Kritik terhadap Karya Seni: Kepada Siapa dan Untuk Apa?

Tadi siang timeline kembali ramai memperdebatkan krtitik terhadap suatu karya seni. Saya kira pemicunya adalah postingan di http://www.jakartabeat.net tentang 5 buku yang tidak layak terbit di tahun di tahun 2012 oleh Arman Dhani.

Para pengarang yang terusik oleh tulisan itu bereaksi dan kehebohan dimulai. Perdebatan bergerak dari kredibilitas si penulis dalam menilai kelayakan suatu buku sampai pada makna suatu kritik bagi penciptaan karya seni. Terlihat juga isunya berkembang dari penulisan buku sampai pembuatan film. Tak kurang dari @deelesteri akun resmi dari Dewi Lestari pengarang buku Supernova merasa perlu untuk melakukan kultwit untuk memperjelas posisinya.

Ada poin besar dari kultwit @deelestari yang menurut saya mewakili pandangan para pencipta karya seni yaitu:
1. Kritik terhadap karya seni memiliki muatan serangan/ pujian secara personal. Dengan kata lain mereka menganggap kritikus sedang bicara kepada pencipta karya seni tersebut.
2. Kritik dilihat sebagai upaya kritikus untuk membuat karya selanjutnya menjadi lebih baik

Saya melihat pandangan ini keliru. Dan saya kira kekeliruan pandangan itu tidak lepas dari penggunaan kata kritik dan kritikus yang tidak tepat. Penggunaan kata ulasan/ resensi (review) sebagai pengganti kata kritik akan lebih menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Karya seni seperti kita tahu tidak dinilai secara benar salah melainkan bagus atau buruk. Masalahnya, bagus atau buruk merupakan sesuatu yang sangat relatif terhadap masing masing individual. Umumnya penilaian bagus atau tidak, terikat pada kultur dimana karya seni tersebut “dipasarkan”.

Untuk memahami manfaat dari ulasan suatu karya seni, kita bisa menggunakan The cultural production process framework yang disusun oleh Michael R. Solomon. Pada dasarmya Solomon melihat terdapat mediator antara culture production sub-system (sub-sistem penciptaan karya seni) dan konsumen (penikmat hasil seni). Mediator itu disebut sebagai cultural gatekeepers.

Secara traditional, cultural gatekeepers ini terkait dengan editor-editor pada media massa dan cultural specialist dalam beragam “industri” karya seni. Sebagai contoh untuk karya seni lukisan terdapat cultural specialist berupa kurator dan pemilik gallery yang memiliki otoritas untuk memajang lukisan yang mereka anggap bagus/ memiliki nilai seni. Hal yang sama juga terdapat pada industri musik atau film dalam bentuk radio program directors, DJ, film buyers dsb. Dengan berkembangnya internet maka media massa atau outlet karya seni kini bersaing dengan para blogger yang juga dianggap memiliki otoritas sebagai cultural gatekeeper.

Sebagai mediator, cultural gatekeepers memberikan signal terhadap kedua pihak baik kepada sub-sistem penciptaan karya seni dan konsumen. Terhadap sub-sistem penciptaan karya seni dia bertindak sebagai filter. Dia akan menyaring karya-karya seni yang layak dihadirkan kemasyarakat. Terhadap konsumen dia berlaku sebagai rujukan selera. Dua hal ini tentunya dilakukan oleh gatekeeper yang berbeda. Para pengulas karya seni sebenarnya masuk pada pemberi signal yang kedua yaitu kepada konsumen sebagai rujukan selera.

Dengan memahami ini jelas bahwa ulasan karya seni tidak ditujukan kepada pencipta karya seni melainkan kepada konsumen. Seperti konsumen produk pada umumnya, mereka terbagi dalam berbagai segmen dengan cultural gatekeepernya masing masing. Seorang anak remaja mungkin akan lebih mendengar apa yang disampaikan dimajalah Gadis dari pada Tempo.

@deelestari mengatakan bahwa karyanya memperoleh ulasan yang beragam dari yang buruk ke yang baik. Jika dia inigin belajar dari sini (saya ragu karena dia bilang dia ingin menulis buku yang ingin dia baca dan membuat lagu yang ingin dia dengar) maka dia perlu melihat pada lingkup mana dia mendapatkan penerimaan dan penolakan. Dan dia perlu mencocokan itu dengan kepada siapa dia memang ingin menumpahkan karya kreatifnya. Pertanyaannya: “Apakah dia diterima oleh gatekeeper di segmen itu?”.

Cultural gatekeeper pada akhirnya adalah rujukan selera kita. Apa boleh buat. Ada dua isu pokok tentang menyerahnya kita kepada mereka. Yang pertama dan utama adalah kebutuhan kita untuk culturally correct. Dalam diri kita terdapat kebutuhan untuk menyelaraskan konsep diri kita dengan suatu kelompok yang kita anggap aspirasional. Jika kelompok indie aspirasional bagi anda maka anda ingin untuk memiliki selera yang sama dengan mereka. Dari mana anda bisa tahu itu? Cultural gatekeeper bagi kelompok indie. Anda akan membaca majalah, musik dan film mereka yang pada dasarnya telah menjalani proses penyaringan oleh para gatekeeper.

Yang kedua tentu saja optimasi sumberdaya. Dengan waktu dan uang yang terbatas, kita tidak mungkin bisa menikmati semuanya. Ada proses seleksi yang sangat dimudahkan dengan adanya cultural gatekeeper ini. Bagi saya pribadi misalnya, kalau Leila S. Chudori bilang bagus, saya akan tonton filmnya, jika tidak, lupakan saja.

Demikianlah mudah mudahan kita bisa secara jernih melihat manfaat dari suatu ulasan karya seni.

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s