Menggunakan Kübler – Ross Model dalam Memahami Dinamika Hubungan

Kemarin, di TL saya main main dengan konsep 5 stages of griefs dari Kübler-Ross. Pada dasarnya teori ini memaparkan ada 5 tahapan yang dilalui oleh mereka yang berada dalam kepedihan akibat kehilangan sesuatu yang dicintai. Kelima tahapan ini adalah : Denial, Anger, Bargaining, Depression dan Acceptance.

Berikut ini adalah rangkaian twitnya:

  • Another saturday night with no prospect of date. I guess I have to warn you guys; here comes the galauer to your TL. Mute.
  • My friend told me one time this is a game of numbers. You need to open new circles and never be shy. Wait. Was he talking about MLM?
  • It is not that I am not trying to meet new people for not once I stop myself doing it. *too many not. I know I am in denial.
  • Truth is, I am not going to get any younger and this célibataire thing is killing me. *yes, I french-ed it up to appear cooler. Bites me.
  • And I don’t buy single and happy stuffs. That’s just BS. *now I am rage. Is it rage comes after denial or vice versa. I am confused.
  • What if, in fact I am not ready to settle? That I sabotaged all my relationship due to certain fear. Woman can be very scarry, right?
  • In that sense, maybe I actually need this loneliness. Maybe this is what it takes to get better in the future. Hey! Am I bargaining here?
  • Whoa from denial into bargaining in less than 30 minutes. There must be something wrong with me. I could see my future. I am so depressed
  • <~ lagi stuck in the depression stage. Tunggu sebentar ya. Paling 15 menit lagi

Sesuatu ya? 😀

Namun dalam konteks yang lebih serius, saya melihat bahwa Kübler-Ross model ini juga relevan bagi kita untuk memahami apa apa yang terjadi dalam suatu hubungan berkekasih.

*Jangan liat bio twitter saya. Itu adalah kondisi hari ini. Sesungguhnya saya memiliki cukup banyak pengalaman untuk bicara tentang topik ini. Percayalah!

Coba anda ingat situasi terakhir saat anda merasa terganggu dengan perilaku kekasih anda.  Apa yang paling sering anda lakukan? Misalkan saja saat dia melirik perempuan lain padahal anda tepat di depannya.

Apakah anda akan diam dan berkata pada diri anda sendiri: “Ah, engga kok, akunya aja yang berlebihan. Dia ngga akan macem-macem”.

Apakah anda akan langsung bilang pada pacar anda “Heh, matanya dijaga ya!”

Apakah anda akan masuk kedalam pertentangan batin antara mau marah atau tidak. “Ini masalah kecil tapi kok menyangkut harga diri.”

Apakah anda kemudian merasa sedih. Merasa semua yang anda telah bangun bersamanya menjadi sia sia.

Apakah anda akan melihat peristiwa itu sebagai hal yang biasa biasa saja. Terganggu. Tapi tidak ada yang harus dan bisa dilakukan.

Kelima jenis reaksi ini merupakan manifestasi dari tahap tahap yang didiskusikan oleh Kübler Ross. Saya berhipotesis bahwa tahapan tahapan ini merupakan indikasi dari dinamika hubungan anda.

Millar and Rogers (2006) menyatakan bahwa dinamika hubungan dipengaruhi oleh 3 aspek utama yakni power, affect dan respect. Segera bisa dilihat bahwa griefs berasal dari pertentangan antara power dan affect. Kita hanya akan merasa kehilangan sesuatu jika kita memiliki afeksi terhadap hal tersebut. Lebih jauh, kehilangan merupakan manifestasi dari lost of control (power).

Pada saat reaksi yang paling sering adalah denial atau anger maka kita harus sadar bahwa dinamika hubungan kita didominasi oleh power. Bedanya, pada reaksi denial kita merasa bahwa kita memiliki power yang lebih rendah. Sedangkan pada saat marah kita merasa memiliki power yang lebih tinggi dari pasangan kita.

Dilain segi, pada saat reaksi tersering adalah depression atau acceptance, dinamika hubungan kita didominasi oleh afeksi. Pada moda depressi, anda tahu bahwa anda memiliki afeksi yang lebih tinggi dibandingkan kalau anda menerima begitu saja.

Tentu saja dibandingkan reaksi yang lain, reaksi bargaining merupakan reaksi yang lebih sehat. Pada moda ini anda secara rasional melihat cost dan benefit dari tindakan yang akan dilakukan. Is it worth it? Perimbangan antara dominasi power dan affection memungkinkan anda secara rasional bereaksi secara matang. Tergantung dari problemnya, dari titik ini anda akan berayun ke arah anger/denial ataupun depression/acceptance.

Poin besar dari tulisan ini adalah ketika anda menginginkan hubungan berkekasih yang sehat, anda perlu untuk menyeimbangkan 3 faktor penting yakni power, affect dan respect. Masalahnya terletak pada bagaimana kita mengidentifikasi keberadaan faktor tersebut dalam hubungan kita. Adaptasi grief stages dari Kubler-Ross ternyata bisa membantu kita. Itu saja.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Menggunakan Kübler – Ross Model dalam Memahami Dinamika Hubungan

  1. Virina says:

    An inspiring thought

  2. widy says:

    Owh gitu yaa…*angguk-angguk* ….makasiih ….*dapet ilmu terus bengong* 😀 …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s