Masa remaja. Saya mungkin telah jauh meninggalkan masa itu. Mengingatnya dengan samar. Namun beberapa hal tidak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan. Beberapa hal yang mendefinisikan diri saya di kehidupan selanjutnya. I wished I knew better.

Saat ini, dengan dua anak yang memasuki gerbang remaja, saya diingatkan lagi betapa rapuhnya kita di periode itu. Begitu inginnya kita dianggap dewasa. Menjelajahi dunia yang berbeda. Sementara itu ketakutan dan gamang tidak berhenti untuk menyelinap di sana sini.

Karin, in a way, adalah patron bagi banyak remaja. Jumlah subscriber dan views dari VLOGnya memperlihatkan hal itu. Tanpa pretensi, dia menegaskan keinginannya untuk ada di dunia orang dewasa. Toh, tidak menghilangkan bayang kerapuhannya.

Kita, orangtua, sibuk untuk menghujat perilakunya yg kebarat-baratan, kosa kata yang terdengar kasar. Tapi benarkah kita siap untuk memahami dan memberi kekuatan pada remaja seperti Karin?

Saya menonton beberapa vlog-nya. Expressive, spontan dan drama. Dengan beberapa kekonyolan yang khas remaja. Ada yang menarik bagi saya tapi banyak yang tidak. Tentu saja, karena saya toh memang bukan target market dari vlog-nya.

Ya. Beberapa adegan dan ceritanya mungkin belum cukup bagi umurnya, namun itulah dunia remaja. Dunia yang, sebagai orang tua, harus dipahami dengan baik. Menyiapkan mereka untuk benar-benar dewasa.

Banyak analisa orang dewasa yang mengatakan Karin adalah remaja yang haus perhatian. Ask.fm, instagram dan kemudian vlog adalah manifestasi dari kebutuhannya untuk jadi perhatian. Pertanyaannya, remaja mana yang tidak?  Yang lebih penting lagi bagi orangtua, ada apa di balik kebutuhan perhatian itu?

Berbeda dengan masa kanak-kanak, remaja merasakan ada sesuatu yang berubah pada dirinya dan teman-temannya. Dari mulai rambut tumbuh di mana-mana, jerawat, dan pastinya tinggi badan. Yang paling bikin cemas adalah pertumbuhan bagian-bagian yang mencerminkan seksualitas. Butuh assurance.

Setiap remaja butuh untuk diyakinkan bahwa segala perubahan ini wajar.  Alat-alat reproduksi mereka sedang berkembang dengan baik. Karena orangtua harus sadar, ini adalah periode yang rentan dalam pengembangan konsep masculine dan feminine pada remaja.

Dalam rangkaian vlog Karin, mudah dilihat penonjolan seksualitas dan ke-feminine-an adalah salah satu isu sentral dari dunianya. Pilihan baju dan perniknya ataupun aktivitas ke salon baik untuk kuku atau rambut. Terlalu dini untuk usianya? Jaman memang sedang berubah.

Saat orangtua tidak hadir di sini, remaja akan mencarinya di tempat lain. Mereka mencari pengakuan seksualitas mereka pada tempat yang kita tidak inginkan. Insecurity pada seksualitas adalah salah satu pendorong utama untuk under-age sex.  Be careful.

Menjadi remaja tidak mudah. Mencari kompromi antara ketaatan pada norma sembari mempertanyakannya. Melihat kemunafikan orang dewasa namun tidak paham juga akarnya. Dunia yang tidak pernah adil bagi mereka.

Rebel dalam berbagai bentuk adalah reaksi terhadap ketidakadilan ini. Melakukan hal-hal yang dilarang tidak lebih dari sikap passive-aggresive yang dimiliki remaja. Dalam kasus Karin terlihat pada bagian merokok, tatto atau minum alkohol. Klise.

Kalau kita berfikir rebel hanyalah stage dan membiarkannya, kita keliru. Tingkat rebel berbanding lurus dengan tingkat ketidakadilan dalam hidup yang mereka persepsikan. Mulai dari mempertanyakan diri. Kenapa saya tidak cantik/ganteng? Atau kenapa saya tidak pinter atau tidak kaya atau tidak disayang orang tua. Orangtua perlu tahu akarnya.

Menjelaskan dengan baik bahwa dunia ini memang tidak dijanjikan adil. Kita tidak perlu marah karenanya. Bersedih hati boleh. Jangan marah. Focus on strength, not weakness. Kira-kira begitulah.

Dalam vlog Karin, satu theme yang menonjol dan khas remaja adalah carelessness. Ngga terlalu mikir panjang. Cenderung irresponsible. Adegan-adegan di mobil, utamanya saat Karin dan Gaga bermesraan sembari nyetir, boleh dibilang contoh dari carelessness ini. Tapi itulah remaja. Ingat beberapa tahun yang lalu mereka masih anak-anak. 
Apakah remaja ngga bisa responsible? Bisa. Tapi kita tidak bisa berharap kalau itu muncul secara natural. Butuh proses. Kita lihat nanti pada saat dia telah dewasa. Jadi, terlalu dini bagi kita menghakimi perilaku carelessness Karin. Atau juga remaja yang lain.

Theme terakhir yang tidak kalah kuatnya adalah drama. Vlognya terbaru dan paling banyak view-nya adalah kisah putus dengan pacarnya. Berlinangan air mata. Remaja suka drama? Ya dan tidak.

Seperti pada saat anak-anak, remaja juga suka melakukan role play. Pada saat anak-anak, eksplorasi role play berfokus pada perilaku. Mereka melakukan peniruan terhadap perilaku-perilaku orang dewasa. Sebagai ibu, dokter, polisi dan sebagainya.

Remaja tentu saja berbeda. Masih role play, tapi dengan fokus yang berbeda. Mereka membayangkan dewasa secara emotional ataupun critical thinking. Di sini terjadi pemisahan. Bagi mereka yang suka melakukan role play dari sisi emotional, kalau keterusan jatuhnya bisa jadi drama queen. Bagi yang critical thinking jadi sok tahu. 🙂

Ingin kelihatan dewasa secara emosional kok nangis-nangis seperti anak kecil? Jangan begitu cara melihatnya.

Menjadi dewasa itu belajar berempati terhadap penderitaan orang lain. Empati ini pada dasarnya turut merasa menderita. Menangis atau menitikkan air mata itu perpanjangan empati.

Remaja yang suka nangis itu bagus. Kalau dia ngga bisa menangis untuk dirinya, bagaimana dia bisa menangis untuk orang lain? Orangtua sering melihat menangis sebagai tanda kekanakan. Hati-hati.

Kalau anda lihat vlognya Karin pada saat putus itu, terlihat sekali usahanya untuk menjadi dewasa. Sumbernya bisa jadi berbagai reality show, namun pahami itu sebagai upaya remaja untuk jadi dewasa.

Poin utama tulisan ini ; menjadi remaja itu berat. Akan lebih berat lagi jika dihakimi dan bukannya ditemani orangtua. Tabik.

Advertisements
Link | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Memahami Karin. Memahami Remaja.

  1. Venistine says:

    Reblogged this on Venistine Blog and commented:
    Bagaimana kita (selaku orangtua) melihat & memahami dunia remaja generasi milenial, melalui sosok Karin yang fenomenal saat ini.

    Sebuah sudut pandang dari Ardi (@awemany) yang patut dan layak dibaca..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s