Menilai Ahok: Setelah pengkhianatan itu. 

Akhirnya Ahok memutuskan untuk mencalonkan diri dari partai politik. Menjilat semua ludah yang telah dia keluarkan. Tentang bobroknya partai politik. Tentang partai politik yang tidak mungkin lepas dari politik uang. Tentang kerelaan tidak jadi gubernur kalau harus meninggalkan Teman Ahok. Semua. Karena pada akhirnya dia tidak bisa mengingkari syahwatnya untuk jadi Gubernur.
Apa yang harus kita cermati dari kejadian ini? Banyak.

Utamanya, ini adalah penegasan terhadap karakternya. Sejak awal saya selalu mengingatkan bahwa Ahok adalah seorang megalomania. Sehingga Ahok pasti di-drive oleh kemauannya untuk mendapatkan kemuliaan berupa kekuasaan. Dengan segala cara.

Saya kira track-recordnya jelas untuk segala bentuk pragmatisme yang dia lakukan. Dari menjadi kutu loncat dari partai ke partai. Sampai, ini yang agak mencemaskan, melakukan akrobat kekuasaan pada soal reklamasi. Sebentar lagi akan terlihat di pengadilan kalau perjanjian premannya dengan pengembang itu tidak punya dasar hukum. Suram.

Karakter, untuk orang seusia Ahok tidak akan berubah banyak. Ekspresi megalomania ini akan selalu anda temui pada saat dia menyalahkan orang lain pada setiap kesalahan. Omong besar di mana-mana. Dan yang menyulitkan dalam demokrasi, ketidakmauan mendengar orang lain. Tapi kalian semua sudah tahu itu.

Pendukung Ahok, akan mencoba untuk melakukan down play pada peristiwa ini. Yang penting Ahok tetap bisa jadi gubernur. Ahok tidak akan tersandera oleh partai politik. Ahok masih sosok yang kita butuhkan. Yang ribut adalah orang yang memang tidak akan pilih Ahok. Baiklah.

Saya iba. Saya tahu kita semua punya kebutuhan untuk menjustifikasi pilihan yang telah kita buat. Kita benci untuk diingatkan bahwa kita telah membuat pilihan yang salah. Dalam banyak kasus, kita lebih senang untuk tidak mendengarkan informasi-informasi baru. Jika itu mengingatkan pada kesalahan dalam membuat pilihan. Tagar #TetapAhok adalah perwujudan dari semua itu.

Harusnya peristiwa ini bisa jadi alat refleksi. Menanyakan lagi tentang pilihan itu. Toh belum terlambat. Pilkadanya masih tahun 2017.

Sudah begitu lamanya kita dicuci otak dengan pencitraan dan narasi.  Ahok bersih dan bekerja untuk warga. Bukankah ini waktunya untuk berfikir ulang? Amati lagi Ahok dengan kritis. Dengan keraguan.

Coba lagi mencermati apa itu sebenarnya Teman Ahok. Tidakkah itu hanya mesin politik yang dirancang oleh konsultan politik yang jenius? Tidakkah itu alat yang murah untuk mencuri start kampanye? Saya katakan ini tanpa mengurangi hormat saya pada mereka yang telah bekerja bersama Teman Ahok. Karena mereka mungkin tidak sadar dijadikan alat.  Seperti Goebbels, propagandist Hitler, pernah mengatakan:

“Propaganda works best when those who are being manipulated
are confident they are acting on their own free will”.

Dalam keterbukaan pikiran, anda mungkin bersedia untuk melihat Ahok pada face value:

Bahwa dia bukan pengelola keuangan pemerintah yang baik. Lihat saja laporan APBD yang tidak pernah memenuhi target anggaran.

Bahwa dia bukan pemimpin organisasi yang baik. Anda bisa baca begitu reaktifnya dia dalam mengonta-ganti pejabat. Bahkan ada yang sampai 2-3 jabatan dalam kurun 2 tahun. Dia jelas bukan perencana yang baik dan tidak memiliki cukup kepemimpinan.

Bahwa dia tidak cukup cerdas untuk memahami dan mencari solusi untuk masalah Jakarta. Kebijakan ganjil-genap adalah bentuk yang paling kasar yang dia lakukan untuk mengatasi masalah macet di Jakarta. Kalau mau main seperti itu, lakukan saja itu di seluruh Jakarta.  Ya ngga akan ada macet karena setengah kendaraan di Jakarta dilarang ada di jalan. Dampaknya pada perekonomian? Emang dipikirin?

