Pemikiran Liberal. Apa salahnya?

Sri Mulyani adalah pemimpin yang handal. Sayangnya dia adalah seorang liberal. Demikian seorang kawan berkomentar ketika kami berbincang tentang pemimpin Indonesia di masa datang. Saya tidak tahu apakah benar Sri Mulyani seorang liberal. Namun pernyataan tersebut sangat mengganggu saya. 

Arus besar pemikiran politik di Indonesia memang menempatkan pemikiran liberal sebagai sesuatu yang negatif. Penempatan yang lebih banyak dilandasi oleh prasangka dari pada pemahaman yang utuh terhadap pemikiran liberal ini. Prasangka yang telah dibangun utamanya sejak Bung Karno menyatakan Go to hell kepada Amerika. Untuk kemudian dilanjutkan oleh Soeharto yang menolak ideologi selain Pancasila.

Sedikitnya ada 4 stigma tentang pemikiran liberal. Pertama, pemikiran liberal merupakan pemikiran barat yang bertentangan dengan kebudayaan Indonesia. Kedua, pasar bebas yang dibawa oleh pemikiran liberal hanya menguntungkan pemilik modal. Ketiga, seorang liberal hanya mementingkan hak individunya saja tanpa menghiraukan kepentingan masyarakat. Keempat, pemikiran liberal tidak sejalan dengan ajaran agama.

Secara obyektif, stigma pertama jelas tidak memiliki argumen yang rasional. Suatu pandangan tidak boleh diliat dari asalnya. Kebudayaan Indonesia telah bersinggungan dengan berbagai kebudayaan besar seperti India, China, Arab dan juga Eropa. Dalam sejarahnya penduduk nusantara selalu berhasil mengasimilasi budaya asing ke dalam budaya lokal. Tidak ada yang istimewa dengan budaya barat sehingga tidak diperlukan benteng untuk menolak masuknya budaya barat. Kearifan lokal akan selalu berhasil mengasimilasi budaya barat ini termasuk pemikiran pemikirannya.

Pertanyaannya: Hal apa dari pemikiran liberal yang bertentangan dengan kebudayaan Indonesia? Pemikiran liberal membawa azas kesetaraan yang membebaskan orang dari penghisapan atas nama negara, agama atau bentuk bentuk patron yang lain.
Apakah kebudayaan Indonesia bertentangan dengan ini? Saya yakin tidak.

Para ekonom Indonesia tahu bahwa tujuan utama pasar bebas adalah memaksimumkan social surplus. Namun sayangnya banyak diantara mereka sengaja menyembunyikan hal tersebut di mata awam. Mereka memahami perbedaan penting antara pasar bebas dan kapitalisme. Namun perbedaan ini sengaja dikaburkan.
Pasar bebas percaya bahwa penggerak ekonomi adalah persaingan yang membawa pada inovasi. Kapitalisme percaya bahwa penggerak ekonomi adalah modal. Kapitalisme menginginkan market power untuk memperoleh pure profit. Sementara pasar bebas selalu berusaha untuk mengkoreksi market power agar tecipta pemerataan. Jadi kapitalisme sebenarnya adalah musuh kaum liberal.

Dalam lini lain pemikiran liberal dalam konteks ekonomi memang bertentangan dengan sosialisme yang memandang rakyat sebagai obyek belas kasihan. Kaum sosialis menginginkan peran negara yang besar dalam mendorong dan mendistribusikan kekuatan ekonomi. Tujuannya agar negara bisa menyantuni rakyatnya.  Kaum liberal tidak percaya bahwa negara mau melakukan hal tersebut. Sejarah telah membuktikan bahwa dominasi negara selalu berujung pada korupsi dan penghisapan. Dengan demikian peran negara sejogjanya dibatasi pada pengawasan dan penghukuman kapitalis, perlindungan kepentingan konsumen dan produsen, pengadaan barang barang publik dan menjaga agar pasar menyediakan informasi yang simetris.

Dalam banyak perdebatan, hak individu selalu dipertentangkan dengan kepentingan masyarakat. Padahal masyarakat merupakan kumpulan individu. Ketika hak hak semua individu dipenuhi maka kepentingan masyarakat pasti terpenuhi. Masalah sebenarnya terletak pada perbedaan kepentingan antar individu atau kelompok individu dalam masyarakat.

