Pasca Gagalnya Teman Ahok: Memperbaharui Sikap Kita Pada Partai Politik

Para pendukung Ahok pada akhirnya harus merelakan junjungannya diusung oleh Partai Politik. Pragmatisme yang memang sangat rasional. Namun sayang jika ini tidak memberi pelajaran apa-apa pada kita. Perubahan negara ini hanya akan terjadi dengan perubahan cara pandang kita terhadap partai politik.

Jaman orde baru, orang-orang baik enggan masuk ke dalam sistem politik. Jika mereka ingin memperjuangkan kepentingan publik, mereka masuk ke dalam LSM. Ini bisa difahami karena pada akhirnya sistem politik hanya digunakan untuk melegitimasi kekuasaan Soeharto.

Namun, lebih dari 18 tahun sejak kejatuhan Soeharto, kita tidak melihat perubahan yang kita inginkan. Utamanya karena perilaku partai politik tidak lebih baik dari jaman orde baru. Bahkan mungkin memburuk.

Ada banyak faktor yang terlibat di sini. Namun kuncinya masih pada keengganan orang baik untuk masuk ke partai politik. Memang ada segelintir orang baik yang masih mencoba untuk berjuang dari dalam, tapi mereka belum berhasil. Kalah jumlah.

Akar keengganan untuk masuk ke dalam partai politik saya kira memang terkait dengan stigma yang diberikan oleh masyarakat terhadap politikus. Akhirnya kita berada dalam suatu lingkaran setan. Orang baik tidak mau masuk karena image yang buruk. Yang dominan kemudian adalah mereka yang mencari keuntungan pribadi. Image politikus menjadi semakin buruk. Dan siklus pun berputar.

Jika kita tidak ingin berhenti pada gerutu yang tak berujung, kita harus mendorong orang orang baik untuk segera masuk ke politik. Bukannya malah mencibir dan mempertanyakan integritas mereka. Kita perlu mereka ada di sana.

Saya ingin memberikan tekanan pada frasa “kita perlu” karena banyak diantara kita tidak menyadarinya. Mayoritas dari kita beranggapan politik hanyalah hiruk pikuk yang tidak terkait dengan hidup kita. Kita “rela”kan mereka makan uang negara. Anggap saja ongkos hidup di Indonesia. Life goes on. Tapi benarkah demikian?

Politik pada masa orde baru hanya pencarian akses kepada kekuasaan. Diterjemahkan dengan kasar, hanya perebutan kesempatan untuk korupsi dan kolusi. Kebijakan pembangunan tetap berada di tangan teknokrat dengan Bapenas dan menteri-menteri pilihan Soeharto. Dalam tiga dasawarsa pemerintahannya, harus kita akui mayoritas dari menteri-menteri tersebut memiliki kompetensi yang cukup untuk menjalankan perannya. Kecuali kabinet terakhir, yang kemudian turun dengan jatuhnya Soeharto, Korupsi dan kolusi memang akhirnya hanya menjadi ongkos.

Namun reformasi dan demokratisasi telah membawa peran yang lebih penting kepada para politikus ini. Dewan Perwakilan Rakyat bukan lagi merupakan stempel bagi kebijakan Soeharto, namun telah memiliki cukup kuasa untuk mementahkan program-program pemerintah (baca : Bapenas). Proses yang ideal sebenarnya jika saja orang-orang di DPR itu memang memiliki skill dan kapabilitas. Namun dengan keengganan orang baik dan pintar masuk ke sana, yang terjadi betul betul dagang sapi.

Menteri yang dipilih bukan karena penguasaan terhadap bidang yang dipimpinnya, jelas memberikan pengaruh buruk pada kita semua sebagai warga negara. Di tangan mereka tidak hanya terdapat kebijakan politik namun juga kebijakan managerial untuk memastikan pengawasan dan pemberian layanan kepada publik . Jika partai politik tidak memiliki sumberdaya manusia yang memadai, jangan hanya salahkan mereka.

Hari ini apa yang kita pertaruhkan lebih tinggi dari masa orde baru. Sudah waktunya kita memperbaharui sikap kita tehadap partai politik. Sudah saatnya partai politik kita isi dengan mereka yang memiliki latar belakang keahlian di segala bidang. Debat politik harusnya merupakan pencerahan kepada kita mengapa kita perlu kebijakan ini dan bukan yang itu. Ideologis.

Jika anda ingin Indonesia yang lebih baik, mulailah dengan masuk ke salah satu partai politik. 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s