Anda bisa berbeda pendapat. Tapi faktanya jelas. Ngga perlu pejah gesang nderek gusti Ahok. Think.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

16 Responses to Menilai Ahok: Setelah pengkhianatan itu. 

  1. Polan says:

    Bakal ada blogwar nga neh?

  2. daydreamer says:

    kalo pengkhianatan, apakah ada pihak yg merasa dikhianati? Ahok tidak seburuk atau sebagus yg dicitrakan, sedang-sedang saja. Namun gebrakannya untuk pembangunan yg kasat mata cukup bagus. Sungai bersih, rawa-rawa jadi taman bermain, dsb. Yg disesalkan adalah para pendukung Ahok yg gelap mata mendukung jagoannya sampai menghina-hina pihak yg berbeda, lawan politik, dan terakhir partai politik. Sungguh menggelikan mereka yang berapology dengan jungkir balik bahwa pengumpulan KTP adalah sebagai bagian dari strategi untuk menaikkan bargaining position terhadap parpol. Jika di awal mereka yakin bahwa Ahok akan menggunakan kendaraan parpol kenapa mereka mencaci-maki parpol?
    Jika tahu bahwa kita akan naik kereta untuk mencapai tujuan, kenapa harus meludahi keretanya?
    Opportunis atau euforia atau apa?

  3. A politician divides mankind into two classes: tools and enemies, Friedrich Nietzsche said 🙂

  4. thebimo says:

    Well.. namanya juga politisi

  5. zainurihanif says:

    analisa yang menarik.

  6. jakartabaru says:

    dari awal statement anda mengatakan “haus kekuasaan dengan SEGALA CARA” sudah salah besar, dan tidak masuk akal sama sekali. bila kekuasaan adalah segalanya baginya:

    – ngapain pede sebagai minoritas, mualaf aja, siapa lg mau ribut2 soal agama, bukankah dia sudah di cap musuh Islam??? kekuasaan adalah segalanya toh? jadi apalah arti agama buat orang megalomania? Logis?

    – ngapain ribut dan keluar dari gerindra ketika gerindra dan KMP ngotot memperjuangkan kepala daerah dipilih dari DPRD saja? jauh lebih mudah bagi2 duit buat dprd (cuma 96 kursi!) dari pada bagi2 duit buat suap jt-an orang dki dan bayar media2 televisi dan cetak? butuh brp trilyun duit? brp juta orang akan terlibat dan kamin tutup mulut? Logis?

    – ngapain ribut2 sama dprd soal anggaran, bagus happy2, bagi2 kekuasaan saja mulus sampe 2 periode. logis?

    – kalau kekuasaan untuk uang, ngapain ribut sama pengusaha2 besar di jkt? ngapain sanusi, ariesman, aguan mesti masuk penjara? logis?

    – ngapain jadi orang tanpa partai, bagus masuk partai yg berkuasa, siapa yg gak mau terima? Logis?

    – kalau uang banyak dan tidak habis2, silahkan hitung sendiri brp yang sudah dia hamburkan untuk suap sana sini sejak jadi anggota dprd tk II di kampungnya sampai sekarang? habis berapa T? Logis?

    – ngapain ribut2 mau cari tiket calon gubernur? bagus minta jokowi aturkan saja semua atau jadikan dia mentri, tinggal atur carikan calon gubernur yg bisa di setir, gampang toh? Logis?

    – masih byk lagi lah…

    Bila kekuasaan adalah segalanya, coba anda cari tau kebelakang, knp dulu bisa jadi bupati ditengah masyarakat 93% muslim. knp keluarganya dikampung sangat dihargai masyarakat sana? Bila hanya rekayasa, apa iya tidak bisa paparkan bukti2 kasus kecurangannya disini? apa 93% itu sudah buta dan tuli semua?? Logis???

    tertawa saya…

    • awemany says:

      Terima kasih tanggapannya. Tentu saja anda berhak untuk punya pendapat berbeda. Namun ada beberapa kesalahan berpikir yang bisa saya luruskan. Kalau punya pikiran terbuka.

      Anda terlalu menggaris bawahi kata SEGALA CARA. Tapi lupa kalau poin besarnya adalah SEGALA CARA UNTUK MEMPEROLEH KEKUASAAN. Ngerti bedanya?