Kaum liberal sangat khawatir terhadap tirani mayoritas. Sekelompok individu dalam jumlah yang besar bisa mengancam kelangsungan hidup kelompok individu yang lain. Untuk itu kaum liberal meminta negara untuk memastikan bahwa semua individu dijamin hak hak dasarnya. Selain itu kaum liberal ingin memastikan bahwa kelompok individu tidak memasuki wilayah dimana mereka tidak memiliki konflik kepentingan. Dengan kata lain pembatasan yang tegas antara wilayah publik dan wilayah private. Negara tidak memiliki hak untuk memasuki wilayah privat. Hanya itu.

Berlainan dengan komunis yang nyata nyata beranggapan bahwa agama adalah candu, kaum liberal menjunjung tinggi keberadaan agama.   Salah satu hak dasar yang diminta jaminan dari negara adalah hak untuk beragama dan menjalankan ibadah. Dalam hal ini pemikiran liberal beranggapan bahwa agama merupakan wilayah privat. Anggapan yang sebenarnya diamini oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Bahkan para bapak bapak pendiri negarapun sepakat untuk mencoret kalimat kewajiban bagi muslimin untuk menjalankan syariah dalam perumusan dasar negara.

Jadi prasangka bahwa pemikiran liberal bertentangan dengan agama adalah prasangka yang keliru. Saya menyadari bahwa prasangka tersebut muncul dari penilaian moral terhadap budaya barat. Namun perlu disadari bahwa budaya barat tidak melulu berisikan liberal. Sedangkan tentang moral, apakah benar kita berhak untuk melakukan penghakiman?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 Responses to Pemikiran Liberal. Apa salahnya?

  1. kumbaya says:

    Pemikiran liberal bertentangan dg agama bukan prasangka, tapi fakta empiris di lapangan, Bung !

    • awemany says:

      Tinggal disebutkan fakta empiriknya. Bisa? Tapi sekali lagi, ada kemungkinan anda ngga mau faham apa itu liberal.

      • kumbaya says:

        Hello… apakah langit biru? Apakah matahari kuning? Fakta empirik gampang. Tapi sebelum menuduh orang lain tidak paham apa itu liberal, anda sendiri bagaimana? Apakah anda paham bedanya liberal dengan libertarian?

      • awemany says:

        Saya sudah tuliskan. Tinggal dibantah aja. Apa gunanya ngomong langit biru, matahari kuning, mau jadi penyair?

      • kumbaya says:

        1. Di Perancis, yang punya semboyan “liberte, egalite,fraternite”, semua identitas keagamaan dilarang tampil di institusi negara termasuk sekolah…terus gimana nasib yang make jilbab ? Emang jilbab boleh dibongkar pasang ? ( jangan lupa ya… tidak semua muslim imigran lho… ada juga yg asli Perancis… jadi gak bisa dibilang “Balik sono ke Maroko !”). Itu berlaku dari sebelum musim ISIS/terorisme lho…
        2. Di Kanada, pendeta yang menolak pernikahan sesama jenis bisa dipidana. Lho ? pernikahan bukannya ajaran agama ya… ya harus ikut ketentuan agama dong, jangan maksa…
        3. Di Indonesia, para self proclaimed liberal (JIL) sibuk meng halal-halal kan yang jelas-jelas haram menurut agama, dengan dalil-dalil yang diputarbalikkan, selain itu mereka rajin menyinyiri jenggot, jilbab, dan simbol2 ke-Islaman lainnya, termasuk memihak Israel dalam konflik Palestina just to annoy kaum yang mereka sebut “Islamis”.
        4. Di Indonesia, PDIP (bukan liberal sih, tapi sering ditebengi kaum liberal..) secara konsisten menolak pembahasan RUU yang berhubungan dengan ke-Islaman misalnya : UU Pendidikan mereka walk out, UU Bank Syariah, UU Ekonomi Syariah mereka tidak setuju, UU Pornografi juga mereka tidak setuju, bahkan UU Jaminan Produk Halal untuk makanan dan obat-obatan mereka juga tidak setuju…aneh…
        5. Di Mesir, kaum liberal membonceng As-Sisi untuk mengkudeta pemerintahan Mursi yang sah yang memenangkan Pemilu (walaupun akhirnya mereka dilibas As-Sisi juga sih akhirnya). Seperti biasa, mereka selalu mengaku menjunjung demokrasi, tapi ketika kalah, lawan didongkel dengan kekerasan, alasannya “Hitler juga kan menang Pemilu..”

