Settle For the Love We Deserve: A Self Esteem Problem. 

Ada sepotong quote dalam film  The Perk of Being Wallflower yang tetiba saja terakses dalam memori. Konteksnya saat ada yang berkesah kenapa dia selalu berakhir pada kekasih yang menganggapnya sampah. You settle for the love you think you deserve. 

Brilliant acting dari Emma Watson dan Ezra Miller, by the way, tapi itu bukan topik artikel ini. Move.

Mari saya ulang lagi kata-kata tadi untuk efek dramatik. Settle for the love you think you deserve. Ini bisa berarti settle for loser. Settle for abuser. Settle for cheater. Atau singkatnya settle dengan orang yang hanya akan membuat hidup merana. Why?

Mari saya sebutkan akarnya. Pilihan yang kita bangkitkan untuk berkekasih terkait erat dengan bagaimana kita memandang diri kita. Self esteem. Anda familiar dengan frase “She is out of my league”? That’s it.

Sebagai konsep, self esteem adalah ukuran seberapa kita menganggap diri kita berharga di lingkungan sosial kita. Tentu saja penekanannya pada inward looking atau self assessment. Tidak ada yang obyektif di sini.

Jadi ngga usah heran lihat orang yg berpendidikan tinggi, kaya dan ganteng, tapi memiliki self esteem yg rendah. Kebalikannya, ada orang yg kita tahu ngga punya apa-apa, termasuk tampang, tapi pe-denya luar biasa. Bisa.

Tanpa harus menjadi halu, ya saya suka pakai kata slang supaya dianggap kekinian, self esteem adalah kunci dari banyak hal dalam hidup kita. Termasuk percintaan. Atau justru, utamanya hubungan cinta.

Self esteem ini secara umum dibentuk dari pendidikan keluarga dan lingkungan selama kita tumbuh dewasa. Aspek yang terlibat adalah pembentukan persepsi diri atas kecerdasan, kemampuan, kemenarikan fisik dan posisi relatif sosial di lingkungan. Pembanding utama dalam pembentukan persepsi ini adalah orang tua, saudara kandung dan teman-teman dekat.

Memiliki orangtua yang sukses dan terkenal adalah beban besar bagi anak. Jika tidak memiliki parenting strategy yang baik, sering kali anak tumbuh salah arah. Frustrasi dengan hidupnya dan tergelincir pada hal-hal yang menghancurkan hidup. Sering terjadi.

Demikian halnya dengan memiliki saudara kandung yang lebih segalanya. Di sini, peran orangtua menjadi jauh lebih penting. Tanpa usaha untuk membesarkan hati anak, bisa jadi si anak akan tumbuh dengan self esteem yang rendah. Sad.

Lingkungan pergaulan matter. Kalau ingin anak tumbuh dengan self esteem yang baik, encourage mereka untuk memiliki teman dekat dari dua arah posisi sosial. Dari yang lebih tinggi dan rendah. Salah besar kalau anak, anda dorong untuk berteman dengan anak orang yg lebih kaya saja. Bisa berpengaruh pada self esteemnya.

Okay, kembali ke masalah awal. Kenapa low self self esteem bisa menjadi masalah besar dalam hidup. Ini terkait dengan kebutuhan manusia untuk merasa benar. Atau dibenarkan.

Saat orang merasa dirinya tidak cantik atau ganteng, justru dia cenderung untuk mencari pembenaran terhadap perasaannya ini. Dia akan mudah percaya terhadap orang-orang yang mengatakannya tidak cantik/ganteng. Dia merasa terhubungkan perasaannya. Bahaya.

Ada dua mekanisme yang digunakan oleh orang-orang dengan low self self esteem. Over compensating atau self validating. Dua-duanya sih merusak.

Mereka yang over compensating cenderung berperilaku aggresive. Jika saya rendah maka orang-orang di sekitar saya juga harus rendah. Bullying in a way adalah wujud dari over compensation ini. Tapi bukan ini yang kita bicarakan.

Settle for the love we deserve adalah ekspresi dari self validatingnya orang yang punya low self esteem. Cara pandangnya, saya buruk, saya tidak memiliki hak untuk memperoleh yang baik. Mereka merasa pantas untuk mengalami hal yang buruk. Ini yang menyedihkan kita.

Bagaimana mengeluarkan diri atau orang dari lingkaran ini? Ngga ada jalan yang mudah. Perjalanan pembentukan esteem yang telah terjadi belasan atau beberapa puluh tahun, tidak mudah dihapuskan. Atau dibalikkan arahnya.

Tindakan pertama tentu saja kesadaran untuk mengakui. Ini sih resep generik untuk keluar dari semua bentuk tindakan merusak diri.

Mengakui kita punya masalah.Bercermin dengan baik. Meletakkan diri kita dengan jujur dan adil adalah langkah kedua. Orang-orang dengan low self esteem sering tidak jujur dan adil pada dirinya. Cerminnya banyak berisi bayang negatif terhadap diri.

Langkah ketiga adalah membersihkan racun di sekitar kita. Secara natural, orang-orang dengan low self esteem memenuhi hidupnya dengan kawan beracun. Mengubah lingkungan.

Langkah keempat menemukan manfaat diri kita bagi orang lain. Kita mungkin tidak sepintar, secantik atau sekaya yang kita inginkan. Namun, saat kita menemukan manfaat diri kita bagi orang lain, kita menemukan kekuatan pada diri.

Langkah kelima, follow blog ini. Banyak hal baik yang bisa anda temui. 🙂 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Settle For the Love We Deserve: A Self Esteem Problem. 

  1. Ham ham says:

    Pas ini oum buat ane nih jd tertampol wakakaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s