Pakai Logika Dalam Perdebatan Agama? Puh-leeze!

Berdebat tentang agama itu bodoh. Tapi lebih bodoh lagi jika anda berdebatnya dengan logika.

Timeline bisa jadi adalah tempat dimana banyak orang mempertengkarkan keyakinan agamanya. Kadang, pertengkaran itu menarik dan memberikan pemahaman atas perbedaan masing masing posisi. Selebihnya mungkin cuma saling caci maki atau adu sarkasme tanpa memberikan manfaat apa apa. Bebas.

Di sini kita bisa lihat betapa absurdnya perdebatan agama ini. Utamanya jika terjadi antara mereka yang memeluk agama berbeda. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendalilkan posisinya berdasarkan kitab yang tidak dipercayai oleh lawan debatnya?

Menilik absurdity ini, bisa difahami jika ada itikad untuk mencari suatu common ground pada saat berdebat. Mulailah pihak-pihak tersebut mendalilkan posisinya melalui logika. Asumsinya logika bisa membawa kita pada kebenaran dalam ketuhanan atau keagamaan. Apakah ini bisa? Mari kita lihat.

Logika seperti kita tahu adalah khas manusia. Alat yang kita gunakan untuk “make sense of our experience”. Unsur pertamanya adalah awareness yang merupakan sumber dari existence kita. Binatang mungkin aware tehadap lingkungannya, tapi apakah dia memiliki awareness terhadap siapa dirinya? Pasti tidak. Karena kalau benar punya, pasti mereka jalannya selalu nunduk. Malu atuh jadi binatang :D.

Awareness ini merupakan kunci dari pengendalian lingkungan. Karena awareness ini memberikan kita tujuan yang lebih tinggi dari sekedar memenuhi kebutuhan biologis. Dalam pengendalian lingkungan itulah muncul unsur yang kedua yakni kausalitas. Berdasarkan observasi terhadap lingkungannya manusia membangun pengetahuannya melalui kaidah jika p maka q.

Sepanjang observasi empiris terhadap kaidah jika p maka q terpenuhi, kaidah tersebut akan dipakai. Ketika gagal, akan muncul kaidah yang lebih baru yang lebih sesuai dengan bukti empiris. Demikianlah cara kita memahami dunia ini.

Masalahnya muncul ketika cara memahami dunia ini kita coba gunakan untuk memahami sesuatu yang bukan berada dalam domain dunia. Seperti Tuhan misalkan.

Kalau anda belajar matematika atau ilmu komputer dasar, anda akan di ajarkan bahwa pernyataan (jika p maka q) merupakan pernyataan yang setara dengan (-p atau q).  Kesetaraan itu diperlihatkan dengan memasukkan nilai kebenaran terhadap pernyataan p dan q, maka nilai kebenaran dari pernyataan jika p maka q selalu sama dengan nilai kebenaran pernyataan -p atau q.

Misal pernyataan p bernilai benar dan q bernilai salah.  Maka pernyataan jika p dan q juga bernilai salah.  Dilain sisi (-p atau q) juga bernilai salah.  Fakta itu berlaku untuk semua kombinasi nilai kebenaran dari p dan q.

Padahal, -p atau q dalam suatu sirkuit sederhana adalah pemasangan saklar lampu –p dan q secara paralel.  Anda akan memperoleh “fakta” jika p menyala maka q juga menyala. Apakah secara hakiki menyalanya lampu p akan membuat lampu q menyala? Jelas tidak. Tapi kita akan membayangkannya demikian karena logika dan pengalaman empiris kita.

Hal yang sama sebenarnya terjadi pada saat anda “belajar” jika dipukul maka sakit. Cara kita mengindera dunia membuat (negasi dipukul) dan sakit yang mungkin terpasang paralel menjadi seperti hubungan kausal.

Dalam kaitannya dengan dunia, kita memang tidak perlu tahu apakah kausalitas (yang hakiki) itu memang betul betul ada atau tidak. Kalau konsistensinya di dunia kita terjaga, upaya pengendalian lingkungan tetap bisa kita lakukan. Selama kita merasa dipukul itu selalu sakit, kita akan mencoba tidak dipukul. Habis perkara.

Apakah hal yang sama bisa kita terapkan dalam masalah kebenaran yang hakiki? Jelas tidak. Dalam kasus di atas, mereka yang tidak tahu (ada di dunia) akan berlogika jika lampu p menyala maka q menyala sedangkan hakikatnya itu hanya sirkuit paralel. Thus, Logika tidak akan mungkin bisa digunakan dalam ketuhanan.

Jadi, mau Tuhannya satu atau banyak, sama sama ngga ada logikanya. Bagaimana kita bisa memberikan numerical value untuk sesuatu entitas yang kita percaya tidak memiliki physical equivalence? Bagaimana kita bisa melarang Tuhan untuk mewujud sembari tetap menjaga existencenya sebagai Tuhan? Kita percaya Dia maha kuasa bukan?

Semuanya simply karena kita percaya bahwa Tuhan tidak tunduk pada kaidah jika maka yang merupakan basis logika manusia. Karena kalau anda menempatkan Tuhan sebagai sesuatu yang tunduk pada basis logika manusia, maka pengamatan empiris akan mengatakan tidak ada Tuhan. Selesai perkara.

Jadi, percayalah apa yang anda ingin percaya. Yakini saja.

Dengan kesadaran bahwa agama dan ketuhanan adalah masalah keyakinan maka dia harus ada di wilayah privat. Tempatnya memang hanya di situ. Dan keyakinan ini harus merupakan hak yang perlu dilindungi. Sermua keyakinan, tidak terkecuali.

Kesadaran bahwa agama adalah masalah keyakinan masing masing orang, membuat batas kuasa agama. Jangan masuk ke wilayah publik. Karena wilayah bersama ini memang harus diatur dengan alat bersama yakni logika.

Jadi, stop sajalah berdebat tentang agama. Jalankan saja bagi anda dan keluarga anda. Mungkin hasilnya lebih bagus.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pakai Logika Dalam Perdebatan Agama? Puh-leeze!

  1. arief kamili says:

    Setuja…usahanya hanya percaya dan yakin…jalanin utk diri sendiri dan keluarga bila masih memungkinkan…insya Allah hasilnya lebih bagus

  2. seperti biasa,..tulisannya para sekuler 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s