        Nah, bagaimana ? Masih harus percaya kalau liberal tidak punya tendensi anti agama ?

      • awemany says:

        1. Pelarangan identitas keagamaan itu bukan dari pemikiran liberalnya, namun dari secular yg khas perancis. Namanya, Laicité. Belajar lagi.
        2. Masalah pidana di AS dan Kanada untuk pendeta yg menolak, itu ada dalam sistem hukum mereka. Mereka dihukum karena menolak menjalankan undang”.
        3. Saya ngga ada urusan dengan JIL. Dan ngga ada dalam paham liberal untuk mengubah penafsiran agama. Concern paham liberal hanya dalam mengatur kehidupan bermasyarakat.
        4. Saya juga ngga punya urusan dengan PDIP. Tapi sepanjang RUU yg diajukan bertentangan dengan semangat liberalisme dan keberagaman saya mendukung semua usaha untuk meniadakannya.
        5. Kalau mursi ingin mengubah konstitusi, ya tentara akan menghalangi. Sudah kewajiban tentara. Ngga perlu bawa” liberal di situ. Paham?

  2. Bregas says:

    Salam kenal, Oum Awe.

    Senang rasanya selalu melihat wajah-wajah baru dari liberalisme di Indonesia.

    Saya mau komentar untuk dua hal saja dari tulisan oum yang ini. Yang pertama tentang pasar bebas dan kapitalisme dan yang kedua tentang masalah agama dan ideologi yang sedikit disinggung.

    Menurut saya upaya oum membahas pasar bebas dan kapitalisme secara terpisah harus diapresiasi. Kedua istilah ini selalu dianggap jadi satu paket yang tidak terpisah. Seharusnya kita juga lebih cermat dalam menjelaskan apa itu pasar bebas dan apa itu kapitalisme (istilah yang lahir kurang lebih setelah Marx menelurkan gagasannya). Namun saya penasaran tentang pandangan lebih jauh oum sendiri tentang ini. Pemisahan pasar bebas dan kapitalisme biasanya dilakukan oleh pemikir-pemikir libertarian kiri, yang pemikirannya berdiri di atas fondasi Austro-libertarianisme, anarkisme, dan inspirasi dari kiri. Sekali lagi, ini titik penting bagi pemikir liberal untuk memperjelas kata yang maknanya sudah mulai kabur.

    Perihal ideologi dan agama, terhadap komunisme oum menulis:

    “Berlainan dengan komunis yang nyata nyata beranggapan bahwa agama adalah candu, kaum liberal menjunjung tinggi keberadaan agama.”

    Saya kurang sepakat tentang bagaimana oum seolah-olah membajak dan meramu ulang sabda Orde Baru sebagai argumen untuk liberalisme. Di sini, menurut saya, kita harus hati-hati dalam menggunakan istilah “agama adalah candu”, lebih-lebih karena dituliskan sendiri oleh Marx. Sebagai pemikir liberal, kita harus bisa mempersembahkan pemikiran lain dengan objektif, sehingga debat pun bisa menjadi lebih rasional.

    Pada kenyataannya, “candu” tidak dituliskan dengan prasangka buruk. Berikut adalah kutipan lengkapnya:

    “Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.” [Sumber:https://www.marxists.org/archive/marx/works/1843/critique-hpr/intro.htm%5D

    Dari kutipan di atas, istilah “agama adalah candu” tidak bertujuan untuk mengatakan agama itu sendiri, dan para pengikutnya, adalah gerombolang pesakitan. Saat orang-orang hidup dalam dunia fana yang menindas dan sesak, agama berfungsi sebagai candu agar mereka dapat terus bertahan hidup; agama menjadi alat sensor kognitif bagi orang tertindas. Demikianlah Marx melihat keadaan agama pada saat dia hidup.