      Jadi mualaf, kalau dilakukan sekarang, cuma bikin dia bahan ketawaan. Memperjelas syahwatnya. Ngga akan bikin orang simpati. Ahok tahu itu. Jadi buat apa?

      Ribut dengan Gerindra. Ribut dengan siapa saja adalah bagian dari narasi yang dia bangun. Narasi yang dia percaya lebih mendekatkan pada kekuasaan. Kalau diatur oleh Gerindra, belum tentu dia bisa jadi calon Gubernur. Dengan mengkampanyekan diri sebagai bersih, dia lebih bisa beroleh kekuasaan. Tadinya dia pikir lewat jalur independen.

      Perlu diperjelas, megalomania tidak selalu terkait dengan kerakusan terhadap uang. Pada akhirnya mereka ingin namanya tercetak dalam sejarah. Saya kira, ini motivasi utama Ahok.

      “Bila kekuasaan adalah segalanya, coba anda cari tau kebelakang, knp dulu bisa jadi bupati ditengah masyarakat 93% muslim. knp keluarganya dikampung sangat dihargai masyarakat sana?”

      Pertanyaan ini jelas tidak relevan dengan karakter megalomanianya. Pertanyaan yang lebih tepat adalah kenapa dia tidak terus bekerja dan memenuhi janji kampanyenya? Kenapa harus memncalonkan diri jadi gubernur Babel? Kenapa saat kalah, kasak-kusuk mau jadi Gubernur Sumut? Syahwat pada kekuasaan yg lebih besar.

      “Bila hanya rekayasa, apa iya tidak bisa paparkan bukti2 kasus kecurangannya disini? apa 93% itu sudah buta dan tuli semua?? Logis???”

      Sekali lagi, tidak ada kata dalam megalomania yang membuat saya menuduhnya sebagai pelaku kecurangan. Yang saya tuduhkan adalah kecenderungannya untuk nabrak” aturan. Ngerti beda nya?

  7. yustianus says:

    Saya mau komen ttg ganjil genap. Mungkin krn analisanya terlalu tajam jadi lupa kalo peraturan ganjil genap hanya diberlakukan di bekas kawasan 3 in 1 jadi tetap boleh jalan di jakarta hanya pada jam2 tertentu saja tidk boleh lewat kawasan itu.

    • awemany says:

      Saya ngga lupa kok mas. Saya berikan kata “kalau mau main seperti itu”. Ada kata kalau. Kenapa saya katakan seperti itu? Karena kebijakan ganjil genapnya ini bukan cuma daerah 3 in 1 lama lho. Sekarang kuningan masuk.

  8. Maya says:

    Tulisan yg bagus mas…patut gw pikirkan sebagai salah satu teman ahok. Tapi btw menurut mas awemany, siapa kira2 yg cocok jadi DKI 1 selain ahok? Terus terang, sejak ahok berkuasa, anak saya bebas spp di sklh negeri favorit. Di kantor kelurahan ngga ada lagi pungli, bahkan petugas yg biasa nembak ktp dan KK akhirnya mengundurkan diri. Ibu RT seperti saya, tidak mau repot berpikir ahok maju independen atau lewat parpol, atau berapa kali sebulan ahok mengganti bawahannya. Selama apa yg saya harapkan dari seorang gubernur sudah dia lakukan .

  9. Dosti says:

    Ahok sepertinya paham betul kerja suatu Public Relations. Utamanya dari publisitas dia vs PNS. Semua orang tahu kalau semua orang benci sama jenis pekerja ini. Finally, dia dapat suara masyarakat.

  10. Youknowwho says:

    Harus adil juga om menilai.
    Ga selamanya Ahok salah,dan sebaliknya.
    Kalo saya sih murni ga suka ama bigot-bigotnya yg dicuci otak demi tujuan seorang konsultan politik. Banyak kepentingan masing2 pihak di balik Ahok.

  11. pandenanda says:

    saya rasa anda terlalu berlebihan memberikan pernyataan yang bisa dibilang tidak sesuai dengan apa yang ada dilapangan,tidak ada salahnya ada mengkritik seorang pejabat namun apakah anda sendiri memiliki nilai yang bisa lebih dari seorang ahok?untuk menjadi seorang gubernur di jakarta susah boss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s