Choices Who Define Who You Are : Ayam dan Telur Pada Konsep Diri dan Perilaku

Tadi malam @Newsplatter lagi ngebahas trend film Hollywood yang bertemakan “Choices who define who you are”. Sederhananya diri kita (seharusnya?) tidak didefinisikan dari keluarga, ras, uang atau pekerjaan kita namun dari pilihan pilihan yang kita buat sepanjang hidup kita. Topik yang sangat menggoda banyak pemikiran.

Agar pembahasan ini tidak melebar susi, mari kita anggap dulu bahwa pendefinisian diri seseorang itu setara dengan terminologi self concept atau konsep diri.

Pada dasarnya self concept (konsep diri) merupakan rangkuman dari hal hal yang dipercaya oleh seseorang tentang sifat-sifat atau kualitas yang dimiliki dirinya. Self concept ini terbagi atas private self dan public self. Yang pertama mengacu pada konsep diri yang dia tidak ingin perlihatkan pada kelompok sosialnya sementara yang terakhir adalah konsep diri yang ingin dia pertunjukkan.

Sebagai contoh seseorang mungkin saja sadar atau mengakui bahwa dia tidak pandai, namun dalam pergaulannya dia menggunakan banyak istilah rumit agar dipandang pandai. Dalam ilmu psikologi ketidak sejajaran antara private self dan public self ini terkadang menciptakan kegelisahan yang bisa berakhir pada gangguan jiwa. Mohon tidak disamakan dengan delusional karena itu adalah jenis penyakit jiwa yang lain 😀

Saya belajarnya bukan psikologi tapi perilaku konsumen. Fokus saya lebih kepada public self. Karena pada akhirnya yang bisa kita eksploitasi adalah public self ini.

Pertanyaan dasarnya: Apakah pilihan/ perilaku yang membentuk konsep diri atau konsep diri yang membentuk/mengarahkan perilaku kita?

Jawaban mudahnya pasti karena saling interaksi antar keduanya. Ini mungkin mirip dengan ayam dan telur.  Ayam berasal dari telur dan telur berasal dari ayam.

Ambil contoh orang yang memiliki konsep diri menarik. Dia akan memilih aktifitas dan produk yang akan menonjolkan kemenarikan yang dia miliki. Saya kira dia tidak akan pergi keperpustakaan melainkan ke mall. Dan dia kan menggunakan produk-produk yang terkait dengan penampilan. Artinya konsep diri memang membentuk pilihan.

Masalahnya adalah konsep diri ini bukan merupakan sesuatu yang statis. Pada saat muda mungkin dia ingin menonjolkan penampilan. Ketika dia beranjak dewasa dia ingin dilihat sebagai orang professional. Nanti ketika beranjak tua dia ingin dikenal sebagai bijaksana. People change.

Apa yang membuat orang berubah? Banyak teori. Namun yang selama ini mampu menjelaskan fenomena perubahan ini dengan baik adalah dinamika sosial. Manusia berubah karena lingkungan sosialnya berubah. Kita mungkin tinggal ditempat yang sama dengan orang orang yang telah kita kenal sedari kecil. Namun bukan berarti lingkungan sosial kita tidak berubah. Mengapa?

Karena masyarakat/ kelompok sosial kita itu memiliki harapan berbeda kepada kita ketika kita kecil, remaja , dewasa atau tua. Instinct survival kita akan membuat kita “tunduk” pada harapan itu. Kalau mereka yang tinggal di kampung yang sama saja berubah apa lagi mereka yang berpindah baik secara vertikal (ke strata sosial yg lebih tinggi) ataupun horizontal (ke daerah yang berbeda).

Dalam rangka perubahan ini kita dihadapkan pada pilihan pilihan. Saya sering berfikir, seandainya saya memutuskan untuk tidak menjadi asisten dosen waktu itu, mungkin hidup saya akan sama sekali berbeda. Jika saya tetap mengajar di IPB mungkin saya tidak memiliki pandangan seliberal sekarang. Mungkin.

Jadi pilihan-pilihan yg kita buat memang memberikan pengaruh pada konsep diri kita.

Thesis besar dari pembahasan @newsplatter adalah kita (seharusnya?) tidak mendefinisikan diri kita berdasarkan keluarga, ras, kekayaan ataupun pekerjaan. Saya sepakat.

Sayangnya masyarakat secara umum atau bersama tidak sepakat tentang ini. Saya bisa memahami. Masyarakat juga memerlukan survival. Peradaban manusia terbentuk atas kesadaran bahwa kesejahteraan hanya diperoleh melalui pengelolaan sumberdaya baik alam maupun manusia beserta distribusinya. Masyarakat memerlukan bentuk bentuk ideal yang mereka anggap mampu memaksimumkan pengelolaan itu. Ambil contoh pekerjaan, Masyarakat menghargai dokter lebih tinggi dari guru. Lihat saja pendapatannya. Dengan demikian, kita lebih ingin jadi dokter dari pada guru.

Pergeseran yang terjadi secara kontinu adalah berpindahnya bentuk bentuk ideal yang tadinya bertumpu pada ascribed status menuju achieved status. Yang pertama merujuk pada status sosial yang diperoleh secara keturunan. Yang terakhir adalah status sosial yang diperoleh melalui pencapaian. Gender, ras, garis keturunan merupakan ascribed status. Sementara pendidikan, pekerjaan, kekayaan, kontribusi sosial semuanya merupakan achieved status. “Beauty” mungkin berada diantara keduanya. Ada yang ibunya cantik dan ada yang dokter bedah plastiknya jago.

Masyarakat memerlukan agar anggotanya memiliki konsep diri yang didasarkan pada achieved status ini. Penonjolan karakter karakter kunci pada setiap achieved status ini akan membantu pengembangan peradaban. Kita memerlukan pengakuan masyarakat.  Pada akhirnya konsep diri kita akan lekat ke sana.

Terakhir kita bahas statement terakhir yakni “….melainkan pilihan pilihan yang kita buat”

Saya ingin meletakkan dikotomi pada pilihan pilihan itu. Sumbu yang saya gunakan adalah inward (kedalam) atau outward (keluar). Be outward. Pilihlah yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Siapa tahu saya adalah orang lain itu :D.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s