    Meskipun memang betul bahwa rezim komunis (Stalinis, Marxis-Leninis, Maois dsb) memiliki sikap keras terhadap agama, ini tidak berarti keseluruhan tradisi pemikiran kiri lainnya juga bersikap sama. Tan Malaka, sebagai contoh, menyerukan kerjasama komunisme dengan Pan-Islamisme saat hadir dalam kongres di Uni Soviet. Menurutnya, Islam dianut oleh banyak orang-orang tertindas di daerah kolonial, sehingga bila berdampingan dengan komunisme, pasti kuatlah revolusi yang nantinya akan lahir.

    Saya harap komentar yang kedua ini dapat menyudahi penggunaan atau tuduhan pemikiran kiri yang “menyamakan agama dengan narkoba” seperti yang dipakai oleh Orde Baru.

    Itu semua yang bisa saya tuliskan di sini.

    Sekali lagi, salam kenal.

  3. Salam kenal, Oum Awe.

    Senang rasanya selalu melihat wajah-wajah baru dari liberalisme di Indonesia.

    Saya mau komentar untuk dua hal saja dari tulisan oum yang ini. Yang pertama tentang pasar bebas dan kapitalisme dan yang kedua tentang masalah agama dan ideologi yang sedikit disinggung.

    Menurut saya upaya oum membahas pasar bebas dan kapitalisme secara terpisah harus diapresiasi. Kedua istilah ini selalu dianggap jadi satu paket yang tidak terpisah. Seharusnya kita juga lebih cermat dalam menjelaskan apa itu pasar bebas dan apa itu kapitalisme (istilah yang lahir kurang lebih setelah Marx menelurkan gagasannya). Namun saya penasaran tentang pandangan lebih jauh oum sendiri tentang ini. Pemisahan pasar bebas dan kapitalisme biasanya dilakukan oleh pemikir-pemikir libertarian kiri, yang pemikirannya berdiri di atas fondasi Austro-libertarianisme, anarkisme, dan inspirasi dari kiri. Sekali lagi, ini titik penting bagi pemikir liberal untuk memperjelas kata yang maknanya sudah mulai kabur.

    Perihal ideologi dan agama, terhadap komunisme oum menulis:

    “Berlainan dengan komunis yang nyata nyata beranggapan bahwa agama adalah candu, kaum liberal menjunjung tinggi keberadaan agama.”

    Saya kurang sepakat tentang bagaimana oum seolah-olah membajak dan meramu ulang sabda Orde Baru sebagai argumen untuk liberalisme. Di sini, menurut saya, kita harus hati-hati dalam menggunakan istilah “agama adalah candu”, lebih-lebih karena dituliskan sendiri oleh Marx. Sebagai pemikir liberal, kita harus bisa mempersembahkan pemikiran lain dengan objektif, sehingga debat pun bisa menjadi lebih rasional.

    Pada kenyataannya, “candu” tidak dituliskan dengan prasangka buruk. Berikut adalah kutipan lengkapnya:

    “Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.” [Sumber:https://www.marxists.org/archive/marx/works/1843/critique-hpr/intro.htm%5D

    Dari kutipan di atas, istilah “agama adalah candu” tidak bertujuan untuk mengatakan agama itu sendiri, dan para pengikutnya, adalah gerombolang pesakitan. Saat orang-orang hidup dalam dunia fana yang menindas dan sesak, agama berfungsi sebagai candu agar mereka dapat terus bertahan hidup; agama menjadi alat sensor kognitif bagi orang tertindas. Demikianlah Marx melihat keadaan agama pada saat dia hidup.

    Meskipun memang betul bahwa rezim komunis (Stalinis, Marxis-Leninis, Maois dsb) memiliki sikap keras terhadap agama, ini tidak berarti keseluruhan tradisi pemikiran kiri lainnya juga bersikap sama. Tan Malaka, sebagai contoh, menyerukan kerjasama komunisme dengan Pan-Islamisme saat hadir dalam kongres di Uni Soviet. Menurutnya, Islam dianut oleh banyak orang-orang tertindas di daerah kolonial, sehingga bila berdampingan dengan komunisme, pasti kuatlah revolusi yang nantinya akan lahir.

    Saya harap komentar yang kedua ini dapat menyudahi penggunaan atau tuduhan pemikiran kiri yang “menyamakan agama dengan narkoba” seperti yang dipakai oleh Orde Baru.

    Itu semua yang bisa saya tuliskan di sini.

    Sekali lagi, salam kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s