harus dibalas dengan darah. Akui saja nafsu purba itu masih mengalir di darah kita. Yang ini saya tidak bisa argue. Tapi sedih juga kalau ada penguasa yang senang memperturutkan hal itu.

Saya hanya ingin mengingatkan, ini bukan soal HAM nya si penjahat keji. Buat saya HAM mereka sudah hilang saat mereka melakukan kejahatan kejinya. Ini bukan lagi hak. Ini kasih. Ini adalah keyakinan bahwa negara tidak boleh mengambil nyawa. Ini adalah keyakinan kita bukanlah Tuhan. Yang bisa menentukan siapa yang harus mati dan siapa yang boleh hidup.

Lebih dari itu, ini soal finality dari hukuman mati. Ngga bisa lagi dibetulkan jika salah. Nyawa yang hilang tidak terganti. Dengan segala cacat dalam sistem hukum kita, kesalahan vonis itu terjadi. Dari rekayasa polisi sampai kebutuhan hakim untuk populer. Jangan diabaikan.

Namun, penguasa mana yang lebih mendengarkan nurani dari keinginan rakyat banyak akan darah? Jelas bukan Jokowi.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s